Syekh Ngabdullah Selomanik: Jejak Dakwah Kaum Sayyid di Dieng — Dieng memiliki sejarah panjang dalam perkembangan agama Islam hingga akhirnya menjadi kawasan dengan mayoritas penduduk yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah. Proses islamisasi di dataran tinggi ini tidak lepas dari peran penting kaum Sayyid.
Keislaman Nusantara pada masa lampau tampaknya tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para tokoh Arab-Hadrami. Seperti yang dikemukakan Azyumardi Azra, ulama Arab-Hadrami memainkan peran signifikan dalam penyebaran Islam di wilayah ini. Bahkan, para pendakwah terkemuka awal di Jawa yang dikenal sebagai Walisongo berasal dari keturunan Hadrami (Hadramaut), termasuk Syekh Ngabdullah Selomanik yang menjadi perpanjangan tangan dakwah Walisongo (Rakhmadi, 2021).
Baca juga: Jejak Dakwah Sayyid Ibrahim Ba’abud Kharbasani: Dari Tarekat hingga Pendirian NU di Wonosobo
Pada masa pasca-Walisongo, gerakan dakwah kaum Sayyid (keturunan Rasulullah Saw.) tidak lagi terorganisasi secara formal. Namun, pendekatan kultural yang diwariskan oleh Walisongo tetap digunakan dalam penyebaran Islam. Hal ini terlihat dalam aktivitas dakwah di dataran tinggi Dieng pada abad ke-16 dan ke-17 melalui sosok Syekh Ngabdullah Selomanik (Hidayatullah, 2022).
Biografi Syekh Ngabdullah Selomanik
Syekh Ngabdullah Selomanik, atau dikenal juga sebagai Ki Ageng Selomanik, adalah tokoh sentral dalam penyebaran Islam di wilayah Wonosobo, khususnya di dataran tinggi Dieng. Menurut sejumlah catatan sejarah, beliau merupakan putra dari Roro Sujilah dan Sayyid Faqih. Roro Sujilah adalah cucu Raden Dholok (Raden Manguri), putra Bhre Kertabumi Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir.
Dengan demikian, dari garis ibu, Syekh Ngabdullah adalah cicit dari Raja Majapahit terakhir. Dari garis ayah, beliau merupakan keturunan Sayyid Faqih bin Muhammad bin Thoyib hingga bersambung kepada Sayyidina Hasan al-Mujtaba, putra Sayyidah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib, cucu dari Nabi Muhammad Saw. (Shidiq, 2023).
Baca juga: KH. Munir Hasan dan Keteladanan yang Tak Pernah Padam
Syekh Ngabdullah dimakamkan di Dusun Kalilembu, Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo—sekitar 1 km dari kompleks Candi Dieng. Dalam tradisi Jawa, lokasi makam di tempat tinggi melambangkan kedudukan spiritual yang tinggi. Oleh karena itu, para ulama dan raja biasanya dimakamkan di pegunungan (Shine).
Dahulu, makam ini sering didatangi oleh penganut kejawen untuk melakukan semedi guna mencari kekayaan. Namun sejak 1940-an, setelah KH. Abdul Hamid (ulama dari Kajoran, Magelang) rutin berziarah, praktik-praktik penyimpangan mulai berkurang. Menjelang reformasi 1998, Gus Dur beberapa kali mengunjungi makam ini dan menyatakan bahwa tokoh yang dimakamkan di sana adalah Syekh Ngabdullah Selomanik, pendakwah Islam pertama di Dieng. Gus Dur pun menganjurkan agar haul beliau diperingati setiap Kamis akhir bulan Muharram (Shidiq, 2023).
Kiprah Dakwah Syekh Ngabdullah Selomanik
Syekh Ngabdullah Selomanik semula mengabdi di Kesultanan Demak sebagai pembantu dan prajurit muda di bawah komando Senopati Jimbun (Raden Patah), dengan gelar Rakyan Selomanik. Karena jasanya, beliau diangkat menjadi Tumenggung. Namun, setelah Raden Patah wafat dan terjadi konflik internal di Kesultanan Demak, Syekh Ngabdullah memilih mengasingkan diri ke pedalaman dan akhirnya menetap di dataran tinggi Dieng.
Di sana, beliau menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang mayoritas masih memeluk agama Hindu, Buddha, dan Kapitayan. Menurut budayawan Dieng, Alif Fauzi, beliau bahkan berhasil mengislamkan Kyai Kaladete, sosok yang diyakini sebagai leluhur anak-anak berambut gimbal di Dieng.
Dalam berdakwah, Syekh Ngabdullah mengajarkan berbagai ilmu, mulai dari kanuragan hingga hikmah. Ia didampingi oleh beberapa pengikut setia seperti Kyai Pido Ibrahim, Kyai Jagang Joyo, Kyai Besik, dan Ki Ageng Gribig. Murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama besar di tanah Jawa antara lain Pangeran Kajoran, Kyai Ageng Pandan Alas, Pangeran Kanduruhan, dan Kyai Ageng Pandan Wangi (Shidiq, 2023).
Daftar Referensi
Rakhmadi, A. J. (2021, Desember 20). Ulama Arab-Hadrami dan Peran Keagamaannya di Nusantara. Diambil kembali dari suaramuhammadiyah.id.
Hidayatullah, A. (2022). Jejak Kaum Sayyid dalam Pribumisasi Islam di Dieng. I’tida (Journal of Da’wah and Communication.
Shidiq, N. (2023). Sejarah Perkembangan Islam di Wonosobo (Historiografi Ulama dan Pesantren). Wonosobo: UNSIQ Press.
Shine, H. (t.thn.). Syekh Abdullah Selomanik al-Qodiri al-Hasani Dieng Wonosobo. Diambil kembali dari elzeno.id.














