Biografi Tonny Koeswoyo, Abadi dan Tak Akan Terganti

Biografi Tonny Koeswoyo, Abadi dan Tak Akan Terganti

Biografi Tonny Koeswoyo, Abadi dan Tak Akan Terganti – Mungkin dari kalian pernah mendengar lagu “Andaikan Kau Datang Kembali” atau “Bis Sekolah” yang banyak dinyanyikan band atau musisi besar Indonesia. Namun, pernah nggak kalian tahu sebetulnya siapa sih yang menciptakan? Beliau merupakan salah satu musisi besar Indonesia, Tonny Koeswoyo. Nama Tonny Koeswoyo mungkin asing di telinga gen Z yang hidup pada masa sekarang, tapi tidak dengan lagu-lagunya. Lagu “Andaikan Kau Datang Kembali” dan “Bis Sekolah” contohnya. Kali ini saya akan sedikit menceritakan biografi dari Tonny Koeswoyo.

Biodata Tonny Koeswoyo

NamaKoestono
Tempat, Tanggal LahirTuban, 19 Januari 1936
AyahRaden Koeswoyo
IbuRr Atmini
Istri Astrid Tobing (Cerai)
Karen Julie
Wafat Jakarta, 27 Maret 1987

Biografi Tonny Koeswoyo

Kehidupan Awal

Tonny Koeswoyo atau sering disapa Ton Koeswoyo merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara yang lahir di Tuban, Jawa Timur. Ayahnya bernama R. Koeswojo (1909-2000) dan Rr. Atmini. Dari silsilah, Tonny Koeswoyo termasuk generasi ke-7 Sunan Muria Tuban. Ibu mereka adalah keponakan Bupati Tuban pada masa penjajahan Belanda.

Masa kecil Tonny dihabiskan di Kota Tuban, Jawa Timur bersama saudara-saudaranya. Awalnya disebut Ton. Namun pada akhirnya, dia mengubahnya menjadi Tonny agar lebih tampan, karena wajahnya paling tampan di antara saudara-saudaranya. Pengalaman bermusik Tonny dipupuk saat bergabung dengan grup ludruk lokal di Tuban. Tahun 1952, keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta setelah pindah kerja, sang ayah bekerja sebagai PNS di Departemen Dalam Negeri. Di Jakarta, keluarga mereka menempati rumah di Jalan Mendawai III No. 14, Blok C, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Bakat musik berasal dari ayahnya yang piawai bermain gitar dan memainkan musik Hawaii. Saat berusia empat tahun di Tuban, Tonny sudah bisa memukul-mukul ember dan pot dengan tongkat selama berjam-jam. Dan wadah lain berisi air dengan tongkat yang ditempelkan di ujung bunga jambu biji yang sedang bertunas. Di tangannya, ember, pot, dan benda lain mengeluarkan suara unik. Ketika memasuki masa remaja, Tonny semakin memperdalam kualitas bermusiknya. Kemudian Tonny memohon untuk membeli gitar, biola dan beberapa buku musik. Ayahnya tidak menerima permintaan itu dengan alasan masyarakat tidak bisa mencari nafkah hanya dengan musik.

Karir dan Karya

Ketika ayahnya berhenti dari pekerjaannya dan kemudian pindah ke Jawa Tengah untuk mengelola sebuah perkebunan di Solo, Rumah mereka di Jakarta hanya ditempati 4 anak laki-lakinya, Jon dan 3 adik laki-lakinya, Tonny, Yon dan Yok. Untuk anak yang kelima yaitu Nomo, datang seorang diri ke Surabaya dan bekerja di pabrik genteng. Jon khawatir ketiga adik laki-lakinya, Tonny, Yon, dan Yok, akan menjadi bandel dan ikut-ikutan berkelahi. 

Saat itu, kegemaran geng motor sedang merajalela di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Karena ingin adik-adiknya tidak terjerumus kedalam aktivitas negatif tersebut, Jon membeli sendiri alat musik untuk adik-adiknya. Saat itu, Jon bekerja di Engineering Office, sebelum mengembangkan Hospitality Indonesia (HI).

