Apa yang Salah saat Nasi Padang Menggunakan Daging Babi? Berikut Penjelasan Buat Kalian Para Kaum Open Minded!

Nasi Padang Daging Babi

Apa yang Salah saat Nasi Padang Menggunakan Daging Babi?

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita hangat, yaitu seorang pengusaha makanan menjual hidangan berbahan dasar B2 atau daging babi. Masakan menggunakan bahan dasar B2 atau daging Babi sangat banyak di Indonesia, seperti babi guling di Bali dan babi panggang karo di Sumatra Utara. Memang di beberapa wilayah Indonesia tidak melarang memakan daging babi. Namun berbeda dengan wilayah Indonesia yang banyak mayoritasnya beragama Islam, terkhusus Sumatra Barat. 

Sumatra Barat adalah provinsi dengan etnis Minangkabau dan keislamannya. Tentu dari segi kulinernya, agama memegang peranan penting. Dalam Islam, mengkonsumsi daging babi haram hukumnya. Namun bisa saja tidak haram dengan beberapa faktor, cukup panjang pembahasannya teman-teman bisa baca artikel atau buku-buku fikih tentang hukum dari daging babi itu sendiri.

Balik ke topik awal, kenapa nasi padang babi dengan hidangan gulai babinya ini menjadi viral? Sehingga banyak orang yang tidak terima terkhusus masyarakat Minang sendiri? Jelas, sudah saya sebutkan sebelumnya bahwa agama Islam memegang peranan penting dalam society Minangkabau, termasuk persoalan lidah dan perut. Sebagai seorang muslim yang baik tentu harus menjalan syariat dengan benar, sesuai dengan pepatah minang yang berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”

Pepatah tersebut memiliki makna, bahwa adat itu tuntunannya ke syariat dan syariat tuntunannya ke kitab Allah atau Al-Qur’an dalam Islam. Tentu dari segi konsumsi masyarakat harus patuh terhadap adat dan syariat. Adat itukan sebuah kebiasaaan yang diwariskan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi sehingga menjadi tradisi. Tidak membuat kuliner berbahan dasar daging babi, sudah menjadi keharusan bagi masyarakat Minang.

Baca juga: Makan Nasi Putih Dicampur Nasi Goreng itu Bukan Dosa!!

Teman-teman bisa lihat sendiri deh mana ada rumah makan padang, nasi kapau, atau restoran padang yang autentik dengan Minangkabaunya menyajikan daging babi. Rata-rata masakan Padang menyajikan makanan dengan lauk ayam, ikan, daging sapi, dan daging kerbau. 

Ini pesan saya buat teman-teman open minded yang mewajarkan hal tersebut. Ayuk kesini, jalan-jalan dan vacation ke ranah Minang, supaya wawasan kamu bertambah lagi. Jangan dengan embel-embel open minded, kamu bisa saja menilai suatu hal tanpa data dan opini sampah. Setau saya, open minded itu harus by data, harus ada sumber dari pendapat yang kita lontarkan.

Menurut saya itu bukan open minded lagi, namun pembenaran. Melakukan pembenaran terhadap apa yang kita suka dan apa yang tidak kita suka itu  merupakan standar ganda! Saya pribadi tidak pernah mempermasalahkan teman-teman di daerah lain yang mengkonsumsi daging babi, nah itu kan adat dan kebiasaannya, harus kita hargai. Begitu juga sebaliknya, jika masyarakat di daerah lain tidak bisa mengkonsumsi daging babi, kita harus hargai. Itu baru toleransi, menghargai setiap perbedaan yang ada.

Menurut saya, kalau masih mau berjualan makanan non halal. Buat aja dengan nama nasi babi sedap, nasi babi rempah, atau nasi babi gurih. Karena menyematkan nama identitas, yang mana identitas tersebut asing dengan daging babi adalah kesalahan yang fatal. Dan buat kamu, netizen sok open minded, ayuk sini main ke Sumatera Barat, yuk main ke Kota Padang. Saya tunggu dan siap mendampingi teman-teman untuk mengenal lebih dalam Sumatera Barat dan Minangkabau. Terakhir, menurut saya rendang dan gulai berbahan dasar daging sapi, itu tiada duanya. Apa lagi jika dikombinasi dengan karupuak jangek (kerupuk kulit daging sapi), yang dibaluri siraman kuah gulai, uhhhh mantep jadi ngiler saya, hahahahaha.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Warga Sipil Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang Kebetulan Hobi Nulis dan Pengen Jadi Dosen.

Artikel dari Penulis