Lu yang Berkuasa, Machiavelli yang Lu Jadiin Kambing

Lu Berkuasa Machiavelli Kambing

Lu yang Berkuasa, Machiavelli yang Lu Jadiin Kambing – Setiap negara memiliki pemimpin maupun sistem yang secara tidak langsung menjadi suatu relasi kuasa yang terjadi antara pemimpin maupun rakyatnya. Thailand, salah satu negara yang masih menggunakan sistem monarki dalam mengatur suatu negara dan Filipina menggunakan sistem demokrasi dimana kepemimpinan berada di tangan presiden dan dewan dibawah kepemimpinannya. Tambahan, Wakanda salah satu bangsa fiktif yang menggunakan sistem monarki dalam kekuasannya untuk membuat siapapun harus tunduk pada “Raja” yang memiliki kekuatan khusus yaitu Black Panther. Lha kok sampai sana? Contoh aja sih.

Mari kita persempit menjadi miniatur karena kata ‘Negara’ terlalu luas dan berat untuk dikupas. Dalam lingkup mahasiswa, persoalan kekuasan menjadi hal yang lumrah terjadi karena di dalam kampus telah disediakan wadah agar mahasiswa bisa merasakan bagaimana rasanya mengatur suatu kekuasan mikro sebagai implementasi ilmu politik bagi mereka (katanya). Organisasi intra maupun ekstra kampus ada untuk memberi ruang kepada mahasiswa untuk merasakannya walaupun rawan dalam seleksi maupun kapasitas yang serampangan.

Nicollo Machiavelli menjadi landasan bagi mereka untuk menjustifikasi apa yang disebut kekuasan. Machiavelli sendiri menulis buku berjudul “Il Pricipe (Sang Pangeran)” yaitu buku yang membahas tentang suatu kekuasan dan usaha untuk mendapatkan maupun mempertahankan kekuasaan. Michael H. Hart sendiri mengatakan buku ini adalah buku pedoman para diktator, tetapi para mahasiswa acapkali menjadikan Machiavelli sebagai rujukan ketika mengambil atau berusaha mendapatkan kedudukannya tanpa dipahami apa yang sebenarnya Machiavelli maksudkan. Untuk itu saya mengatakan usaha mereka adalah buta dalam mengambil kuasa.

Machiavelli melihat kekuasan sebagai sebuah tujuan, bukan dalih sebagai perebutan. Apabila ada yang mengatakan bahwa dengan mendapat kekuasaan maka itu akan memudahkan untuk meraih tujuan lain seperti kesejahteraan, penyebaran ideologi, ataupun penanaman moral yang terarah, itu tidaklah benar. Sebaliknya, baik itu akal budi ataupun ideologi adalah cara-cara yang bisa digunakan untuk dapat menggapai kekuasaan. Karena kekuasan adalah hal yang terpisah, kekuasaan itu tidak mempunyai hubungan dengan Tuhan, moralitas, ataupun agama. Jadi, paham kan kalau ada yang seperti itu maksudnya bagaimana. Hiya hiya

Ruang yang diberikan kampus tidaklah diberikan secara cuma-cuma, kampus memberi ruang agar kampus juga memiliki kestabilan dan memberi ruang agar mahasiswa tidak rewel untuk meminta kuasa. Ini yang menjadi misleading mengapa praktik seperti itu terus berlanjut dan menggunakan Machiavelli sebagai “protector” dalam aksi yang mereka lakukan. Apalagi menggunakan cara-cara yang menyakiti “rakyat”. Machiavelli menjelaskan ketika penguasa menggunakan cara-cara tak terpuji tapi itu memberikan kemakmuran kepada rakyat dan negaranya maka hal itu dinilai lebih baik bila dibandingkan dengan bersifat sopan dan banyak pertimbangan tapi tidak memberi keamanan pada rakyat. Nah, kalau itu sudah tercampur aduk apa tidak menodai Machiavelli yang katanya mereka jadikan buku saku?

Salah satu seni menguasai atau mengatur suatu negara menurut Machiavelli adalah dengan menggunakan seluruh kekuasaan tanpa ampun secara mutlak. Cara ini penting untuk monarki baru. Tapi ia tidak menyarankan melakukan hal tersebut jika keadaan yang didapat lebih tenang. Machiavelli masih berpegang teguh bahwa seorang pemimpin penting untuk tampil sebagai orang yang dicintai oleh rakyatnya. Machiavelli dan “Il Principe” adalah salah satu bukti pemikiran realis dan empirisnya memiliki kisah dari apa yang dia alami dan dapatkan selama hidup untuk sampai lahir buku tersebut. Kok dengan entengnya menjadikan Machiavelli menjadi kambing hitam dari apa yang diperebutkan dalam lingkup miniatur mikro maupun makro dalam lingkungan kampus. Nah, apakah nyambung dengan prinsip demokrasi yang berada dalam lingkup akademisi? Atau justru secara tidak langsung ingin menjadikan suatu sistem monarki baru. Entahlah. Hanya Raja Wakanda yang bisa menjawab.

Hanya karyawan biasa yang berasal dari Lamongan dan bedomisili Surabaya, tidak ingin terlihat mencolok karena takut femes, kalau serius gak apa- apa sih kali aja cocok. Nonton anime tapi bukan wibu dan pernah menjaga serta merawat jodohnya orang.

Artikel dari Penulis