 Dia membeli gitar untuk menyatukan adik-adiknya. Bersama Tonny, Jon berangkat ke Solo. Saat itu, perdagangan alat musik terlengkap ada di Solo, tepatnya di Jalan Tembaga, Nonongan, Solo. Instrumen tersebut dibeli dengan gaji Jon dan ibu mereka. Jon dan ibunya dimarahi oleh ayahnya di Solo karena dianggap akan menghancurkan saudara-saudaranya. Tapi mereka bersikeras untuk membelinya dengan meyakinkan ayahnya. Alat-alat itu kemudian diangkut dengan kereta api ke Jakarta. Dari stasiun dia diangkut ke HI, karena kakaknya masih bekerja di HI.

Sejak saat itu, Tonny mulai serius belajar musik hingga bisa memainkan gitar, ukulele, piano, dan flute. Kemampuan bermusiknya adalah berkat otodidak dan mempelajari nada dan gaya permainan gitar Nick Manolov saat belajar di bawah bimbingan Tjio Bun Tek seorang guru gitar klasik di Jakarta. Dia terus bermain gitar siang dan malam. Ia juga sering mengikuti kegiatan sekolah, kegiatan siswa atau apapun yang berbau musik. Ketekunannya dalam bermusik membuat Tonny lupa belajar, sehingga tidak bisa masuk kelas dan tiga kali tidak lulus ujian. 

Tonny mengajari adik laki-lakinya, Yon dan Yok bermain musik. Adik laki-lakinya yang lain yaitu Nomo, baru saja kembali dari Surabaya juga turut bergabung. Ketika Jon membeli satu set instrumen, dia sebenarnya membuat kesepakatan dengan Tonny bahwa dia hanya akan bermain dengan saudara-saudaranya. Dari situ, cikal bakal band pertama Indonesia mulai lahir. Nama band sebelumnya berganti-ganti yang awalnya Koes dan bros, Kus Brothers, Koes Bersaudara hingga Koes Plus.  Karena beberapa alasan namun pada akhirnya yang terkenang dan terukir dalam sejarah musik Indonesia adalah Koes Plus.

Sejarah musik Indonesia menceritakan bahwa tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan oleh Koes Bersaudara. Koes bersaudara adalah pionir dalam mengubah dan merekam lagu dalam bahasa Indonesia. Kemudian tradisi ini dilanjutkan oleh Koes Plus dengan album seri volume 1, 2 dst. Meski Koes Bersaudara dan Koes Plus awalnya fokus pada musik Barat, suatu hari Tonny Koeswoyo mendorong para musisi Indonesia untuk tidak ragu mengeksplorasi kekayaan musik tradisional Indonesia.

Tonny sangat pandai menghasilkan lagu yang berkualitas karena pengetahuannya yang luas. Lirik lagu-lagu ciptaannya berbobot dengan nilai-nilai filosofis.Tonny Koeswoyo tidak hanya mengusung tema cinta, tapi juga mengangkat tema ketuhanan, tema nasionalisme, keindahan alam, dan lain-lain. 

27 Maret 1987 Tonny Koeswoyo wafat pada umur 51 tahun. Tonny menderita penyakit kanker usus yang lama diabaikannya. Sebelum meninggal, Tonny menitipkan wasiat kepada adiknya untuk melanjutkan eksistensi Band Koes Plus. 

Demikianlah biografi dari sang legenda, Tonny Koeswoyo.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Bukan seorang kutu buku yang pandai beretorika seperti kawan-kawan lain. Bukan juga aktivis yang gemar demo sana-sini. Hanya seorang yang tidak penting dan memiliki banyak keresahan dalam hidup. Seorang yang ingin mengalihkan keresahan tersebut menjadi sebuah karya yang ciamik. Fans Leo Messi sejak belum punya KTP yang katanya elektronik.

Artikel dari Penulis