Biografi Sunan Giri, Pendiri Pesantren sekaligus Kerajaan Giri Kedaton

Biografi Sunan Giri

Biografi Sunan Giri, Pendiri Pesantren sekaligus Kerajaan Giri Kedaton Sunan Giri, seorang Walisongo dan pendiri Pesantren sekaligus Kerajaan Giri Kedaton yang berbasis di wilayah Gresik, Jawa Timur. Giri Kedaton yang didirikan oleh Sunan Giri menjadi pusat dari penyebaran agama Islam dan memiliki pengaruh yang meluas hingga ke wilayah Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Beberapa nama panggilan yang dimiliki oleh Sunan Giri antara lain Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin, dan Joko Samudro. Sunan Giri dilahirkan di Blambangan pada tahun 1442 dan dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Biografi Sunan Giri

Nama asliRaden Paku
Nama panggilan lainJoko Samudro, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin
Nama ayahSyekh Maulana Ishaq
Nama ibuDewi Sekardadu 
Tahun lahir1443 Masehi
Tahun wafat1506 Masehi
Tempat dakwahDesa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik
MakamDesa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik

Asal Muasal Sunan Giri

Ayah Sunan Giri bernama Maulana Ishaq. Sebelum kelahiran Sunan Giri, Maulana Ishaq diusir oleh mertuanya (Prabu Menak Sembuyu, raja Blambangan) yang marah karena diminta memeluk agama Islam dan meninggalkan agamanya yang lama. Setelah Maulana Ishaq pergi, Blambangan didera wabah yang mengerikan dan kemudian kelahiran Sunan Giri dianggap sebagai kutukan bagi Kerajaan Blambangan. Sebuah peti besi dibuat untuk menghanyutkan bayi Sunan Giri ke laut untuk membuang kutukan tersebut. Dewi Sekardadu (Ibu Sunan Giri) yang mendengar berita ini berusaha menemukan peti tersebut, namun ia malah meninggal dalam pencariannya.

Peti bayi Sunan Giri terbawa arus dan akhirnya ditemukan oleh sebuah kapal dagang dari Gresik yang hendak berdagang ke Bali. Kapal tersebut mengambil peti besi setelah melihat cahaya yang dipancarkannya. Ketika peti itu dibuka, terdapat bayi laki-laki yang rupawan dan bercahaya seperti purnama. Kapal tersebut akhirnya memutuskan kembali ke Gresik untuk menyerahkan temuannya ke Nyai Gede Pinatih, seorang janda pemilik kapal yang kemudian mengasuh dan menyusui bayi tersebut hingga dewasa. Karena ditemukan di laut, bayi itu diberi nama Joko Samudro.

Sunan Giri Menuntut Ilmu

Pada saat Joko Samudro berusia 12 tahun, ibunya membawanya ke Surabaya untuk berguru ilmu agama kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel) atas permintaannya sendiri. Namun, tidak lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari Joko Samudro yang tak lain keponakannya sendiri.

Maka, Sunan Ampel mengirim Joko Samudro bersama Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang) untuk mendalami ajaran Islam di Pasai sebelum akhirnya menunaikan ibadah haji. Di Pasai, mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang ternyata adalah ayah Joko Samudro. Di sana, Joko Samudro mengetahui kisah hidup masa kecilnya.

Setelah belajar selama tiga tahun dari ayahnya, Sunan Giri, atau juga dikenal sebagai Raden Ainul Yaqin, diperintahkan oleh ayahnya untuk kembali ke Jawa dan mengembangkan ajaran Islam di sana. Dalam perjalanan kembalinya ke Jawa, Sunan Giri membawa sebuah gumpalan tanah pemberian dari ayahnya. Tanah itu merupakan petunjuk tempat yang akan menjadi pusat penyebaran ajaran islam yang akan dilakukan oleh Sunan Giri.

Pesantren dan Kerajaan Giri Kedaton

Setelah kembali ke Pulau Jawa, Raden Paku atau Sunan Giri pulang ke Kota Gresik dan membangun sebuah pesantren sesuai dengan amanah ayahnya. Ia berjalan cukup jauh untuk menemukan tanah yang dimaksud oleh ayahnya, dan setelah menemukannya, ia mendirikan pesantren di sana. Pesantren tersebut dibangun di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas, Gresik pada tahun 1403 Saka. 

Pesantren ini menjadi pondok pesantren pertama yang ada di Kota Gresik. Giri dalam bahasa Jawa berarti gunung, dan sejak saat itu, ia dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Dalam sejarahnya, Sunan Giri menikahi putri Sunan Ampel bernama Dewi Murtasiah.

Pesantren Giri dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, yang memiliki pengaruh hingga ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruhnya semakin berkembang hingga akhirnya terbentuklah kerajaan Giri Kedaton yang menguasai daerah Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi. Raden Paku, sebagai raja kerajaan Giri Kedaton, diberi gelar Prabu Satmata. 

Kerajaan Giri Kedaton bertahan selama 200 tahun sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Sultan Agung. Setelah kematian Raden Paku, beberapa keturunannya menggantikannya sebagai raja, antara lain Sunan Dalem, Sunan Sedomargi, Sunan Giri Prapen, Sunan Kawis Guwa, Panembahan Ageng Giri, Panembahan Mas Witana Sideng Rana, Pangeran Sinonegoro (bukan keturunan Sunan Giri), dan Pangeran Singosari. 

Dakwah Sunan Giri 

Sunan Giri tidak hanya berdakwah melalui pendidikan, tetapi juga melalui karya seni yang ia ciptakan, seperti permainan anak-anak dan tembang. Beberapa permainan anak-anak yang diciptakan oleh Sunan Giri adalah Jelungan, Jamuran, dan Gendi Gerit. Selain itu, beliau juga menciptakan beberapa tembang anak-anak seperti Padang Bulan, Lir-ilir, dan Cublak-cublak Suweng. Permainan Jelungan yang diciptakan oleh Raden Paku memiliki tujuan untuk mengajarkan seseorang bagaimana menyelamatkan hidup dengan memegang teguh ajaran Islam.

Selain itu, Sunan Giri juga berusaha untuk memadukan tradisi lokal dengan ajaran Islam, seperti selametan, acara di keramaian, dan upacara-upacara lainnya. Taktik dakwah semacam ini berhasil menarik hati warga dan membantu memperluas pengaruh Islam. Karisma dan pengaruh Sunan Giri juga membantu rakyat untuk bertahan saat Kerajaan Majapahit terpecah-belah sebelum akhirnya runtuh akibat serangan Kesultanan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. 

Wafatnya Sunan Giri 

Sunan Giri pendiri pesantren dan kerajaan Giri Kedaton, meninggal dunia pada tahun 1506 M dan dimakamkan di Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik di Jawa Timur. Makamnya berada sekitar 4 km dari pusat kota Gresik.

Demikianlah biografi dari Sunan Giri.

Editor: Firmansah Surya Khoir

Visual Designer: Al-Afghoni

Bagikan di:
Intelektual (yang semoga) profetik.

Artikel dari Penulis