KH. Munir Hasan dan Keteladanan yang Tak Pernah Padam

KH. Munir Hasan

KH. Munir Hasan dan Keteladanan yang Tak Pernah Padam “Kiai Munir Hasan itu orangnya sangat wira’i,” kata Ustadz Sarbai, salah satu murid Kiai Munir. Karena penasaran, saya pun bertanya, “Wira’i Kiai Munir itu seperti apa?”

“Sebagai murid, saya punya kedekatan khusus dengan beliau. Karena itu, saya sering diajak bepergian, terutama saat sowan ke sejumlah kiai sepuh. Tapi selama perjalanan itu, tidak pernah sekalipun saya diajak singgah ke warung—meskipun hanya untuk ngopi atau sekadar memesan makanan.

Saat saya tanya terkait hal itu, dengan enteng Kiai Munir  menjawab, “Engko nek aku mangan ndek warung, terus didelok santri utowo jamaah sing gak kuwat tuku sego nok warung, sak naliko barokahe bakale ilang.” (Kalau saya makan di warung, lalu ada santri atau jamaah yang melihat—yang mungkin tidak mampu membeli nasi di warung—saat itu juga keberkahannya bisa hilang.)”

Latar Belakang dan Awal Perjalanan Kiai Munir

KH. Munir Hasan adalah pengasuh sekaligus muassis (pendiri) Pondok Pesantren Darussalam, sebuah pesantren kecil yang terletak di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Meskipun skalanya kecil, pesantren ini telah berhasil menelurkan sejumlah alumni yang turut andil dalam syiar Islam di sekitar Malang Raya. Bahkan, beberapa alumninya kini tersebar di beberapa kota di Jawa Tengah.

Mempunyai nama lengkap Muhammad Munir, kiai yang sederhana itu lahir di Batu, Malang, pada tahun 1952. Ia merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, putra dari pasangan Pak Hasan dan Ibu Rufiatun.

Kedua orang tuanya dikenal sebagai petani sukses yang memiliki beberapa petak sawah. Dalam mengelola sawah-sawah tersebut, mereka mempekerjakan beberapa orang untuk membantu. Di sela-sela aktivitas bertani, pasangan ini juga meluangkan waktu untuk mendalami agama, khususnya dari Pak Hasan yang memang memiliki pengetahuan agama lebih mendalam dibanding warga sekitar.

Perjalanan Ilmu dan Pengabdian di Pesantren

Munir kecil memperoleh dasar-dasar ilmu agama dari kedua orang tuanya. Baru pada usia 13 tahun, ia dikirim untuk mondok di Pondok Pesantren Sumbersari, Kediri, yang diasuh KH. Imam Faqih Asy’ari (1917-1992), seorang ulama alim al-‘allāmah yang dikenal luas keilmuannya.

Dengan ketekunan dan semangat yang tinggi, Munir muda menimba berbagai cabang ilmu agama di bawah bimbingan Kiai Imam Faqih. Di pesantren itulah ia menjalin persahabatan dengan sejumlah santri lain, yang kelak menjadi partnernya dalam berdakwah—di antaranya KH. Muhammad Shodiq dari Bumiaji dan KH. Abdul Hamid dari Mojorejo.

Baca juga: Sayyid Alwi Jamalullail: Penyebar Islam di Tanah Mandar, Sulawesi Barat

Munir dikenal sebagai santri yang sangat patuh kepada gurunya. Suatu ketika, Kiai Imam Faqih Asy’ari memberinya tugas untuk pergi ke daerah Katang, Kediri, dengan tujuan tertentu. Namun, ada satu syarat: Munir hanya diperbolehkan berjalan kaki sambil terus membaca surat Al-Insyirah sebanyak tiga kali.

Dalam hati, Munir sempat bertanya, kenapa Kiai Faqih memerintahnya demikian? Namun, karena rasa hormat kepada guru, ia memendam rasa penasarannya. Dalam perjalanan, sebuah mobil tiba-tiba menabraknya hingga tubuh Munir terpental. Anehnya, ia tidak hanya selamat, tapi juga sama sekali tidak mengalami luka—bahkan goresan pun tidak ada. Peristiwa ini semakin menguatkan keyakinan Munir akan keberkahan dan karamah dari ketaatan kepada guru.

Mendirikan Pondok Pesantren Darussalam

Pada tahun 1986, Munir resmi boyong dari Pondok Pesantren Sumbersari. Selama kurang lebih 18 tahun, ia telah merasakan nikmatnya cahaya ilmu dari Kiai Imam Faqih Asy’ari. 

Setahun setelah meninggalkan pesantren, Munir mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Masfiyah, putri dari KH. Ahmad Toha Romlan—pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah, Kebondalem, Kediri. Kiai Ahmad Toha sendiri masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kiai Imam Faqih Asy’ari, sehingga hubungan keduanya makin erat secara spiritual maupun keluarga. Kini, pesantren yang didirikan oleh Kiai Ahmad Toha itu diasuh oleh putranya, Gus Imam Baihaqi.

Usai menikah—yang sejak saat itu mulai dikenal sebagai Kiai Munir—diminta untuk mengelola pesantren milik mertuanya. Di saat yang hampir bersamaan, kedua orang tuanya juga memintanya untuk kembali ke kampung halaman di Desa Giripurno, Batu, guna mengajar masyarakat sekitar.

Menghadapi dua pilihan, Kiai Munir berinisiatif mengambil jalan tengah: ia bolak-balik dari Kandangan ke Batu demi menunaikan kedua amanah sekaligus. Perjalanan pulang-pergi itu ia jalani selama kurang lebih 6 tahun.

