Trading Adalah Cara Memanfaatkan Kapitalisme Tanpa Menjadi Budaknya (Sebagai Proletar)

Trading Cara Memanfaatkan Kapitalisme

Trading Adalah Cara Memanfaatkan Kapitalisme Tanpa Menjadi Budaknya (Sebagai Proletar) – Akhir-akhir ini, karena adanya pandemi corona banyak orang yang kehilangan pekerjaan (PHK, warung tutup, merugi, dll) mulai merambah dunia per-trading-an. Terutama dunia trading saham dan cryptocurrency karena berpikir ini adalah cara cepat menjadi kaya (hahahahahahaha lucu sekali sodara).

Dalam tulisan kali ini saya ingin menuangkan pendapat dan pemikiran saya terkait trading yang katanya cara cepat menjadi kaya dengan istilah yang agak ndakik yaitu kapitalisme. Berhubung yang bisa dijadikan instrument trading salah satunya adalah saham dan mata uang, yang keduanya adalah poin penting dalam pembahasan kapitalisme.

Sebelum menuju kesimpulan seperti pada judul tulisan ini, ada baiknya kita membahas dulu secara singkat apa itu trading dan apa itu kapitalisme.

Trading

Istilah trading sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Inggris “trade” yang artinya adalah perdagangan atau jual beli. Loh, kalau perdagangan berarti sama dengan yang ada dalam keseharian kita dong? Ya, bisa dibilang begitu secara mendasar. Konsep dalam trading sendiri sebenarnya memang jual beli, meskipun ada jenis trading yang bukan jual beli seperti trading binary.

Mari saya jelaskan lebih lanjut terkait trading, khususnya trading saham.

Dilihat dari namanya sudah terlihat jelas instrumennya di sini adalah saham. Jadi dalam trading saham, kita melakukan proses jual beli kepemilikan saham. Kalau dulu sebelum jaman digital ya harus datang ke BEI dan menulis secara langsung.

Tapi sekarang sudah jaman digital, semua bisa dilakukan melalui aplikasi di komputer maupun ponsel pintar. Apa yang kita beli dalam trading saham benar-benar bukti kepemilikan saham perusahaan, jadi dalam hal ini sama persis dengan saat jual beli di marketplace seperti Shopee, Tokopedia dan sejenisnya.

Segi perbedaan ada pada harganya yang bisa cepat berubah bahkan dalam hitungan menit tergantung jumlah transaksi dan harga yang sedang diperdagangkan. Kalau hal ini, bisa kita samakan seperti perubahan harga pada bahan pangan di pasar. Bisa berubah dalam waktu hari ataupun jam, tergantung pada para pedagang besar yang mengatur harga.

Sama halnya dalam saham, dimana semakin besar dana yang kita miliki maka semakin besar juga kemungkinan kita dapat mempengaruhi harga suatu saham.

Namun ada metode-metode analisis untuk memprediksi harga saham, seperti analisa fundamental perusahaan dengan melihat laporan keuangannya, analisa teknikal dengan menganalisa bentuk grafik pergerakan harga, dan yang terakhir analisa bandarmologi dengan menganalisa siapa saja pembeli yang memborong.

Jadi menurut saya, malah lebih bisa diprediksi daripada pergerakan harga bahan pangan di pasar yang bahkan kita sebagai pembeli atau pedagang kecil tidak memiliki metode analisa kapan akan naik dan turun, ataupun berapa harga yang akan dicapai.

Semua serba tebak-tebakan dalam perdagangan pasar tradisional. Padahal harga padi, sawit, oli, minyak, batu bara, perak, emas, dan banyak lagi instrument lain itu harganya dibentuk dari trading juga.

Kapitalisme

Mengutip dari International Monetary Fund (IMF), kapitalisme sendiri adalah sistem ekonomi dimana seseorang atau sekelompok orang yang bukan dari pemerintah memiliki dan mengontrol properti sesuai dengan keinginan mereka.

