Mengenal Work Life Trampoline, Lawan dari Work Life Balance

Mengenal Work Life Trampoline

Mengenal Work Life Trampoline, Lawan dari Work Life BalanceWork life balance adalah istilah yang enggak asing di telinga kita saat ini, khususnya bagi para pekerja di daerah perkotaan. Seiring dengan populernya istilah tersebut, semakin banyak pula pekerja yang mengutamakan work life balance.

Definisi work life balance menurut saya pribadi adalah kecakapan seseorang untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupannya (hal-hal di luar pekerjaan). Misal selama weekdays pekerja melaksanakan tugas kantornya dengan baik, saat weekend pekerja bisa mengurus kehidupannya secara lebih optimal. Misalnya liburan bersama keluarga.

Akan tetapi, tahukah kamu kalau work life balance itu ada lawannya?

Lawannya adalah work life trampoline. Istilah tersebut sepertinya dipopulerkan oleh Pandji Pragiwaksono. Iya, Pandji yang komika itu, loh.

Berikut beberapa hal terkait work life trampoline.

  1. Enggak memisahkan kehidupan dengan pekerjaan

Tujuan adanya work life balance adalah menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan supaya enggak ada yang berat sebelah dan menghindari stres dalam pekerjaan atau terlalu berlebihan mengurus kehidupan, seperti liburan atau main.

Ini berbeda dengan work life trampoline. Prinsip utamanya adalah tidak memisahkan hidup dengan pekerjaan. Pekerjaan merupakan bagian dari hidup yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

  1. Pekerjaan dan kehidupan itu naik turun, bukan seimbang

Menurut Pandji, pekerjaan dan kehidupan itu enggak pernah bisa seimbang. Alasannya, pekerjaan dilakukan dalam lima hari kerja, sedangkan fokus mengurus hidup cuma bisa dilakukan dua hari saja. Enggak seimbang, ‘kan?

Sedangkan prinsip work life trampoline enggak seperti itu. Pekerjaan dan kehidupan enggak harus seimbang karena sudah menyatu. Pekerjaan dan kehidupan itu naik turun, layaknya orang yang sedang bermain trampolin.

  1. Siap menghadapi hari senin

Mungkin kamu pernah mendengar istilah I Hate Monday, istilah yang biasa pekerja pakai untuk menyambut hari Senin. Menurut saya, orang yang menggunakan istilah tersebut bukan enggak suka hari Senin. Sebenarnya, mereka itu enggak suka pekerjaannya, bukan hari Senin-nya. Buktinya, kalau hari Senin bertepatan dengan tanggal merah, mereka senang-senang saja, enggak ada masalah.

Orang yang menerapkan work life trampoline enggak bakal benci Senin. Sebab pekerjaan merupakan bagian dari hidupnya, yang wajib dijalani setiap hari. Kalau enggak dijalani, malah ada sesuatu yang kurang.

  1. Kerja membuat orang merasa lebih hidup

Pernah mendengar istilah zombie worker? Ini enggak ada kaitannya dengan film zombi luar negeri, ya. Zombie worker itu semacam pekerja yang lesu dan kurang gairah ketika bekerja. Mungkin karena pekerjaannya yang enggak sesuai passion atau memang beban kerjanya terlalu banyak.

Untungnya, penganut prinsip work life trampoline kemungkinan kecil mengalami hal tersebut. Karena dengan bekerja, mereka merasa lebih hidup. Selalu bergairah ketika bekerja. Sebab, mereka mencintai hidupnya, termasuk pekerjaan di dalamnya.

  1. Bahagia dengan pekerjaan

Saya rasa ini merupakan prinsip utama dan pertama work life trampoline. Mencari profesi yang membuat pekerja bahagia. Yang capeknya bikin pekerja senang. Bukan bikin sambat atau sebel.

Sayangnya, prinsip ini cuma mudah secara teori, dan sangat sulit untuk dilakukan. Ada banyak orang yang bertahan dalam pekerjaan cuma karena uangnya saja. Karena pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya enggak cukup untuk menghidupinya, pekerja terpaksa melakukan pekerjaan tersebut. 

Saya enggak bisa menghakimi kondisi seperti itu. Namun, sebaiknya tetap sedikit-sedikit menyukai profesi yang sedang ditekuni. Setidaknya, ketika bekerja, isinya enggak cuma sambat sambil berusaha mencari pekerjaan yang disukai atau membangun karir yang dicintai.

Begitulah beberapa prinsip dasar work life trampoline yang saya ketahui. Memang istilah tersebut terkesan fafifu wasweswos ala motivator doang. Akan tetapi, setelah didalami, ada beberapa aspek yang saya sepakati.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Salman Al Farisi

Bagikan di:
Pencerita Negeri Sipil.

Artikel dari Penulis