Biografi Osamu Dazai, Seorang Sastrawan Sekaligus Pecandu Bunuh Diri

Biografi Osamu Dazai

Biografi Osamu Dazai, Seorang Sastrawan Sekaligus Pecandu Bunuh Diri – Osamu Dazai (太宰 治, Dazai Osamu) adalah salah satu sastrawan Jepang yang paling populer. Di antara karyanya yang kerap berupa cerita pendek, novel, dan naskah sandiwara, Dazai paling dikenal akan novelnya yang berjudul Ningen Shikkaku, atau Gagal Menjadi Manusia dalam Bahasa Indonesia atau No Longer Human dalam Bahasa Inggris.

Kehidupan Awal

Bernama asli Tsushima Shuji, Osamu Dazai lahir di Desa Kanagi, Prefektur Aomori pada tanggal 19 Juni 1909. Sebagai anak ke-10 dari 11 bersaudara dari pasangan Tsushima Gen’emon dan Tane, Shuji memiliki kehidupan yang terbilang cukup. Keluarga Tsushima adalah petani kaya di desa Kanagi yang telah mewariskan usaha mereka pada putri sulung mereka, Tane, yang dinikahkan dengan Matsuki Eizaburo (Gen’emon). Dengan kelas sosial yang cukup terpandang ini, ayah Shuji sempat berkancah di politik sebagai anggota parlemen prefektur, kemudian terpilih sebagai anggota Parlemen Jepang dalam Periode Shoji (1912-1923).

Karena anggota legislatif harus bertempat tinggal di Tokyo, Shuji diasuh oleh bibinya yang bernama Kiye dan gadis pelayan bernama Take, alih-alih oleh Gen’emon dan Tane. Take-lah yang mengajari Shuji membaca dan menulis. Ketika Shuji berusia enam tahun, Kiye dan Take harus meninggalkan kediaman Tsushima untuk kepentingan pribadi.

Masa Pendidikan

Saat Shuji menginjak usia tiga belas tahun, ayahnya meninggal. Ia lalu harus meninggalkan Kanagi untuk bersekolah di sekolah menengah Aomori. Sejak muda, Shuji sudah menunjukkan bakat dan minat yang besar terhadap sastra dan karya seni lainnya. Ia kerap menulis dan berkutat dengan teater amatir bersama saudara-saudaranya, hingga menerbitkan karya pertamanya yang berjudul Saigō no Taikō di majalah Seiza pada tahun 1925. Berikutnya, Shuji dan saudaranya semakin sering berkontribusi dalam majalah terbitan sekolah dan majalah-majalah lainnya.

Baca juga: Biografi Elizabeth Barrett Browning, Penyair Wanita dari Inggris

Di jenjang SMA, Kampus Hirosaki, Shuji semakin menunjukkan prestasi yang baik terutama dalam kepenulisan. Akan tetapi, saat ia berusia delapan belas tahun, sikap Shuji mengalami perubahan. Pada bulan Juli tahun 1927, penulis idolanya, Ryūnosuke Akutagawa meninggal dunia karena bunuh diri. Tragedi ini pun berdampak pada diri Shuji yang menyebabkan ia mengabaikan sekolahnya dan mulai terlibat dalam prostitusi, alkohol, dan aktivisme sayap kiri. Meskipun begitu, laki-laki yang juga dikenal akan kemampuan menulisnya dalam Bahasa Inggris ini tetap menulis untuk dimuat di majalah-majalah indie seperti Saibō Bungei. Sayangnya, keadaan mental Shuji tampaknya tidak kunjung membaik setelah kematian Akutagawa. Pada 10 Desember 1929, ia mencoba bunuh diri untuk pertama kali dengan menenggak obat tidur karena takut tidak naik kelas. Untungnya, dirinya selamat dan berhasil menyelesaikan studinya.

Pada tahun 1930, Shuji melanjutkan studinya ke bidang Sastra Perancis di Universitas Kekaisaran Tokyo, atau yang sekarang dikenal sebagai Universitas Tokyo. Tak lama setelah itu, ia mencoba melakukan bunuh diri lagi, kali ini dengan menenggelamkan diri ke laut dengan seorang wanita bernama Shimeko Tanabe yang ditemuinya di bar. Sayangnya, hanya Shuji yang terselamatkan. Masih dalam tahun yang sama, Shuji bertemu dengan seorang geisha bernama Oyama Hatsuyo, kemudian menikah dengannya.

Karir Menulis

Menginjak umur 21 tahun dan setelah menikah, Shuji memulai karirnya sebagai penulis dengan Masuji Ibuse sebagai mentor. Sejak inilah nama pena Osamu Dazai digunakan. Dengan nama pena baru ini, Dazai berhasil menerbitkan karyanya berupa cerita pendek yang berjudul Ressha dalam koran Sunday Tō-ō pada tahun 1933. Karya berikutnya yang berdampak secara signifikan terhadap karirnya adalah Gyakkō, cerita pendek pertama Dazai yang akhirnya tidak lagi hanya dimuat dalam majalah indie, namun majalah sastra Bungei. Pencapaian ini juga berhasil mendapatkan nominasi dalam Penghargaan Akutagawa bagi Gyakkō, meskipun tidak menang.

