Hidup dalam Naungan Al-Qur’an: KH. Muhsin Isman Al-Hafidz ― Seorang KH. Muhsin Isman Al-Hafidz adalah putra kelima dari 9 bersaudara. Muhsin lahir dari pasangan Mbah Isman dengan Nyai Marsatun. Mbah Isman adalah putra Mbah Nashir Pogar, sementara Nyai Marsatun adalah putri Mbah Hasan Sukosari. Meskipun keduanya bukan keturunan kiai, sehari-hari mereka berkhidmah di Pondok Banaran yang diasuh KH. Hanan.
Dari keluarga sederhana, tapi penuh cinta kepada ulama, Muhsin kecil tumbuh dan dibesarkan.
Menuntut Ilmu
Pada tahun 1948, Muhsin mulai bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) setempat. Sore hari, ia mengaji kepada KH. Hanan di Pondok Banaran. Setelah lulus dari SR pada tahun 1956, ia belajar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Jombangan, Kediri. Di pesantren yang didirikan KHR. Sirojuddin ini, Muhsin berstatus sebagai santri kalong (tidak menetap di asrama).
Selama belajar di Pondok Jombangan, Muhsin juga belajar ilmu Al-Quran kepada KH. Adlan Aliy di Cukir, Jombang. Setiap kali belajar, ia menempuh perjalanan kaki dari Kediri menuju Jombang. Kepada KH. Adlan, Muhsin menyetorkan hafalan pelajaran dan sorogan beberapa kitab kuning.
Tahun 1979, setelah belajar di Jombangan, Muhsin sempat menjadi mahasiswa di IAIN Kediri. Pada tahun yang sama, ia menikah dengan putri KH. Hanan Banaran. Namun, pernikahan itu hanya bertahan dua setengah bulan. Setelah bercerai, ia dikirim oleh KH. Imam Thoha untuk belajar di Pondok Pesantren Matholi’ul Falah, Kajen, Pati yang diasuh KH. Abdullah Salam (Mbah Dullah)―seorang ulama masyhur yang dikenal sebagai wali.
Baca juga: Habib Saleh bin Alwi Jamalullail dan Tradisi Maulid Nabi di Afrika Timur
Selama belajar di Kajen, Muhsin menjalani hidup penuh keprihatinan. Ia jarang sekali makan karena keluarganya tidak mampu mengirim uang. Muhsin acapkali makan nasi sisa acara selamatan atau sema’an di makam Mbah Mutamakkin―itu pun tidak setiap hari. Untuk mengganjal perutnya, tak jarang Muhsin memakan daun lamtoro yang tumbuh di halaman kebun pondok. Bahkan, ia rela mencuci baju teman-temannya demi mendapat jatah makanan―meskipun sering ditipu dan tidak diberi makan.
Setelah menyelesaikan hafalan Al-Quran selama satu setengah tahun, Muhsin mengutarakan keinginannya untuk pulang kepada Mbah Dullah. Bukannya mendapat izin oleh Mbah Dullah, Muhsin malah diminta untuk mengabdi terlebih dahulu. Ia lalu dipercaya menjadi kepercayaan KH. Sahal Mahfudz, keponakan Mbah Dullah. Oleh Kiai Sahal, Muhsin dipercaya mengurusi koperasi pondok juga membantu mengajar santri.
Melepas Masa Lajang
Setelah beberapa tahun menjadi kepercayaan Kiai Sahal Mahfudz, pada tahun 1979 Muhsin diizinkan oleh Mbah Dullah untuk pulang dari Matholi’ul Falah. Sepulang dari Kajen, ia kembali mengajar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jombangan, Kediri. Selama mengajar, ia sekaligus mengajar di MTS Model Pare.
Pada tahun 1981, Muhsin melepas status dudanya dengan menikahi Nyai Muzdalifah, putri KH. Abdul Syukur dari Pondok Pesantren Sirojul Ulum, Semanding, Kediri. Sebagai menantu seorang Kiai, ia turut membantu mertuanya dalam mengajar para santri. Selama membina rumah tangga, KH. Muhsin Isman dikaruniai 4 orang putra dan 2 putri.
Sejarah Pondok Pesantren Sirojul Ulum Semanding
Di daerah Semanding, Pare, Kediri, pernah tinggal seorang dermawan bernama H. Abdul Wahab. Meski bukan seorang santri, semangat dakwahnya sangat tinggi. Ia mendirikan mushola di sebidang tanah miliknya di Semanding. H. Abdul Wahab juga memiliki menantu seorang kiai bernama KH. Abdul Kohar yang menikahi putrinya, Juyyinah. Dari pernikahan ini, H. Abdul Wahab berharap menantunya dapat mengisi syiar Islam di mushola yang ia dirikan.
Namun, setelah dikaruniai dua anak, KH. Abdul Kohar wafat. H. Abdul Wahab lantas menikahkan putrinya dengan H. Solihan. Sayangnya, kejadian yang sama terulang. Setelah dikaruniai 2 anak, H. Solihan wafat. Kemudian Nyai Juyyinah dipersunting oleh seorang duda beranak dua bernama H. Usman. Seperti pernikahan sebelumnya―setelah dikaruniai dua anak―Sabi’un dan Sulinah, H. Usman wafat.
