Bila Selera Lagu Menentukan Tingkatan dalam Masyarakat, maka Jelas Dangdut Koplo Merupakan Representasi Kelas Pekerja

Lagu Dangdut dan Kelas Pekerja

Bila Selera Lagu Menentukan Tingkatan dalam Masyarakat, maka Jelas Dangdut Koplo Merupakan Representasi Kelas Pekerja – Orang-orang memutar lagu dalam berbagai suasana hati dan kondisi. Baik dalam keadaan tenang dengan ditemani sunyinya malam atau dalam kondisi di tengah genderang perang. Dari ambyarnya hati kawula muda, hingga nuansa nostalgia mbah buyut kita.

Lagu juga dianggap sebagai salah satu sarana manusia dalam berkomunikasi dengan diri sendiri. Oleh karenanya ia mewakili perasaan hati si pemutar. Terlepas dari pro-kontra perspektif orang-orang yang menolak lagu dan musik tentunya.

Perihal selera lagu tentu tak ada jaminan bahwa setiap orang akan memiliki kesamaan. Jauh sebelum perdebatan menggelitik antara kaum bubur diaduk dengan yang tidak diaduk. Atau sekumpulan penghujat dari dua kubu besar mie instant tingkat nasional. Saling hujat karena selera lagu pun jadi latar belakang paling klasik dan bukan prahara baru di masyarakat kita.

Apabila selera lagu menentukan kasta dalam masyarakat, maka saya rasa dangdut adalah representatif paling pas untuk kaum pekerja. Setidaknya ini berdasarkan atas apa yang saya rasakan selama 20 tahun belakangan. Hampir dipastikan tidak mungkin seorang buruh menggemari lagu bergenre Jazz, kalaupun ada pasti populasinya amat sedikit. Jika ada genre lain, saya kira reggae dan pop jadi opsi yang paling mendekati.

Pernah suatu waktu, ketika saya melakukan magang di salah satu sentra industri. Lagu kerap kali diputar di ruang-ruang workshop pekerja. Cukup keras hingga menyebar ke seluruh area workshop. Dan sudah bisa ditebak, lagu yang diputar tidak lain dan tidak bukan adalah dangdut koplo.

Semasa saya bekerja juga demikian. Banyak pekerja harian yang ditempatkan di gudang. Dalam balutan senda gurau pekerja gudang, musik acapkali diputar. “Guna mengurangi tingkatan stress” kata Pak Joko. Beliau adalah pengawas gudang sekaligus penggemar berat Denny Caknan, sang maestro. Dan dipastikan dangdut koplo jadi top play list. Eits, dangdut koplo digemari bukan karena pengawasnya yang gemar. Tapi memang karena dari atasan hingga bawahan gudang memang menyukainya. Sedang jazz adalah sebuah hal yang mustahil untuk diputar. Dan lagi, dangdut koplo menang telak.

Agaknya ini berbeda ketika saya berada di ruang kantor, dengan orang-orang menengah keatas yang kebanyakan menjadi customer di perusahaan kami. Lagu sering diputar dalam ruangan, seraya menemani customer yang sedang dalam antrian agar tak terlampau bosan menunggu.

Ada sebuah aturan tak tertulis, mengisyaratkan bahwa tak boleh ada koploan yang diputar. Usut punya usut, saya dapati bahwa hal tersebut dikarenakan customer kami tak begitu banyak yang menyukai lagu dangdut. Terlampau kuno dan ndeso, kata rekan saya.  Barangkali ini yang jadi alasan, lagu dangdut koplo tak pernah sekalipun saya dapati diputar di mall-mall. Atau café-cafe hits kawula muda.

Beberapa pengalaman pribadi di atas makin meyakinkan saya bahwa memang koploan adalah cerminan selera kaum pekerja.

Meski tak ada data survey yang menyertai, namun saya memiliki alasan kuat  lainya untuk anggapan diatas:

1. Dangdut koplo merupakan langganan festival musik rakyat.

Bila seorang camat atau kades mengadakan pagelaran bertemakan pentas seni rakyat, maka pastilah yang diundang adalah kelompok orkes dangdut. Lapangan desa menjadi venue paling atraktif, dengan pedagang asongan yang bak ketiban durian runtuh karena adanya pagelaran pesta rakyat. Lagipula, siapa yang memulai segala sesuatu yang berlabel “rakyat” selalu diidentikkan dengan kelas bawah, sederhana, dan tidak mewah?

2. Masyarakat yang terlampau aktif

Karena masyarakat kita adalah masyarakat yang aktif dan senang gerak sekalipun dalam perkara joget. Tak ada genre lagu manapun yang mampu meluweskan tubuh penikmatnya melebihi dangdut. Pesaing terdekatnya, lagi-lagi adalah reggae. Namun bisa saya katakan, bahwa dangdut masih berada di peringkat teratas bila urusan joget-menjoget.

3. Karakter yang wani dan tataq

Tingkat keberanian masyarakat kita tak perlu diragukan lagi. Karena sudah terlatih sedari kecil keberanian ini berlanjut hingga pada hari ini. Garda terdepan dalam menyuarakan kritikan dan ketidakadilan justru dimulai dari kelas pekerja. Yang meski dihari ini mulai saya sayangkan karena terjadi ketidaktepatan generasi penerus dalam mewarisi tekad ini. Saya dapati berita di kemarin hari, bahwa di awal sekolah tatap muka saja ada siswa yang memulainya dengan tawuran.

Saya sendiri dibuat bingung karena harus bangga dan sedih secara bersamaan. Hal tersebut juga tercermin dalam setiap konser dangdut karena bentrokan dan ricuh acapkali terjadi. Ini adalah keberanian yang akan terwariskan sampai anak cucu kita.  Meski terlihat memaksakan, namun tak semua kelas pekerja berperilaku demikian. Banyak yang menggunakan keberaniannya buat hal-hal positif pastinya. Demikian apa yang menjadi keresahan saya belakangan ini. Meski begitu, dangdut berhasil menjadi genre yang blak-blakan dalam mengungkap emosi setiap pendengarnya. Tanpa sensor dan tanpa lirik yang dirasa njelimet. “Bojo Galak”, “Ditinggal Rabi”, “Lemah Teles”, dan judul apa adanya lain yang dengan pasti akan diterima masyarakat menengah kebawah. Oleh karena inilah, koploan tetap memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat kita. Wabil khusus, kelas pekerja.

Seorang wibu yang paripurna. Sedikit gerak, banyak ngayalnya.

Artikel dari Penulis