Orang Desa Sudah Tau Investasi Sejak Lama

Orang Desa Sudah Tahu Investasi Sejak Lama

Orang Desa Sudah Tau Investasi Sejak Lama – Investasi, satu kata yang beberapa tahun belakangan sedang hype pada industri keuangan atau pembahasan ekonomi di Indonesia. Bahkan, saking hype-nya investasi, istilah tersebut dapat sedikit mengusik kegiatan menabung, salah satu kebutuhan utama ketika kita datang ke bank. 

Hype investasi turut membuat masyarakat umum mulai mengenal berbagai jenis produk investasi. Mulai dari produk investasi yang terpercaya di lembaga keuangan, seperti deposito, reksadana, dan saham, hingga investasi yang ngapusi dengan kedok trading. Seperti yang ditawarkan oleh Indra Kenz dan Doni Salmanan. 

Seiring dengan meningkatnya hype dan pengetahuan masyarakat terkait investasi, hal ini memicu menjamurnya berbagai aplikasi yang menawarkan jasa sebagai tempat investasi. Beberapa di antaranya sudah ada yang mendapatkan izin dari OJK, seperti Bibit dan Aladin.

Dewasa ini, investasi memang erat hubungannya dengan produk dan lembaga keuangan. Oleh karena itu, OJK melakukan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2022. Ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan dan penggunaan produk lembaga keuangan di masyarakat Indonesia. 

Hasil survei tersebut menunjukan bahwa indeks literasi keuangan berdasarkan wilayah, yaitu daerah perkotaan sebesar 50,52 persen dan pedesaan 48,43 persen. Sedangkan indeks inklusi keuangan di perkotaan sejumlah 86,73 persen dan pedesaan 82,69 persen saja. 

Dari dua data di atas, kita jadi tahu bahwa indeks literasi dan inklusi keuangan (termasuk investasi) masyarakat pada daerah pedesaan sedikit lebih rendah ketimbang masyarakat yang tinggal di perkotaan. Sehingga, tak heran jika pemerintah jadi gencar melaksanakan edukasi dan sosialisasi investasi pada pasar modal yang dilaksanakan di pedesaan.

Misalnya, OJK di berbagai kantor regional mulai menggiatkan edukasi dan sosialisasi investasi di pasar modal di beberapa desa. Sebagai regulator jasa keuangan, OJK memang harus ambil peran untuk melakukan hal tersebut supaya tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat desa naik.

Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) pada beberapa kantor perwakilan juga turut memberikan edukasi dan sosialisasi saham atau reksadana di berbagai desa. Bahkan, BEI telah mencanangkan program Kampung Intan di berbagai daerah. Kampung Intan adalah kampung yang bebas kemiskinan, peduli kesehatan, serta lingkungan melalui pemberdayaan anak muda dan perempuan untuk berinvestasi pada pasar modal.

Sebagai orang yang sekarang tinggal di daerah yang terpencil dan pedesaan, jujur saya senang-senang saja kalau pemerintah memberikan perhatian lebih kepada desa dan masyarakatnya. Hanya saja, yang saya sayangkan adalah pemerintah hanya berfokus pada edukasi dan sosialisasi investasi pada pasar modal di desa-desa.

Seolah investasi pasar modal sangat penting dan mendesak untuk diketahui oleh masyarakat desa. Padahal, tujuan akhir investasi sebenarnya bukan untuk berinvestasi di pasar modal, melainkan mendapatkan imbal hasil yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan di masa yang akan datang.

Jadi sebenarnya, yang kurang tepat saat ini adalah stereotip investasi harus di pasar modal. Menurut teman saya yang bekerja di sekuritas, investasi itu boleh di mana saja, asal di tempat-tempat yang kamu ketahui dan pahami. Jadi, taruhlah uangmu pada instrumen investasi yang paling kamu mengerti. Enggak selalu harus di pasar modal, trading, atau bursa berjangka.

Lantas, apa saja instrumen investasi yang paling masyarakat desa pahami saat ini? Ya, banyak dong. Misalnya, ada sebagian besar ibu-ibu di desa yang mempunyai emas. Barang tersebut enggak cuma untuk dipamerkan ke tetangga. Emas tersebut dapat dijual untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya di masa yang akan datang. 

Enggak hanya itu saja, ada orang desa yang menanam pohon jati di tanahnya. Itu bentuk investasi juga. loh. Pasalnya, jangka waktu masa tanam pohon jati bisa sampai 30 hingga 40 tahun. Tentu yang menikmati hasilnya bukan orang yang menanam, melainkan anak dan cucunya.

Oleh karena itu, melalui OJK dan BEI, pemerintah sebaiknya enggak perlu terlalu effort lebih untuk mengajarkan investasi yang cukup sulit dipahami oleh masyarakat desa. Karena sebenarnya masyarakat desa sudah sejak lama berinvestasi, dengan beberapa bentuk investasi yang berbeda dengan investasi yang ngetren saat ini. Hanya saja, masyarakat desa sedikit kurang mengerti istilah investasi itu sendiri.

Saran saya, sebaiknya pemerintah lebih fokus untuk melakukan edukasi dan sosialisasi pencegahan investasi ilegal di desa-desa. Sebab saat ini, investasi ilegal sudah mengincar daerah pedesaan. Dan pelaku investasi ilegal kerap menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh agama yang berpengaruh di desa tersebut agar masyarakat desa percaya dan ikut berinvestasi ilegal.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Pencerita Negeri Sipil.

Artikel dari Penulis