Sulinah kemudian menikah dengan KH. Abdullah Anshori. Pada awal tahun 1904, KH. Abdullah Anshori mendirikan Pondok Pesantren Sirojul Ulum. KH. Abdullah Anshori dan Nyai Sulinah dikaruniai 6 orang anak, salah satunya bernama Siti Asiyah yang menikah dengan KH. Abdul Syakur. Dari pasangan ini lahir sembilan anak, salah satunya adalah Nyai Muzdalifah, istri KH. Muhsin Isman.
Baca juga: Gus Nur Salim: Kiai Sederhana dan Dermawan
Sejak didirikan, Pondok Sirojul Ulum tidak memiliki spesialisasi tertentu dalam pengajaran; hanya fokus pada pengajaran kitab kuning. Namun, ketika KH. Muhsin Isman menjadi menantu KH. Abdul Syakur, materi tahfidz Al-Quran mulai diperkenalkan. Transformasi ini semakin nyata ketika pada tahun 1984, atas saran KH. Imam Thoha Pumahan, KH. Muhsin pindah rumah ke sebelah pondok.
Perpindahan ini diikuti oleh 14 santri putra dan putri yang mulai menetap di rumah beliau untuk menghafal Al-Qur’an. Dari sinilah cikal bakal berdirinya Madrasah Qur’an Sirojul Ulum (MAQSU). Dua tahun kemudian, pada tahun 1986, KH. Muhsin Isman resmi didaulat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Semanding.
Seiring berjalannya waktu, PP Sirojul Ulum berubah menjadi Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Sirojul Ulum (PPTQSU). Untuk merespon tuntutan zaman, didirikan pula beberapa unit lembaga pendidikan seperti
- Raudhatul Athfal Sirojul Ulum (1989)
- MI Sirojul Ulum (1991)
- Yayasan Pendidikan Islam Sunan Ampel
- MTs Sirojul Ulum (1997)
Hingga tahun 2011, jumlah santri mencapai lebih dari 500 orang, dengan alumni sebanyak 745 alumni putra dan 784 alumni putri dari berbagai daerah. Bahkan, ada yang berasal dari Malaysia.
Kepribadian
KH. Muhsin Isman dikenal sebagai sosok yang sederhana, istiqomah, alim, dan pekerja keras. Ia selalu salat berjamaah dan sangat memuliakan tamu. Dalam mendidik santri, ia dikenal sangat sabar. Bahkan, ketika membangunkan santri untuk salat Subuh dan mendapat lemparan bantal, Kiai Muhsin tetap sabar dan tidak pernah marah. Jika ada santri yang kurang mampu secara ekonomi, beliau tidak segan-segan membantu dengan ikhlas.
Kang Jazuli, salah satu santri yang pernah melayani Kiai Muhsin selama 14 tahun mengatakan,
“Kiai Muhsin niku mboten nate ngomongno elek e santri wonten ngajenge wali santri”
(Kiai Muhsin itu tidak pernah sama sekali membicarakan keburukan santri di hadapan orang tuanya).
Baca juga: Adab dan Ilmu: Kedekatan Habib Zein al-Habsyi dan Abah Guru Sekumpul
Sementara dalam pandangan mertuanya, Nyai Asiyah, sosok KH. Muhsin Isman
“Muhsin itu dalam segala tindak tanduknya keseharian selalu berpedoman pada Al Quran, bahkan pada hal hal sederhana pun. Pernah suatu ketika saat menjelang hari raya dimana ibu nyai mengeluh tidak memiliki sesuatu untuk lebaran (kesulitan ekonomi) beliau masuk ke kamar, dan beberapa saat kemudian ada saja orang yang memberikan beras, jajan dan lainnya”.
KH. Nasir juga menambahkan,
“Kiai Muhsin termasuk salah satu kiai yang selalu khidmah pada agama, ikhlas dan ma’rifat, bahkan jiwa Kiai Muhsin adalah Al Quran, Al Quran betul betul ada di dadanya”.
Wafatnya KH. Muhsin Isman
Beberapa hari sebelum wafat, KH. Muhsin Isman berpesan kepada salah satu orang terdekatnya, H. Sulaiman Lubis. Ia mengatakan bahwa dirinya kedatangan tamu yang menyampaikan salam dari Ilahi Robbi, dan bahwa hari Rabu adalah saatnya untuk pergi bersamanya.
“Yai nyampek aken, Sulam benjang dinten rebo panjenengan sampun wancine nderek kulo.”
(Kiai menyampaikan, Sulam besok hari rabu. anda sudah waktunya ikut saya)
Menjelang wafat, sebagai anggota Dewan Syuro PKB Kediri, KH. Muhsin Isman sempat menghadiri Muktamar PKB di Surabaya. Di sela-sela acara itu, KH. Muhsin Isman berkata kepada H. Sulaiman Lubis,
“Ji aku rebo iki wes tet, awakmu kudu ngewangi tenanan.”
(Ji, rabu ini waktu saya sudah habis, kamu harus sungguh-sungguh membantu sepenuh hati.).
Tak lama setelah itu, Kiai Muhsin sempat dirawat di Rumah Sakit HPA Tulungrejo. Pada tanggal 2 September 2014, bertepatan dengan 7 Dzulqa’dah 1435 H, KH. Muhsin Isman Al-Hafidz berpulang ke rahmatullah.














