Ketenaran Vincent Van Gogh yang Tertunda

Ketenaran Vincent Van Gogh

Ketenaran Vincent Van Gogh yang Tertunda

Berbicara mengenai seni rupa, atau sebut saja seni lukis, terdapat cukup banyak aliran seni lukis yang ada di dunia ini. Mulai dari romantisme, naturalis, abstrak, kubisme, realisme, dan tentu masih banyak lagi. Begitu pula dengan pelukis. Di dunia ini sangat banyak pelukis, baik yang terkenal maupun yang kurang terkenal. Sebut saja pelukis terkenal yang ada di Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, Barli Sasmita dan lainnya yang tak bisa penulis sebutkan keseluruhannya. Pelukis di kancah internasional sendiri juga banyak, siapa yang tidak kenal Leonardo da Vinci dengan karyanya Monalisa? Selain Da Vinci, ada juga pelukis lainnya yang terkenal seperti Pablo Picasso, Salvador Dali, dan seorang beraliran post imperialisme Vincent Van Gogh. 

Pelukis Besar yang Diabaikan

Berbeda dengan pelukis-pelukis terkenal lainnya, yang barangkali bisa merasakan ketenaran semasa hidupnya, hal ini tidak berlaku untuk seorang Vincent Van Gogh. Terlahir di Zundert, Belanda pada 30 Maret 1853, Van Gogh malah dianggap sebagai orang gila. Alih-alih dikenal sebagai seorang maestro lukis, hidupnya amat pilu dan sama sekali tak dipandang oleh orang-orang di sekitarnya. Beruntung, dalam hidupnya Vincent memiliki saudara yang luar biasa bernama Theo.

Baca juga: Biografi Suhaib bin Sinan, Seorang Pedagang yang Amat Cinta dan Setia pada Rasulullah

Apakah kalian akan mengira bahwa pelukis hebat itu meninggal dengan cara bunuh diri? Apakah kalian tahu sebelumnya kalau semasa hidup lukisan Vincent Van Gogh hanya terjual satu dan itu pun dibeli oleh saudaranya sendiri, Theo? Juga, apakah kalian  pernah mendengar seorang pelukis yang memotong telinganya dan dijadikan sebagai alat pembayaran? Ya, itulah VIncent Van Gogh.

Vincent Van Gogh semasa hidupnya mengalami gangguan kejiwaan. Konon ini dimulai dari depresinya dari semasa sekolah. Sebagai seorang seniman pelukis, jalan hidup Van Gogh juga tidaklah mulus. Hidupnya banyak bergantung dengan saudaranya, Theo. Theo-lah yang membantu membiayai Van Gogh sehingga ia bisa menghasilkan banyak karya lukisan. Sungguh sangat tidak sebanding dengan hari ini, di mana karyanya bernilai fantastis. 

Penyakit kejiwaan yang dialami Vincent ini memang mempengaruhi banyak hal dalam dirinya. Suatu hari, ia terlibat cekcok dengan Gauguin (salah seorang pelukis juga). Buntut dari cekcok ini, Vincent memotong sebelah telinganya, hingga akhirnya Gauguin  meninggalkan Vincent. Beberapa artikel dan cerita yang berkembang menyebut bahwa setelah cekcok itu, Vincent mengalami delusi, di mana ada suara-suara di kepalanya bising tak berhenti, hingga akhirnya ia memotong telinganya. Kemudian, ia membawa potongan telinganya yang masih berdarah-darah itu ke sebuah bar dan ia jadikan sebagai alat pembayaran. Sungguh miris! 

Entah bagaimana ceritanya, Vincent akhirnya dibawa (beberapa  sumber menyebutkan Vincent pergi dengan kemauan sendiri) ke rumah sakit jiwa Saint-Rémy-de-Provence. Vincent sempat dinyatakan sembuh, tetapi beberapa tahun berikutnya ia nyatanya mengalami gangguan kejiwaan lagi yang membuatnya menembak kepalanya dengan revolver.

The Starry Night hingga Keabadian

 Lukisan The Starry Night atau malam berbintang merupakan mahakarya Vincent Van Gogh semasa berada di rumah sakit jiwa Saint-Rémy-de-Provence. Lukisan ini menggambarkan kesepian yang dialami seorang Vincent Van Gogh. The Starry Night sendiri menggambarkan suasana di sekitar rumah sakit di mana Vincent dirawat. Lukisan itu dibuat berdasarkan memori Vincent mengenai suasana di luar rumah sakit pada siang hari, tetapi dilukis dalam bentuk malam berbintang. Lukisan epic inilah yang diabadikan dalam sebuah lagu oleh Don Mclean.