Jadi dalam system ekonomi kapitalis, campur tangan negara dalam urusan ekonomi akan sangat minim. Harga ditentukan oleh adanya permintaan dan penawaran, sehingga proses pembentukan harga sangatlah bebas, seolah-olah ada tangan-tangan tak terlihat yang mengatur pembentukan harga. Sesuai dengan ungkapan yang terkenal dari Adam Smith terkait dengan “The Invisible Hand”.

Produk-produk hasil dari kapitalisme ini adalah perusahaan, sistem buruh (proletar) dan pemilik modal atau alat produksi (borjuis), pasar bebas, dan masih banyak lagi.

Di dalam sistem kapitalisme, siapa yang kaya dan memiliki alat produksi maka dia yang akan menjadi pemegang kendali, atau menjadi borjuis. Sedangkan yang tidak memiliki alat produksi, maka dia akan menjadi buruh atau proletar.

Begitulah kurang lebih kata Karl Marx. Dalam hal ini sebenarnya kaum proletar adalah budak dari kapitalisme, karena merekalah yang diperas keringatnya untuk mempertahankan sistem ini sendiri. Jika tak ada proletar atau kaum pekerja, maka alat produksi tak akan berjalan, pemilik modal juga akan kebingungan apa yang harus dilakukan, sehingga sistem akan kacau.

Karena saya bukan ahlinya dalam bidang ekonomi, maka saya cukupkan itu saja penjelasan terkait kapitalisme. Sekarang mari kita hubungkan antara menjadi trader dan memanfaatkan kapitalisme itu sendiri tanpa menjadi budak dari sistem meskipun kita bukan orang yang bisa membeli alat produksi dan memiliki perusahaan secara nyata.

Memanfaatkan Kapitalisme dengan Trading

Seperti yang saya jelaskan di atas, bahwa produk dari kapitalisme sendiri adalah pasar bebas, dimana harga ditentukan atau dibentuk oleh permintaan dan penawaran. Pasar modal atau pasar saham adalah salah satu contoh dari pasar bebas tersebut. Di pasar saham, harga benar-benar diatur oleh permintaan dan penawaran.

Membeli saham, artinya membeli bukti kepemilikan perusahaan meskipun hanya sepersekian persen. Artinya, hanya dengan uang 100 ribu rupiah, kita para rakyat jelata bisa bertingkah sebagai pemilik perusahaan. Namun bukan hanya itu, kita bisa memperdagangkan saham tersebut di pasar saham yang biasa disebut dengan trading.

Nah, semua orang bisa mendapat keuntungan dalam perdagangan saham asalkan memiliki ilmunya. Sama dengan berdagang secara konvensional, ada kalanya rugi dan ada kalanya untung, tinggal bagaimana kita mengatur dan menganalisa pasar.

Dalam pasar saham, kita tidak perlu menjadi buruh ataupun pemilik perusahaan dengan modal miliaran bahkan triliunan, akan tetapi dapat dengan mengambil manfaat dari sistem tersebut.

Seorang proletar, seorang buruh, bisa merangkap menjadi seorang borjuis ketika memiliki saham. Tapi jangan berhenti pada memiliki saja, kita harus manfaatkan kesempatan ini untuk memutar modal kecil yang kita miliki menjadi banyak dengan memperdagangkannya.

Beli saham di harga bawah, jual di harga atas. Itu konsep dasarnya dalam perdagangan apapun. Tentunya tiap bentuk perdagangan harus memiliki ilmu dan pengalaman. Maka dari itu, kalau ingin memanfaatkan sistem kapitalisme tanpa menjadi budaknya ya harus mempelajari ilmunya, rasakan pengalamannya. Menolak doang, tapi pakai produk sistem ya sama juga bohong sobat hahaha. Mari manfaatkan sistem, tapi jangan mau diperbudak oleh sistem. Sekian dari saya, terima kasih.

Pentjari retjehan onlen, pengangguran yang berusaha kaya, jelas wibu sejati. Pernah kuliah juga sih, 4 tahun.

Artikel dari Penulis