Sudah Saatnya Relasi Kuasa Kiai-Santri Diintip dari Luar: Budayanya Sama, tapi Nilainya Sudah Mulai Ambruk

Sudah Saatnya Relasi Kuasa Kiai-Santri Diintip dari Luar: Budayanya Sama, tapi Nilainya Sudah Mulai Ambruk — Akhir-akhir ini, media sosial diramaikan dengan konten video berisi praktik-praktik pondok pesantren yang seringkali dianggap nyeleneh nan mengganggu bagi sebagian netizen. Isu ini menimbulkan pro dan kontra, terlebih setelah penayangannya di Trans7 pada beberapa waktu yang lalu.

Netizen pun ramai menyuarakan pendapatnya dalam merespon fenomena ini. Pendapat yang muncul mewakili berbagai sudut pandang. Namu,n secara umum ada pihak yang mendukung praktik tersebut dengan berbagai pembenarannya,  dan sebaliknya ada pihak yang mengkritisi dengan cara lembut maupun bringas

Diskursus ini seharusnya tidak lagi berhenti pada permasalahan nunduk merunduk di depan Kiai, yang selalu jadi polemik dalil yang tak berkesudahan. Isu ini juga mesti naik kelas ke diskusi yang esensial yaitu tentang relasi kuasa yang terlampau jomplang.

Tidak kah Relasi Kuasa Yang Terpelihara Terlampau Jomplang?

Budaya penghormatan murid kepada sang guru memang sangat mulia, siapa yang tidak mencintai guru yang telah memberikan ilmu yang akan begitu berguna sepanjang hidup. Tak perlu mondok, di mana pun itu, manusia juga paham dan mengerti dengan konsep utang dan balas budi. Ya, tidak semua orang paham dengan budaya ngalap berkah. Tapi saya rasa konsep utang budi cukup baik dalam mendefinisikan relasi ini dengan cara yang paling sederhana.

Kita tidak dapat menutup diri dari fakta yang beredar akhir-akhir ini, di mana banyak oknum-oknum Kiai yang dinilai berlebihan dalam mempertunjukkan status sosialnya di tengah pengikutnya. Alih-alih memberikan contoh yang menyejukkan, banyak oknum Kiai atau apapun sebutannya, malah mempertontonkan arogansi yang dinilai kurang wajar dilakukan oleh seorang dengan citra alimnya. Apakah wajar cinta santri yang begitu tulus memuliakan gurunya, dibalas perlakuan semacam itu. 

Baca juga: Menyelami Sejarah dan Makna Gelar ‘Gus’: Antara Tradisi Luhur dan Fenomena Kekinian

Tak hanya fakta video yang ditayangkan Trans7, publik tidak akan pernah lupa dengan peristiwa es teh yang ikonik. Peristiwa yang menayangkan dengan baik bagaimana relasi kuasa yang sangat jomplang antara seorang pemuka agama dengan orang yang status sosialnya mungkin di bawahnya. Raut wajah yang tak dapat berbuat apa-apa tergambarkan dari seorang tulang punggung keluarga yang memapah kumpulan gelas es teh. Sedangkan oknum pemuka agama yang heboh dengan candaan receh nan dangkal sibuk tertawa riang di panggung yang membuatnya tinggi diri. Rentetan kasus setelahnya terus berjajar di layar televisi dan handphone kita dan rasanya sangat wajar membuat netizen muak. 

Siapa yang Bisa Menjamin Nilai Budaya Tak Bergeser?

Belakangan ini beredar sebuah video pendek yang mempertontonkan sekelompok santri yang sedang menerima pembagian jeruk dari seorang oknum petinggi pondok atau siapa lah, yang jelas berada di strata yang tinggi di pondoknya. Saya rasa semua orang akan sepakat bahwa kegiatan membagikan jeruk dengan cara menggulirkan setiap biji dan ditendang selayaknya umpan lambung Marteen Paes merupakan hal yang tidak pantas dan berlebihan. Apakah salah jika publik menyoroti dan mempertanyakan tindakan yang terkesan merendahkan ini?

Bagaimana citra para pemuka agama hari ini? Yang terus ditunjukkan kepada publik adalah citra seseorang yang haus akan validasi. Lebih-lebih rentetan kasus pencabulan demi kekerasan oleh oknum petinggi pondok pesantren. Konsep apa lagi yang bisa menjelaskan peristiwa ini selain relasi kuasa yang terlalu jomplang antara orang yang berstatus tinggi nan berkuasa dengan orang yang alih-alih melawan, bersuara pun tak mampu.

