Sensasi Lebih Laku Daripada Apresiasi: Kritik Untuk Media Sosial Pendakian Gunung Indonesia

gunung rinjani

Sensasi Lebih Laku Daripada Apresiasi: Kritik Untuk Media Sosial Pendakian Gunung Indonesia — Belakangan ini, media sosial dihebohkan oleh video seorang wanita yang berjoget di Gunung Rinjani. Video tersebut dengan cepat menjadi viral, terutama di platform Instagram dan TikTok. Aksi itu menuai beragam komentar dari warganet—ada yang menilai sebagai bentuk ekspresi kebebasan setelah mencapai puncak, namun tak sedikit pula yang menganggapnya tidak pantas dilakukan di tempat yang dianggap sakral. Seolah belum cukup, berbagai media ikut memperbesar isu ini dengan menjadikannya tajuk utama bernada menghakimi, seakan-akan aksi wanita tersebut telah menodai kesucian Gunung Rinjani.

Menurut saya, fenomena pemberitaan tentang video joget di Gunung Rinjani menunjukkan bagaimana sebagian media pendakian gunung lebih mementingkan sensasi daripada edukasi maupun prestasi. Banyak dari mereka hanya fokus membuat konten viral dan mengejar jumlah views, terutama dengan menyoroti kesalahan para pendaki. Padahal, di luar sana ada banyak pendaki Indonesia yang justru mengharumkan nama bangsa dengan menggapai puncak-puncak tertinggi dunia sambil mengibarkan bendera Merah Putih penuh kebanggaan.

Sayangnya, prestasi semacam itu jarang mendapat ruang pemberitaan. Media lebih senang mengekspos kontroversi dan kekeliruan pendaki yang bisa terus diputar di linimasa selama berhari-hari. Hal ini membuat opini publik terdistorsi, seolah dunia pendakian hanya berisi drama dan pelanggaran etika, bukan pencapaian dan inspirasi. Padahal, ada banyak cerita luar biasa dari pendaki lokal yang patut mendapat sorotan.

Baca juga: Fitur Story di Media Sosial: Alat Pencitraan Diri dan Penipuan bagi Publik

Pandangan masyarakat terhadap aksi joget di puncak Gunung Rinjani pun terbagi dua. Sebagian pihak menganggap bahwa tindakan tersebut masih wajar sebagai bentuk kegembiraan, tanpa unsur provokatif atau pelecehan. Seorang warganet berkomentar, “Apanya yang salah sih? Dia joget sesuai irama, tidak sensual, tidak mengganggu, pakaiannya sopan, dan tidak berlebihan.” Ini menunjukkan bahwa ekspresi di alam kadang bisa dimaknai berbeda, tergantung sudut pandang.

Namun, ada pula kelompok yang mengecam aksi tersebut karena dianggap tidak menghormati nilai kesakralan Gunung Rinjani. Salah satu warga lokal mengatakan, “Kami saja yang orang Lombok menjaga kesakralan Rinjani. Makanya wajar pengelola tidak membenarkan tindakan itu.” Bagi masyarakat sekitar, gunung bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ruang spiritual yang dijaga dengan penuh rasa hormat dan nilai adat.

Melihat ramainya perdebatan, seharusnya media dapat bersikap lebih bijak dalam menyajikan berita. Ironisnya, media pendakian justru cenderung memilih mengangkat isu-isu sensasional yang memicu komentar ketimbang memberikan edukasi kepada publik. Alih-alih menenangkan keadaan, pemberitaan seperti ini malah memperkeruh suasana dan mendorong perundungan terhadap individu yang terlibat.

Hal ini juga disoroti oleh Fiersa Besari, musisi sekaligus pegiat pendakian gunung. Lewat unggahan di Instagram Story-nya, ia mengkritik media pendakian yang lebih suka mengejar konten viral daripada mengangkat prestasi pendaki. Ia memberi contoh, banyak pendaki Indonesia berhasil mencapai puncak-puncak dunia seperti Trango Towers di Pakistan, Mount Eiger di Swiss, hingga Mount Manaslu di Nepal, tapi nyaris tak diberitakan.

Baca juga: Ngerinya Media Sosial Hari ini!

Menurutnya, berita prestasi dianggap “tidak laku” di mata media. Lebih mudah menarik perhatian publik lewat berita yang menyoroti kesalahan atau kontroversi. Ini memperkuat gagasan bahwa persoalan utama bukan hanya pada tindakan individu, melainkan pada cara media membingkai peristiwa. Jika pola ini terus dibiarkan, dunia pendakian akan kehilangan semangat edukatif dan nilai saling menghargai.

Untuk ke depan, sudah seharusnya media pendakian berperan sebagai sarana edukasi, bukan sekadar hiburan atau pencari sensasi. Pemberitaan tentang dunia pendakian perlu mengedepankan nilai-nilai seperti etika, keselamatan, dan apresiasi terhadap prestasi. Dengan begitu, publik akan lebih mengenal dunia pendakian sebagai ruang yang membentuk karakter, bukan sekadar tontonan.

Bagi para pendaki, penting pula memahami bahwa setiap tindakan di alam memiliki dampak sosial dan budaya. Menjaga sikap, menghormati kearifan lokal, serta menggunakan media sosial dengan bijak adalah bentuk tanggung jawab terhadap alam dan masyarakat sekitar. Jika kesadaran ini tumbuh, maka pendakian akan menjadi cermin kedewasaan, kepedulian, dan penghormatan terhadap bumi yang kita pijak bersama.

Bagikan di:

Artikel dari Penulis