Corak Bahasa Jaksel

Corak Bahasa Jaksel

Corak Bahasa Jaksel

Tidak dapat dimungkiri bahwa fenomena perkembangan bahasa dipengaruhi oleh pola tingkah laku atau kebiasaan yang ada di masyarakat. Masyarakat cenderung memiliki karakteristik plural sehingga terdapat corak keragaman latar belakang dan budaya.

Hal tersebut membawa dampak terhadap cara sosialisasi tiap individu, karena tiap-tiap individu memiliki referensi dan latar belakang yang berbeda. Terlebih lagi kebiasaan masyarakat juga dipengaruhi oleh aspek-aspek lain, seperti tren, budaya, film, lagu, dan budaya luar sehingga menghasilkan proses akulturasi. Akulturasi tersebut memengaruhi pola kebiasaan di suatu wilayah atau masyarakat dan menimbulkan corak khas tersendiri bagi wilayah tersebut, salah satunya adalah kebiasaan dalam berbahasa.

Baca juga: Biografi Osamu Dazai, Seorang Sastrawan Sekaligus Pecandu Bunuh Diri

Lebih spesifik lagi, fenomena akulturasi bahasa yang kini marak diperbincangkan itu terdapat di wilayah Jakarta Selatan. Orang-orang lazim menyebutnya sebagai “Bahasa Jaksel”, di wilayah ini setidaknya terdapat tiga pola kebiasaan yang menjadi corak khas Bahasa Jaksel, yaitu:

  • Akronimisasi

Di Jaksel, terdapat penggunaan akronimisasi bahasa sehari-hari untuk memudahkan dalam berkomunikasi. Salah satu teman dari Jakarta Selatan kerap menyebutkan istilah sehari-hari menggunakan akronim, seperti “manjiw (mantap jiwa)”, “mantul (mantap betul), “ygy”, dll. Penggunaan akronimisasi “Bahasa Jaksel” sebenarnya tidak hanya terpaku di wilayah Jakarta Selatan, kini banyak anak-anak muda dari daerah lain yang menggunakan kosakata ala Jaksel untuk komunikasi sehari-hari.

Baca juga: Keunikan Bahasa Terkadang Rentan Menimbulkan Salah Paham

  • Campuran

Kalau yang satu ini pasti sudah menjadi ciri khas Bahasa Jaksel, yaitu bahasa campuran atau bahasa gado-gado. Tatanan sosial yang ada di Jakarta Selatan memengaruhi penggunaan bahasa ini, karena mayoritas masyarakat Jakarta Selatan merupakan kaum menengah ke atas. Hal tersebut berdampak pada lingkungan dan kebiasaan mereka, salah satunya penggunaan bahasa campuran, seperti mencampur aduk bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Contoh kecilnya bisa ditemui ketika rapat (meeting) kantoran ala Jaksel. Pasti terdapat istilah-istilah Bahasa Inggris yang terselip saat pemaparan dalam meeting, seperti: “because literally kita memang butuh program-program yang support untuk culture improvement, karena sometimes departemen kita ini memang lack of teamwork”.

  • Bahasa Terbalik

Membolak-balikkan kata melalui huruf disebut sebagai metatesis bahasa, yaitu merubah letak huruf atau suku kata, sehingga berpengaruh terhadap bunyi, tetapi tidak menghilangkan makna sebenarnya. Dalam konteks Bahasa Jaksel, terdapat istilah-istilah metatesis bahasa ini, seperti sabi, kuy, yolo, kane, alig. Sebenarnya metatesis bahasa semacam ini juga ditemui di daerah-daerah lain, misalnya daerah Malang, Jatim, yang memiliki kosakata bahasa terbalik pula (sam, ngalam, oskab, ayas, umak).

Baca juga: Ayam Geprek Produk Kuliner Akulturasi

Dari beberapa ragam Bahasa Jaksel di atas, muncul pertanyaan: apakah penggunaan bahasa Jaksel berdampak buruk? Dalam artian dapat melunturkan kadar bahasa Indonesia di diri seseorang. Menurut saya pribadi, tidak. Mengapa? Karena hal tersebut sah-sah saja apabila konteksnya sesuai, jadi menurut saya yang lebih penting adalah konteks, substansi, dan mampu menempatkan diri.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Made Mirah

Kennis zonder daad is doelloos, daad zonder kennis is richtingloos.

Artikel dari Penulis