Pemuliaan kepada Kiai itu wajib. Fakta sejarah pun berbicara, para ulama/kiai telah mengorbankan jiwa dan raganya demi mengangkat martabat bangsanya. Di masa itu, budaya ini sangat mahal dan sangat suci selayaknya memuliakan seorang pahlawan. Namun apa kabar sekarang?

Baca juga: 7 Alasan Kenapa Orang Berpikir Semua Lulusan UIN Merupakan Ahli Agama

Dunia terus bergerak, dan zaman pun berubah—seringkali jauh dari apa yang pernah kita kenal. Nilai budaya pada akhirnya bukan sesuatu yang mutlak, ia hidup dan berubah bersama ruang dan waktu. Budaya yang bernilai pemuliaan ini sangat mungkin bergeser. Nilai cinta santri mungkin akan tetap sama. Namun, bagi yang berposisi di atasnya, apakah ada yang benar-benar menjamin ketulusan dan kesuciannya dalam relasi ini? Terlebih fakta-fakta yang telah saya paparkan di atas, sangat wajar membuat masyarakat menjadi skeptis bahkan sinis kepada pemuka agama dan pondok pesantren hari ini.

Sekali lagi, santri bukan lah pihak yang boleh disalahkan, apalagi disamakan dengan budak. Namun, yang perlu disoroti adalah oknum pemuka agama atau petinggi pondok pesantren hari ini bersama sistem yang dipelihara di dalamnya begitu rentan akan kesewenang-wenangan.

Kuasa yang Lepas Kendali Menjadi Lahan Subur bagi Kesewenang-wenangan

Ada salah satu eksperimen gila yang dapat menjelaskan bagaimana kelakuan manusia ketika memiliki kekuasaan tanpa batasan atas manusia lainnya. Eksperimen tersebut dikenal dengan Stanford Prison Experiment yang dilakukan oleh Philip Zimbardo pada tahun 1971. Peneliti membentuk dua kelompok yang terdiri dari para mahasiswa sehat. Satu kelompok menjadi sipir dan satu kelompok lagi menjadi narapidana yang dipilih secara acak. Eksperimen yang direncanakan dilaksanakan dua minggu harus terhenti pada hari keenam, dikarenakan kondisi yang mulai tidak terkendali serta tekanan hebat yang diterima kelompok narapidana. Kelompok sipir mulai menyalahgunakan kekuasaanya dengan melakukan kekerasan fisik dan serangan psikis kepada kelompok narapidana. 

Meskipun eksperimen tersebut dianggap kontroversial, berkat eksperimen ini ditunjukkan secara baik bagaimana manusia dapat menjadi buas ketika diberikan kekuasaan tanpa batas. Terkait dalam konteks pondok pesantren ini membuat kita menyoroti betul fenomena yang menjadi pro-kontra di masyarakat hari ini. Sebab, ketika relasi kuasa ini dibalut dengan spiritualitas akan jauh lebih berbahaya dibandingkan relasi kuasa tanpa embel-embel agama. 1001 pembenaran akan selalu muncul untuk hal-hal yang sebetulnya tak pernah Tuhan perintahkan dan bahkan terlaknat.

Baca juga: Kakekku Seorang Sufi

Apakah kita harus menutup mata akan hal ini? Seperti kata Menteri Agama tempo hari, dengan bjiak mengeluarkan statement bahwa peristiwa pencabulan di pondok pesantren hanya dibesar-besarkan media. Betapa tidak berharganya nasib seorang korban kekerasan di mata beliau. Apa masih ada yang mau bilang bahwa ini adalah upaya untuk mengecilkan peran pondok pesantren? Semua orang sepakat bahwa pondok pesantren merupakan salah satu pilar penting dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hal yang disoroti hari-hari ini juga mesti menjadi evaluasi tersendiri bagi pihak pondok pesantren mana pun. 

Masyarakat hari ini adalah masyarakat yang sangat peka akan isu kelas sosial. Di mana pandangan mereka juga perlu didengarkan bukan hanya dicemooh. Namun, masyarakat juga semestinya berlaku adil. Bahwa praktik-praktik semacam ini tidak hanya ada di lingkungan pondok pesantren. Akan tetapi, sangat mungkin terjadi di lingkungan sekitar kita, terlebih di lingkungan pendidikan lainnya seperti sekolah dan kampus.

Bagikan di:

Artikel dari Penulis