Pada tahun 1935, setelah ia mencoba menggantung diri setelah gagal ujian masuk penerimaan pegawai, Dazai bertemu Haruo Satō, yang kemudian menjadi mentornya. Di bawah bimbingan Haruo dan usaha mengobati kecanduan obat, Dazai akhirnya menerbitkan debut kumpulan cerpennya yang berjudul Bannen pada tahun 1936 dan menerbitkan beberapa judul lainnya pada tahun 1937. Ketika baru saja semuanya terlihat membaik, Hatsuyo, istri Dazai, berselingkuh darinya dengan seorang pelukis.  Dazai kemudian mengajak sang mantan geisha untuk bunuh diri lagi dengan obat tidur, tetapi keduanya selamat. Hasilnya, Dazai berhenti menulis selama setahun dan pernikahan itupun berakhir secara resmi.

Setelah setahun mogok menulis, Dazai diajak mentor lamanya, Masuji Ibuse untuk mengunjungi Puncak Misaka di Prefektur Yamanashi. Di Misaka, Ibuse menjodohkan Dazai dengan Michiko. Mereka bertunangan, lalu menikah pada 8 Januari 1939.

Pada bulan Maret, Dazai menulis Ogon Fukei (Golden Landscape) dan memenangkan penghargaan sebesar 50 yen di Kokumin Shinbun (Nations News). Pada musim gugur di tahun yang sama, Dazai menerima Kitamura Tokoku Award untuk karyanya yang berjudul Joseito (Schoolgirl).

Pada tahun-tahun berikutnya, Dazai terus menulis dan menerbitkan berbagai judul karya yang didominasi oleh cerpen. Karya-karya itu terinspirasi dari kesehariannya. Contohnya pada bulan Juli 1940, Dazai melakukan perjalanan ke Izu untuk menulis Tokyo Hakkei (Eight Views of Tokyo) dan diterbitkan pada tahun 1941. Kemudian pada Februari tahun 1941, ia pergi ke Shizuoka untuk menulis Shin Hamuretto (A New Hamlet). Kemudian ada Kikyorai yang ditulis sekembalinya Dazai dari mengunjungi ibunya yang sakit pada Oktober 1942. Pada bulan Desember, Tena meninggal.

Pada tahun 1943, karya Dazai yang berjudul Fugaku Hyakkei (One Hundred Views of Mount Fuji) mendapat penghargaan Showa Meisaku Senshu (Karya Sastra Terbaik dalam Era Showa) oleh Shinchousha. Pada Januari 1944 Dazai menerima permintaan dari produser Toho Film, Yamashita Ryozo, untuk mengangkat karyanya yang berjudul Kajitsu (Happy Day) sebagai sebuah film yang berjudul Yottsu no Kekkon (Four Marriages).

Tahun 1940-an, yang juga tahun-tahun pernikahannya dengan Michiko, bisa juga disebut masa kejayaan Dazai. Ia begitu aktif dalam dunia literasi dan terus menerbitkan karya di tengah Perang Dunia II yang sedang berlangsung saat itu. Selain menulis, Dazai juga mengajar di sekolah lamanya, SMP Aomori, serta menghadiri berbagai pertemuan dan lokakarya bersama komunitas literasi.

Adiksi, Perselingkuhan, dan Bunuh Diri

Meski semuanya terlihat gemilang, semua itu mulai retak sejak Februari 1947. Pada waktu itu, Dazai pergi ke Shimo Soga di Izu untuk menghabiskan waktunya bersama Ota Shizuko, kenalannya selama bertahun-tahun dan mulai menulis Shayo (The Setting Sun/Matahari Terbenam) dengan Shizuko sebagai inspirasi untuk karakternya. Sekembalinya dari Izu, dia menyewa sebuah kamar di atas sebuah restoran yang berlokasi di dekat stasiun Mitaka dan bertemu dengan seorang wanita bernama Yamazaki Tomie. Meskipun ia dan istrinya telah memiliki dua orang anak dan anak ketiganya baru saja lahir, Dazai tetap menjalin hubungan dengan Shizuko dan Tomie.

Hubungan Dazai dan Shizuko tak bertahan lama. Pada 24 Mei 1947, Shizuko menuntut Dazai akan kehamilannya, tetapi Dazai malah memperkenalkannya pada Tomie alih-alih bertanggung jawab akan anak itu.

Pada akhir tahun 1947, kesehatan tubuh dan mental Dazai semakin menurun drastis. Meneruskan kecanduan alkoholnya, Dazai mengalami pendarahan paru-paru dan insomnia. Pada bulan Desember, dia tidak sengaja mengonsumsi obat tidur secara berlebihan dan kesadarannya baru pulih lima hari setelahnya. Pada bulan Febuari 1948, adik perempuan dari istri Dazai, Michiko, meninggal dunia. Ketika Michiko pergi untuk menghadiri pemakaman adik perempuannya, Dazai membawa Tomie ke kediaman mereka. Perselingkuhannya akhirnya diketahui oleh Michiko. Pada bulan yang sama, Dazai juga menyelesaikan karyanya yang paling tenar, Ningen Shikkaku (No Longer Human/Gagal Menjadi Manusia).

Tanggal 13 Juni 1948, Dazai menghilang dengan meninggalkan surat untuk kerabat dan teman-temannya. Enam hari kemudian, sang penulis ditemukan bersama Yamazaki Tomie dalam kondisi tenggelam tak bernyawa di kanal Tamagawa.

Referensi:

Lyons, P. I., & Dazai, O. (1985). The saga of Dazai Osamu: A critical study with translations. Stanford University Press.

Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Pembaca akut yang masih belajar menulis sementara berkutat dengan Shakespeare dan kawan-kawan di kampus. Goodreads: usagii.

Artikel dari Penulis