Mereka yang Dinamakan Cinta Sakral

Mereka yang Dinamakan Cinta

Mereka yang Dinamakan Cinta Sakral

Apa yang terlintas dalam benak kalian apabila membahas orang tua? Marah? Bahagia? Rindu? Atau syukur? Pastilah sangat beragam. Hal inilah yang juga aku temukan setelah melakukan sebuah perjalanan, berbicara dengan beberapa orang, mengamati dan mencoba untuk menguraikan pintalan benang yang tak terkirakan jumlahnya itu.

“Kalau seorang anak bertanya sesuatu, jawablah, demi Tuhan. Jangan berlebihan. Anak-anak adalah anak-anak, tetapi mereka tahu kalau kau menghindar, mereka tahu lebih cepat daripada orang dewasa, dan menghindar hanya akan membingungkan mereka. Bahasa yang buruk adalah tahap yang dilalui semua anak, dan akan berakhir dengan sendirinya, ketika mereka mengerti bahwa mereka tak akan mendapat perhatian dengan cara itu.”

Tulisan tersebut merupakan penggalan dialog yang dari novel To Kill A Mockingbird. Kalimat itu diucapkan oleh Atticus kepada Paman Jack ketika ia berbohong kepada putri Atticus mengenai pelacur yang menurutnya belum pantas dipahami oleh anak-anak. Bukannya menjawab pertanyaan putri Atticus dengan sederhana, Paman Jack justru menjawab dengan cerita yang sama sekali tidak nyambung dan membingungkan. Alasannya karena ia merasa bahwa Scout belum pantas mengetahui hal itu.

Baca juga: Principles Economics: Analisa dan Logika dalam Cinta

Penggalan novel itu memberikan dua pandangan yang berbeda mengenai anak dan orang tua. Kaum dewasa acapkali menganggap anak-anak hanyalah anak-anak tanpa memberikan gambaran yang semestinya untuk mereka. Sekadar menganggap mereka anak kecil dan bersikap berlebihan dalam merespon hal yang menurut mereka belum bisa diterima oleh anak-anak dengan menjadikan segala yang sederhana menjadi rumit. 

Penggalan dialog tersebut juga mengajarkan bagaimana Atticus menyikapi anaknya selayaknya anak-anak, tetapi juga tak lupa untuk menghormati mereka sebagai manusia, memberikan kepercayaan, pengajaran, dan pemahaman. Atticus percaya bahwa anak-anak adalah fase dimana mereka akan banyak bertanya untuk menghadapi kehidupannya, untuk mengetahui apa yang tidak mereka tahu. Orang dewasa, terutama orang tua, adalah tempat mereka bertanya. Siap atau tidak, orang dewasa atau orang tua haruslah memberi jawaban atas pertanyaan anak-anak itu dengan sederhana dan sebaik-baiknya sehingga bisa mereka terima.  

Peranan orang dewasa, yang dalam tulisan ini atensi saya adalah orang tua, sangatlah penting bagi anak-anak. Mari kita mulai dari adanya manusia di muka Bumi ini. Ia bersemayam selama kurang lebih sembilan bulan di rahim ibunya, atas pengasihan dan cinta dari seorang ibu (karena kalau tidak cinta sudah barang tentu anak itu tak jadi terlahir di muka Bumi ini, barangkali). Setelah sembilan bulan bersemayam di rahim ibu, anak-anak akan terlahir di Bumi, menangis, dan tentu pelukan hangat itu akan mereka peroleh dari ayah maupun ibunya. Hari-hari tumbuh besar dengan pengasuhan kedua orang tua itu, sehingga dari sinilah semestinya muncul sebuah rasa cinta yang sakral, tanpa syarat, dan semestinya pula tidak menuntut. Dan pemilik cinta sakral itu bernama orang tua.

Baca juga: Harapan Orang Tua dan Sumbangsih Besarnya Terhadap Ambyarnya Asmara

Cinta orang tua adalah sebuah perasaan yang sakral, agung, dan tak terdefinisikan. Sebab, bagaimana orang tua mencurahkan cinta kasihnya kepada anak-anaknya itulah yang nanti akan membentuk anak itu. Itulah yang akan menentukan bagaimana anak-anak itu akan hidup dan yang nantinya akan memberikan balik cinta yang sakral dari anak kepada orang tuanya. 

