Zona Nyaman sebagai ‘Middle Child’ yang sepertinya Tak Senyaman Itu

Zona Nyaman Middle Child

Zona Nyaman sebagai ‘Middle Child’ yang sepertinya Tak Senyaman Itu – Tulisan ini tertuang bukan berdasarkan survei yang disiapkan dengan persiapan matang dan proses panjang, ini hanya pengamatan pendek berdasarkan asumsi, pikiran pendek, unek-unek, sesi curhat dadakan, dan melihat sekitar secara sekilas. Tidak ada sesi wawancara secara resmi, pun tidak ada sesi pembagian kuisioner saat menuliskan ini. Ini tentu bukan tulisan valid mengenai fakta berupa suka dan duka menjadi seorang anak. Yang tentunya tidak bisa egois melupakan fakta berupa suka dan duka menjadi orang tua.

Tulisan ini berbicara soal karakter seorang anak dengan melihat urutan kelahirannya. Kita semua tahu bahwa entah urutan ke-berapapaun seorang anak, selalu ada pergulatan hati di dalamnya. Karena fakta pahitnya kita tak pernah bisa milih mau dilahirin di urutan ke-berapa, ya kan. Entah kenapa, hal itu sebenarnya bisa menjadikan kita sadar bahwa memang tidak ada yang bisa menjamin suatu kebahagiaan, kecuali diri sendiri. Namun sayangnya, fakta tersebut tidak semudah itu dipahami sedari kita kecil. Kita sudah terlanjur terbentuk dengan tumpukan berbagai rasa dan keluhan yang secara tidak langsung membentuk suatu karakter dan pola pikir hingga dewasa.

Ini tentang gulatan hati sebagai sosok anak tengah, yang posisinya diapit oleh dua orang atau bisa jadi lebih. Secara posisi bisa dibilang paling aman dan nyaman. Gimana enggak, posisi tengah selalu jauh dari tekanan atas, bawah, depan, maupun belakang. Seperti posisi duduk di dalam mobil, posisi di tengah memiliki resiko paling kecil mengalami cidera jika terjadi kecelakaan. Terlihat sangat strategis sekali posisinya. Barangkali itu privilege yang dimiliki oleh anak tengah. 

Menjadi anak tengah sepertinya menjadi zona paling aman dan nyaman. Ia tidak dituntut menjadi penopang keluarga layaknya anak sulung, yah that’s true. Pun ia juga tidak dituntut menjadi revisi akhir paling sempurna akan hasil didikan orang tua layaknya anak ragil, itu juga benar sepertinya. Jauh dari tuntutan dan ekspektasi apapun dan siapapun, ah rasanya nyaman sekali. Tapi jika boleh dikatakan, sepertinya tidak senyaman itu, justru here the problem comes. Mungkin ini beberapa fakta yang kevalidannya perlu disurvei lebih serius, soal posisi anak tengah.

  • Hidupnya lumayan datar. Kadang hal ini juga terbawa saat ia berinteraksi dan berekspresi. “Jelas kalau ikut teater seringnya disuruh peran yang gak banyak ekpresi”. Anak tengah terbentuk dengan tidak mendapat tuntutan untuk memenuhi ekspektasi secara berlebih dari siapapun, juga tidak punya tuntutan harus berupaya paling keras dalam menyelamatkan apapun. Sehingga terkadang ia merasa tidak perlu berbuat lebih, juga tidak mendapat tantangan lebih dalam masa pertumbuhannya sehingga ia merasa kurang ada riak gelombang dalam hidupnya.
  • Kurang Perhatian. Yah, ini juga masalah. Posisi tengah dianggap sudah paling aman dan nyaman. Sehingga sosok ini diharapkan mengerti bahwa anak sulungnya yang telah banyak berkorban lebih dulu untuk mengalah dengan adik-adiknya, juga diharap mengerti bahwa anak ragilnya masih butuh perhatian lebih. Kadang hal ini yang membentuk anak tengah mudah sekali iri akan sesuatu yang dimiliki orang lain. Dengan penuh keyakinan, saya percaya bahwa orang tua tak pernah sengaja melakukan ini. 

Dari pembeberan singkat di atas, seringkali kita menemui karakter khas dari anak tengah seperti pendiam, tertutup, suka mengalah, tidak suka menjadi pusat perhatian, sulit ditebak, bahkan seringkali orang terdekatnya sekalipun keliru mengansumsikan dirinya. Karakter tersebut sebenarnya bisa jadi terbentuk karena ia tumbuh diapit oleh seorang anak sulung yang biasanya memiliki karakter kuat secara alamiah untuk memimpin dan mengayomi, juga seorang anak ragil yang biasanya memiliki karakter lebih manja karena terbiasa mendapat banyak perhatian dari orang dewasa lainnya. Nah, di situlah posisi anak tengah menjadi penyeimbang 2 karakter yang berbeda tersebut. Ia memiliki sisi ego lebih rendah saat dihadapkan dengan anak sulung dan bungsu yang memiliki karakter lebih kuat. 

Namun di sisi lain, menariknya anak tengah ini meskipun seringnya ia bukan tipikal pendobrak atau yang berani memulai sesuatu terlebih dahulu, ia bisa jadi adalah sosok pendukung yang hebat, pendengar yang baik, juga penengah yang bijak. Kebiasaannya tumbuh tanpa tuntutan dan ekspektasi dari keluarga, menjadikan ia memiliki peluang lebih tinggi menjadi manusia yang Merdeka. Ia bisa lebih berani mengambil sebuah keputusan tanpa perlu pertimbangan dari siapapun, bahkan orang terdekatnya sekalipun. Seringkali ia punya silent plan yang ia renungkan sendiri, ia debatkan sendiri, hingga pada akhirnya ia putuskan sendiri. Agak misterius gitu ya kelihatannya, padahal gak juga. Jadi, kalau ada kesempatan mengenal sosok anak tengah, bakal mengenalnya seperti apa? ☺Jadi, masih bisa bilang nyaman untuk posisi anak tengah? Iya sih bisa jadi ia nyaman dalam lingkaran keluarga yang tidak menuntut lebih pada dirinya. Tapi dalam menghadapi keruwetan dunia yang gila ini, sepertinya ia bisa jadi adalah orang yang cukup payah. Tapi jelas beda cerita jika ia berani mentas dari kungkunan zona nyaman di dalam keluarga. Yah intinya urutan anak ini bukan patokan utama terbentuknya kepribadian seseorang.~

Kontributor yang tertarik kontribusi di Kapito karna ikonnya Kucing.

Artikel dari Penulis