Pola Pikir yang Menentukan Kualitas Diri

Pola Pikir

Pola Pikir yang Menentukan Kualitas Diri

Ada sebuah kisah seorang staf muda di salah satu perusahan. Ia bekerja di bagian promosi produk pakaian dalam wanita. Suatu ketika, ia diminta pimpinan untuk melakukan survei pasar di lokasi suku pedalaman. Hal ini bertujuan untuk melihat kemungkinan ekspansi pasar di sana. Pada hari pertama di lokasi survei, ia merasa frustasi lantaran tidak semua suku pedalaman menggunakan pakaian, apalagi menggunakan pakaian dalam. “Tidak mungkin melakukan ekspansi ke tempat ini!” katanya. Lalu ia pulang ke kantor pusat tanpa membawa hasil yang memuaskan.

Pimpinan tidak percaya dan mengirimkan satu staf lain untuk mencari pendapat kedua. Setibanya di lokasi, staf muda kedua langsung terperangah menyaksikan ada banyak wanita suku pedalaman. “Ini kesempatan emas, justru melalui ekspansi pasar, itu akan membuat mereka semakin beradab!” katanya dengan penuh optimis dan percaya diri. Ia segera menghubungi kantor pusat, menginformasikan ada ladang baru yang harus dikerjakan.

Dua orang berbeda, dari perusahaan yang sama dan melihat situasi yang sama. Staf pertama pesimis, sedangkan staf kedua bersikap optimis. Perubahan situasi pasar dan lingkungan bisnis membuat setiap individu merespon dengan cara yang berbeda.

Baca juga: Hikmah setelah Dua Minggu Nonstop Dengerin Lagu Hati-Hati di Jalan

Pelatihan motivasi yang lazim dilakukan adalah dengan mengambil gelas yang berisi air. Sebagian orang mengatakan gelas itu setengah kosong dan sebagian lagi melihat gelas tersebut masih berisi. Jika melihat “kebenaran” berdasarkan fakta, kedua jawaban tersebut benar. Dibalik itu semua, yang menarik adalah cara pandangnya. Coba perhatikan dengan seksama, mereka mengatakan gelas tersebut setengah kosong dan mengilustrasikan dengan cara pandang yang pesimis, sedangkan yang lain melihat gelas yang masih terisi air, bahkan mengatakan “masih ada setengah lagi!”, mengilustrasikan dengan cara pandang positif.

Ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB dan kita diminta untuk melakukan pekerjaan tertentu, sebagian orang bisa saja mengatakan, “Ah, tanggunglah, besok saja. Sebentar lagi juga pulang!”

Sebagian yang lain justru mengatakan sebaliknya, “Mari saya kerjakan, mumpung masih ada waktu 15 menit. Besok kita punya pekerjaan lain!” Dengan waktu yang sama, tetapi cara kita memandang dan bersikap terhadap sisa waktu 15 menit tersebut tentu berbeda-beda.

Dari sisi bisnis, tentu setiap orang dapat melihat dengan cara pandang yang berbeda terhadap situasi yang melanda perusahaan. Perkembangan perusahaan bisa bertahan (survive) dan bertumbuh (growth) atau tidak tergantung bagaimana karyawan memandangnya.

Dalam kehidupan antar pegawai pun demikian. Cara kita memandang orang lain akan mempengaruhi bagaimana hubungan kita dengan orang tersebut selanjutnya. Ada yang berkutat pada sisi negatif orang lain dibandingkan potensi-potensi yang masih dimiliki. Masih ada juga segelintir orang yang suka menceritakan “gelas kosong” orang lain daripada “gelas isi” darinya. Para ahli mengatakan bahwa cara pandang ini sangat besar dipengaruhi oleh apa yang masuk melalui pikiran. Menariknya, cara pandang tidak ada hubungannya dengan gelar yang disandang, pangkat, jabatan, serta kekayaan seseorang, tetapi tergantung dari kualitas mental seseorang.

Bagaimana “gelas” keluarga kita saat ini, bagaimana “gelas” perjalanan karier salama menatapi jalan-jalan menuju kantor, bagaimana pula “gelas” perusahaan dalam perkembangan terakhir. Semua tentu tidak penuh dan pasti ada bagian kosong. Satu langkah yang penting untuk melaluinya adalah dengan memaknainya dari sisi yang masih terisi. Melalui pemaknaan, kita akan mampu berbuat kreatif dan berbuat banyak bagi perusahaan, keluarga, dan diri sendiri.

Seperti ungkapan John Westley, “Lakukan yang terbaik yang bisa anda lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apapun, di mana pun, kapan pun, kepada siapa pun, sampai Anda tidak bisa melakukannya.”

Begitulah kiranya pola pikir yang menentukan kualitas diri seseorang. Semoga bermanfaat bagi kita semua, terima kasih.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Aulia Diar Rahman, seorang manusia biasa yang tinggal dipinggir kota Sidoarjo, pernah menempuh pendidikan disalah satu universitas negeri di Kota Pahlawan.

Artikel dari Penulis