Mengenal Filsafat Bersama Ustaz Fahruddin Faiz

Mengenal Filsafat Fahruddin Faiz

Mengenal Filsafat Bersama Ustaz Fahruddin Faiz

Mengapa manusia butuh bernafas? Mengapa kita memiliki perasaaan? Mengapa kamu mencintai dia sedangkan dia tidak? Mengapa manuver terbang kecoak sulit diprediksi?

Pernahkah kamu memikirkan hal-hal di atas? Bila pernah berpikir demikian, selamat kamu telah berfilsafat. Filsafat secara ide dasar adalah aktivitas mempertanyakan segala hal yang ada dan mencoba mencari tahu jawaban yang memiliki kadar kebenaran paling tinggi. 

Di masa sekarang, filsafat bagi sebagian orang identik dengan kata ruwet, mengada-ada, sulit dipahami dan anti agama. Hal ini dapat dimaklumi karena dari semua cabang ilmu pengetahuan, bidang filsafat adalah bidang yang paling sulit sebab ia menggunakan istilah yang abstrak. 

Setelah kemunculan perdananya pada tahun 2013 melalui  kegiatan “ngaji filsafat”. Ustaz Fahruddin Faiz menjadi titik temu yang menarik sebab beliau mampu menyederhanakan filsafat yang dipandang berat menjadi bahasa yang ringan dan mudah dicerna banyak kalangan. Beliau selain menjadi dosen dan wakil dekan di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga seorang penulis yang produktif. Beberapa karyanya antara lain: Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks-Konteks dan Kontekstualisasi, Filosof Juga Manusia, Sebelum Filsafat, Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran; dan masih banyak lagi.

Baca juga: Mengulas Toleransi dari Buku Nasihat-Nasihat Keseharian

Dalam buku Ustadz Fahruddin Faiz  yang berjudul Sebelum Filsafat, beliau berupaya menyediakan sebuah seremoni perkenalan ringan bagi mereka yang baru atau kebingungan mengenal ilmu filsafat. Berikut 4 pertanyaan paling menarik dari beragam topik agenda perkenalan di dalam buku Sebelum Filsafat.

Pertanyaan pembuka: Apa itu filsafat?

Filsafat ialah kisah pergumulan dan perjuangan manusia memahami dunia dan eksistensi serta esensi hidupnya. Begitu akal dan pikiran manusia berfungsi, saat itu pula aktivitas kefilsafatan dimulai. Begitu seorang anak lahir dan akalnya berkembang, ia pun akan mempertanyakan apapun di sekelilingnya dan saat itulah aktivitas berfilsafat dimulai.

Secara definitif filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan. Filsafat adalah perenungan dan telaah terhadapat pertanyaan-pertanyaan paling penting tentang segala hal dan terakhir dalam satu visi hidup yang menyeluruh dan utuh. Mengutip dari Mohammad Harta mengemukakan bahwa definisi filsafat itu tidak usah diperdebatkan terlalu panjang karena apabila seseorang telah banyak membaca dan mempelajari filsafat, orang itu dengan sendirinya akan mengerti apa yang dimaksud filsafat, sebab lebih mudah menjelaskan karakter berpikir filosofis daripada definisi filsafat.

Pertanyaan kedua: Siapa yang butuh filsafat?

Pada hakekatnya filsafat adalah sebuah tantangan untuk tidak hidup secara mekanis, ikut-ikutan, taklid, dan mengalir tanpa tahu kemana, untuk apa, dan mengapa. Seorang empu filsafat yang bernama Socrates pernah mengatakan satu jargon yang sangat dikenal di dunia filsafat, yaitu “The uniexamined life is not worth living” (Hidup yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak layak dijalankan). Hidup tidak boleh dibiarkan mengalir begitu saja, tidak boleh dibiarkan berjalan apa adanya tanpa tahu harus kemana dan mengapa harus demikian.

Baca juga: Berpikir itu Melelahkan Sekaligus Menyenangkan

Hidup harus diuji, diketahui, direncanakan dan dipahami, kemudian dijalankan dalam alternatif terbaiknya. Nah cara paling jitu untuk menguji hidup itulah yang menjadi bidikan utama filsafat. Louis O. Kattsoff dalam Pengantar Filsafat-nya berkata, “Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak”.

Pertanyaan ketiga: Apakah filsafat bertentangan dengan agama?

Dari berbagai pandangan secara umum dapat dikatakan bahwa meski ada pandagan miring dari kalangan beragama terhadap fillsafat, para filsuf dari kalangan beragama banyak berpendapat bahwa antara filsafat dan agama sendiri ternyata tidak bertentangan. Ketidakbertentangan filsafat dan agama ini mudahnya bisa dilihat dari misi keduanya untuk menunjukkan kebenaran kepada manusia, meskipun jalannya berbeda.

Agama ingin menunjukkan kebenaran kepada manusia melalui jalur otoritas yang dipandang lebih tinggi dari manusia, yaitu Tuhan dan kitab suci. Sementara filsafat ingin menuntun manusia ke dalam kebenaran dengan pemakaian inteligensi secara optimal. Baik filsafat maupun agama, kalau berjalan secara konsisten dan serius tanpa dicampuri oleh kepentingan-kepentingan tertentu kecuali hanya demi kebenaran, pasti suatu ketika akan bertemu dalam kebenaran tunggal. Jadi pada prinsipnya tidak ada pertentangan.

Pertanyaan keempat: Apa yang diperoleh dari filsafat?

Secara ideal filsafat menjanjikan banyak hal besar dan penting, antara lain: kesadaran hidup, kedalaman pemahaman, kepuasan rasional, kebijaksanaan praksis dan lain sebagainya. Akan tetapi, harus diakui kecenderungan dan orientasi berpikir manusia secara umum pada saat ini berpola pragmatis dan positivistik. Pragmatis dalam arti lebih melihat hasil dan manfaat langsung, dan positivistik dalam arti lebih percaya kepada hal yang langsung tampak mata dan konkret mereduksi ketertarikan dan minat orang kepada filsafat yang sering dianggap ilmu langit dan pekerjaan para pengkhayal.

Secara lebih detail bisa disebut bahwa filsafat secara langsung atau tidak dapat meningkatkan keahlian (skill) seperti; berpikir kritis, kemampuan argumentasi, kemampunan komunikasi, dan kemampuan perencanaan―tentunya kemampuan tersebut bermanfaat di segala bidang yang ada dunia.

Bagamaina? Sudah mulai mengenal filsafat? Semoga kutipan pemaparan Ustadz Fahrudin Faiz di atas dapat mudah dimengerti. Dengarkan juga kajian menarik Ustadz Fahruddin Faiz melalui youtube atau podcast “Ngaji Filsafat”.  Thank you~

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Mahasiswa semester akhir yang mengidolakan Ferry Irwandi dan sedang berupaya menempuh laku budhi.

Artikel dari Penulis