Yang Maha Pengasih

Yang Maha Pengasih

Yang Maha Pengasih – Pengasih dalam bahasa Inggris disebut loving akar kata dari love yang berarti cinta, cinta itu merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih, dan kasih sayang.

Terkadang kita tidak mengerti apa itu cinta, karena kita terlalu sibuk mencintai yang dicinta entah cinta itu untuk siapa. Padahal dari alam semesta dan seluruh dunia adalah milik Dia (Allah) serta ruh dan jiwa kita tercipta dari wujud yang mencintai kita.

Allah itu mencintai hambanya, telah dijelaskan firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat: 7 “Maka sesungguhnya akan (kami) kabarkan kepada mereka (apa-apa yang mereka perbuat), sedang (kami) mengetahui (keadaan mereka), dan kami sekali-kali tidak jauh dari mereka”.

Allah tidak pernah jauh dari hamba-Nya sekalipun hamba-Nya melakukan kejahatan yang dilarang oleh-Nya, bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya tidak pernah sekalipun menjauh, sebaliknya kita yang sering menjauh dari-Nya. Kasih dan sayang cinta Allah telah digambarkan oleh Rasulullah, Rasulullah mengibaratkan jika kasih dan sayang Allah itu berjumlah seratus, dimana yang sembilan puluh sembilan disimpan dan satunya lagi dibagikan kepada hamba-Nya. Satu bagian ini mencukupi seluruh kebutuhan manusia serta menunjukan bahwa betapa luas dan besarnya cinta Allah kepada hamba-Nya.

Telah disinggung sebelumnya bahwa kasih dan sayang Allah berjumlah seratus, sembilan puluh sembilannya adalah nama-nama Allah yang indah. Hanya Allah yang memilki nama-nama paling indah di alam semesta ini dan seharusnya nama Allah harus banyak disebut dalam kehidupan kita, karena tidak ada satu pun dimuka bumi ini yang memiliki atau menyaingi indahnya nama Allah Tuhan Yang Maha Pengasih.

Ketika seorang pemuda mempunyai kekasih, maka kekasihnya itu akan selalu ada jika dia membutuhkan dan betapa banyaknya nama kekasih terucap dari bibir manisnya: “aku tidak bisa hidup tanpamu sayang” atau “kekasihku izinkan aku untuk menjagamu hingga nafas terakhir ini”.

Namun, ketika mereka sedang diguncang suatu permasalahan terdapat kemungkinan akan berpisah, saat berpisah tersebutlah sepasang kekasih menjauh lalu mencari cinta yang baru.

Cinta itu tidak bisa mematikan, cinta itu selalu menghidupkan karena cinta itu selalu menggairahkan jiwa-jiwa yang telah mengembara di dunia. Dalam gairah tersebut, jiwa manusia berkelana mengenali pasangan jiwanya.

Seorang filsuf Yunani yang termasuk kedalam The Gang of Three, yakni Plato pernah berkata bahwa cinta adalah sebuah kekuatan, sebuah penggerak bagi jiwa untuk selalu mengarah pada Sang Idea. Arah tujuan Sang Idea kita adalah Allah, Dia (Allah) bukanlah kekasih kita, Allah adalah pengasih bagi kita bukan kekasih yang jika terdapat masalah lalu menghilang dan pergi.

Ketika kita terdapat masalah Allah selalu ada untuk kita, Allah selalu mengasihi hamba-Nya yang berbuat kejahatan dan kerusakan. Kasih-Nya Allah berbeda jauh dengan kasihnya kekasih atau pasangan hidup kita. Maka, yang berhak mendapatkan cinta kita adalah Allah walaupun Allah tidak memerlukan cinta dari kita.

Namun, jika kita mencintai Allah maka bukan tidak mungkin Allah akan lebih mencintai kita, karena orang yang melakukan seuatu yang dilarang oleh Allah, Allah tetap mencintainya serta tidak pernah menjauh dan pergi dari hamba-Nya.

Cinta itu sangat dibutuhkan oleh manusia, karena dengan cinta manusia merasakan rasa manusiawi. Mencintai dan dicintai adalah rasa manusiawi yang dimiliki manusia, dalam pertemuan antara aku dan kamu terjadi ikatan cinta yang membuat keduanya menjadi “kita”.