Baca juga: Mengapa Kita Takut pada Kegagalan?

Lagu “Vincent” dalam album American Pie oleh Don Mclean menggambarkan betapa kesepiannya Vincent. Diawali dengan lirik starry-starry night, lagu ini berhasil menggambarkan sosok Van Gogh yang kesepian, yang tidak dipahami orang, dan Van Gogh si pelukis The Starry Night. Bahkan, lagu ini juga senantiasa diputar di museum Van Gogh di Amsterdam, Belanda. 

Van Gogh Memang terlambat dikenali. Banyak orang tahu bahwa ada seniman sekeren Van Gogh justru ketika ia sudah mati. Tidak sedikit yang lantas mengabadikannya, baik sebagai lagu, hingga film. Sebut saja film Loving Vincent yang merupakan film animasi pertama yang sepenuhnya disajikan dengan lukisan tangan. Film ini melibatkan begitu banyak seniman yang melukis setiap adegannya, dan memakan waktu selama 7 tahun. Film ini menceritakan bagaimana perjalanan Arman, seorang anak tukang pos, dalam mengantarkan surat Vincent untuk Theo yang lantas membawanya menyelami kehidupan Vincent Van Gogh. Film ini sangat layak kalian tonton apabila ingin menyelami sosok Vincent Van Gogh itu sendiri. 

Kejiwaan, Kehangatan Saudara, dan Ketenaran yang Terlambat

Dalam film Loving Vincent dijelaskan bahwa kematian Vincent inilah yang justru membuatnya terkenal. Serta bagaimana ia berhubungan baik dengan saudaranya, Theo, melalui surat-suratnya. Vincent yang memang sangat rutin berkirim surat dengan Theo, menggambarkan hangatnya hubungan mereka. Sayang sekali, dalam film Loving Vincent diceritakan bahwa surat terakhir Vincent tidak sampai kepada Theo. Sebab tak lama setelah kematian Vincent Van Gogh, Theo juga menyusulnya wafat. Surat itu akhirnya diserahkan kepada istri Theo. 

Vincent Van Gogh meninggal pada tahun 1890, setahun setelah ia melukis The Starry Night. Ada perdebatan akan sebab kematiannya. Beberapa mengatakan ia bunuh diri dengan menembak dadanya menggunakan revolver, dan beberapa mengatakan bahwa ia tak sengaja tertembak oleh anak-anak. Entahlah, yang jelas beliau wafat karena luka tembak. Kematian Vincent Van Gogh inilah yang nyatanya menjadi awal ia dikenal banyak orang lantaran kematiannya menjadi berita populer kala itu. 

Pada tahun 1914, surat-suratnya dibukukan menjadi tiga buah buku, dan dari sinilah namanya semakin dikenal. 

Pelajaran dari Seorang Vincent Van Gogh

Menilik perkara Vincent Van Gogh memang tak akan ada habisnya, sebagaimana ketika kita menilik tokoh-tokoh besar lainnya. Semakin kita menilik, semakin kita akan menemukan pembaruan akan fakta. Acapkali mendukung fakta yang kita temukan sebelumnya, acapkali tentu akan membantahnya, begitulah adanya. Pesan terakhir sebelum kematiannya, kata Theo, Vincent mengungkapkan bahwa “Kesedihan akan kekal selama-lamanya”. Ini adalah penggambaran sosok Vincent yang tak terbantahkan. Bagaimanapun itu, ia hidup dalam kesepian, keterasingan, dan banyak keabaian. Namun, dari seorang Vincent Van Gogh kita dapat belajar bahwa melakukan segala sesuatu pasti akan memberikan ganjarannya di kemudian hari. Hal baik, apapun itu, meski semasa hidup kita tak memperolehnya, bisa jadi Tuhan masih menundanya untuk menunjukannya di waktu yang terbaik. Sebagaimana seorang Vincent yang mengalami ketenaran yang tertunda. Bayangkan bila ia merasa sepi, malang, dan tak berbuat apa-apa. Meski tertunda, apakah kita akan mengenal karyanya bila ia tak berkarya? Maka, lakukanlah hal baik. Lakukan saja, tanpa berfikir bagaimana Tuhan akan memberi imbalan. Sebab, semua sudah diatur.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Mahasiswa Pascasarjana yang senang berkelana.

Artikel dari Penulis