Ketika anak-anak dari lahir berada pada cinta kasih orang tua yang hangat, menyambutnya dengan senyum dan keharmonisan, menghormatinya, dan mampu menempatkan diri dengan sebaik-baiknya maka anak itu akan tumbuh menjadi anak yang hebat, penuh cinta, dan ia akan menjadikan orang tua sebagai cinta pertama dan panutan dalam hidupnya. 

Sebaliknya, ketika anak-anak dilahirkan dari sebuah keluarga yang porak-poranda, penuh dengan drama dan bentakan, berantakan, tekanan, tuntutan, dan hal-hal buruk yang menyertainya, jangan heran ketika anak-anak itu nanti akan tumbuh menjadi pembangkang, penuh dendam, dan menganggap orang tua adalah manusia yang paling tidak ingin ia tiru di muka Bumi ini. Meski hal ini tak sepenuhnya mutlak terjadi karena masih banyak hal lainnya yang akan mempengaruhinya. Namun, tidak menutup kemungkinan apa yang orang tua berikan kepada anaknya adalah apa yang nanti akan anak itu berikan balik kepada orang tuanya.

Dalam sebuah perjalanan di beberapa tempat, saya menemui beberapa fenomena terkait cinta, orang tua, dan anaknya. Betapa terenyuh dan takzim luar biasa ketika saya bertemu dengan seorang ibu yang dengan setia menuntun anaknya yang cacat. Ia dengan sabar dan telaten mengantar anaknya untuk memperoleh pengobatan.

Baca juga: Pergi ke Pernikahan Mantan adalah Hal yang Paling Menyebalkan

Ada pula seorang ibu dengan anak yang, mohon maaf, autis. Beliau dengan sabar pula mendampingi anaknya. Ketika orang lain rikuh memandang anaknya dan resah apakah manusia demikian akan memberi hal baik di muka Bumi atau tidak. Ibu itu percaya anaknya adalah manusia yang luar biasa, ada beragam passion yang ada dalam diri anak tersebut di balik keterbatasannya. Ibu sebagai orang tua, bersama ayahnya, mendampingi si anak, mengajarkan banyak hal agar setidaknya anaknya mampu mandiri dalam menjalani hidup, dan terpenting adalah apapun yang terjadi anak itu ialah berlian yang tak terkira kan nilainya, begitu berharganya untuk mereka sebagai orang tuanya. Itulah saya rasa cinta tanpa syarat yang sesungguhnya. Ikhlas tanpa menuntut apapun.

Di lain sisi dalam sebuah perjalanan berikutnya, saya bertemu dengan seorang anak yang hidup dari tuntutan orang tuanya, tanpa sekalipun ayah atau ibunya bertanya, “Nak, apa yang kamu cari di muka Bumi ini?” Justru yang ada ialah, “Nak, berapa nilaimu di semester ini?” atau “Nak, setelah ini kamu harus sekolah di sini, kamu harus begini, begitu, dan bla bla bla,” atau juga begini, “Nak, jangan sampai kamu memperoleh nilai merah, jangan sampai kamu begini, begitu, dan lain sebagainya”. Tuntutan-tuntutan atau pemaksaan ini barangkali perlu dipahami dari dua sisi. Bisa jadi menurut orang tuanya ini demi kebaikan anaknya. Namun, anak adalah anak, yang terkadang ingin didengar maunya apa. Terlalu menuntut dan tidak mampu berkomunikasi dengan anak bisa jadi membuat mereka tidak merasakan rumah sebagai tempat pulang. 

Menjadi orang tua adalah sesuatu yang rumit dan membingungkan. Bagaimana emosi dan kesabaran diuji. Bagaimana menempatkan diri sebagai guru, teman, hingga panutan. Ketika cinta yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah kebaikan, itulah yang akan dikenang oleh mereka dan diikutinya. Pun sebaliknya, apabila orang tua memberi cinta palsu atau sebuah pengkhianatan, tentu anak tidak akan menghargai cinta orang tua itu. Itulah sebabnya, cinta orang tua itu ialah hal yang sakral. Kepada merekalah Tuhan mengamanahkan cinta sakral itu. Suatu hari, jika Tuhan mengizinkan, kita semua akan menjadi orang tua dan cinta orang tua terhadap anak adalah cinta sakral yang tak tertandingi, yang tak teruraikan jumlahnya.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Mahasiswa Pascasarjana yang senang berkelana.

Artikel dari Penulis