Dari cinta kita inilah terkadang manusia memperoleh sifat transenden, yakni persekutuan antar manusia. Ketika seseorang mentransendensi dirinya keluar dari sifat dan kebiasaanya lalu masuk ke dalam suatu sifat dan kebiasaan objek lain (yang dicinta), maka Sang Maha Pengasih terkadang tidak dimasukan ke dalam partisipasi konsep cinta.

Seorang yang terlalu aktif dan masif dalam mencintai objek yang dicintainya terkadang lupa bahwa ada Sang Maha Pengasih yang selalu ada dalam hidupnya. Maka, tidak bisa dipungkiri jika ada seorang yang terlalu larut dalam transedensi tersebut membuat lupa kepada Sang Maha Pengasih dan terus menerus melakukan pencintaan secara berlebihan terhadap objek yang dicintainya.

Pada akhirnya, ketika orang yang dicintainya pergi dan menghilang darinya, ia akan merasa kehilangan dan tidak merasa bahwa ada yang lebih menyayanginya yakni Sang Maha Pengasih. Karena biasanya orang yang ditinggal oleh kekasihnya akan merasakan kegalauan dalam hidupnya, kegalauan tersebut tidak bisa lepas dari dirinya karena dirinya telah mentransendensi sifat dan kebiasaanya.

Permasalahan anak muda saat ini adalah mereka menekankan being loved (dicintai) ketimbang loving (mencintai), karena dengan dicintai oleh seseorang mereka akan merasakan sebuah hidup yang berarti.

Padahal Allah selalu mencintai semua hamba-Nya, namun mengapa ketika sudah ada yang mencintainya yakni Allah, akan tetapi tidak bisa membuat hidupnya menjadi berarti.

Cinta itu membuat kesatuan bukan keterpisahan, Allah tidak pernah menyampaikan ucapan perpisahan kepada ciptaan-Nya dalam firman manapun. Pandangan Sigmund Freud tentang cintapun sama halnya, yakni adanya eros atau insting yang mempertahankan hasrat manusia akan persatuan.

Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka akan mengenal Tuhannya”. Dalam filsafat jawa yang berakar dari pemikiran Syekh Siti Jenar tentang “manunggaling kawulo gusti” yang diadopsi dari pemikiran Ibn Arabi tentang wahdat al-wujud dan pemikiran Al-Hallaj,  bahwa bisa diartikan diri manusia dapat menyatu dan melebur dengan Tuhan Sang Khaliq.

Kita mengenal istilah fana, yakni fana-nya makhluk (yang diciptakan Allah) sebagai yang mencintai kepada Tuhan yang dicintainya. Allah tetap berbeda dengan hamba-Nya, untuk bersatu dengan Allah pun tidak bisa, karena antara pencipta dan yang diciptakan mempunyai jarak serta pemisah.

Namun, bentuk timbal balik cintanya Allah kepada kita harus direspon oleh kita sebagai yang diciptakannya, dengan mencintai kembali yang menciptakan kita. Hal ini, menunjukan bahwa akan terjadi keakraban makhluk dan Khaliqnya.

Allah Yang Maha Pengasih selalu memberi apa yang kita mau, apa yang kita pinta, apa yang kita harapkan, dan apa yang kita inginkan. Ketika kita meminta kepada seorang yang dicinta perlu adanya pengorbanan, begitu juga jika kita mempunyai permintaan kepada Allah, maka kita harus bersedia melakukan pengorbanan dengan bentuk menjauhi larangan-Nya dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Jika ada orang yang terus meminta kepada Allah, namun Allah belum memberikannya bukan berarti Yang Maha Pengasih itu menghilang. Namun,  Allah hanya memberikan kasih-Nya sesuai rencana-Nya. Dalam salah satu hadist dikatakan bahwa “Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi tidak memberikan kesadaran beragama, kecuali kepada yang Dia cintai. Maka barang siapa diberikan kesadaran beragama oleh Allah, berarti ia dicintai oleh-Nya”. (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan julukan si musafir yang sedang berjalan di kefanaan dunia.

Artikel dari Penulis