Sebenarnya, jauh sebelum itu—sekitar tahun 1984—Kiai Munir telah mulai mengajar di surau milik orang tuanya, meski hanya dua kali dalam sepekan. Di luar itu, ia tetap menetap di pondok karena belum mendapat izin pulang penuh dari KH. Imam Faqih Asy’ari.

Baca juga: Jejak Dakwah Islam Sayyid Jalaluddin Al-Aidid di Sulawesi Selatan

Pada awal merintis pengajian di kampung halamannya, Kiai Munir sempat menjalani Tapa Pepe sebagai bentuk riyadlah (latihan spiritual). Dalam tradisi Jawa, Tapa Pepe berarti berjemur di bawah terik matahari, dan lazim dilakukan sebagai bentuk protes kepada penguasa atau sebagai ekspresi dari sebuah harapan yang ingin dicapai. Bagi Kiai Munir, laku spiritual ini menjadi wasilah untuk memohon keberkahan atas ilmu yang akan diajarkannya.

Buah dari riyadlah itu pun terasa—pengajian yang ia rintis berkembang, dan ilmu yang diajarkannya membawa manfaat bagi banyak orang. Dalam mengelola pengajian, Kiai Munir tidak bekerja sendiri. Ia dibantu oleh saudara-saudaranya, terutama KH. Abdul Karim, salah satu kakaknya.

Pondok Pesantren Darussalam yang Sederhana namun Bermakna

Jauh sebelum Kiai Munir kembali ke Giripurno, Kiai Karim sudah mulai mengajar sejumlah kitab matan di surau peninggalan orang tua mereka sejak tahun 1980. Kepulangan Kiai Munir menambah warna baru dalam tradisi keilmuan di sana, khususnya dalam bidang ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan ushul fiqih.

Meskipun berasal dari keluarga yang sama, kedua bersaudara ini memiliki kecenderungan yang berbeda. Kiai Munir lebih fokus pada pendidikan dan pengajaran ilmu agama, terutama ilmu alat, sedangkan Kiai Karim lebih menekuni aspek-aspek metafisik dan spiritual. Perbedaan itu justru saling melengkapi dalam dakwah mereka, menjadikan pengajian di Desa Giripurno tumbuh dengan keunikan dan kekayaan khasanahnya sendiri.

Baca juga: Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Hamid, Penyebar Islam di Klungkung Pulau Bali

Dalam waktu yang relatif singkat, warga sekitar mulai mempercayakan putra-putri mereka kepada Kiai Munir dan Kiai Karim untuk belajar ilmu agama. Gemuruh dakwah Islam pun perlahan memancar terang dari Desa Giripurno.

Seiring waktu, surau tempat mereka mengajar berkembang menjadi sebuah pondok pesantren yang diberi nama Darussalam. Meski tidak sebesar pesantren-pesantren ternama seperti Lirboyo atau Gontor, Darussalam hadir sebagai pelita ilmu di tengah masyarakat. Dari pesantren sederhana inilah lahir para santri yang kemudian menjadi pionir dakwah di Kota Batu dan sekitarnya.

Dalam proses belajar-mengajar, Kiai Munir dan Kiai Karim tidak pernah memungut biaya sepeser pun dari para santri. Keikhlasan mereka dalam mengabdi menjadi teladan yang langka, terlebih di tengah gaya hidup yang kian hedonis dan serba komersial. Bagi mereka, ilmu adalah cahaya, dan cahaya tak layak dijual.

Sosok Kiai Munir yang Taat dan Ramah

Kiai Munir dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, murah senyum, dan jauh dari kesan eksklusif. Ia bahkan kerap disebut sebagai orang yang “gak ngawaki kiai”—enggan menempatkan dirinya sebagai seorang kiai yang harus dihormati berlebihan.

Sehari-hari, beliau hidup layaknya warga desa lainnya. Setiap pagi, ia turun ke sawah. Katanya, agar bisa istighna’ ‘aninnas—tidak menggantungkan hidup pada pemberian orang lain. Sebuah sikap mandiri yang sekaligus menunjukkan keteladanan dalam berikhtiar.

“Bapak niku tiyang ingkang entengan lan remen sanget silaturahmi,” kenang Zakaria Anshori, putra sulung Kiai Munir Hasan. (Bapak adalah sosok yang ringan tangan dan sangat gemar bersilaturahmi.)

Zakaria menambahkan bahwa hampir setiap hari, ayahnya menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke rumah tetangga, sahabat, alumni, atau para santri. Bukan sekadar berkunjung, tapi juga menanyakan kabar keluarga mereka, kondisi pekerjaan, dan kesehatan seluruh anggota keluarga. Perhatian yang tulus itu membuat sosok Kiai Munir begitu dekat dan membekas di hati banyak orang.

Akhir Hayat KH. Munir Hasan

KH. Munir Hasan yang dikenal sebagai sosok yang sederhana, tutup usia pada tanggal 5 Desember 2015. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat sekitar. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman umum Giripurno, tempat yang telah menjadi saksi perjalanan hidupnya yang penuh dedikasi.

Setelah Kiai Munir wafat, tampuk kepemimpinan Pondok Pesantren Darussalam diambil alih oleh Kiai Jaim Hasan, adik kandung beliau, yang melanjutkan perjuangan dan dakwah sang kakak dengan penuh amanah.

Sumber Kisah :

Catatan pribadi penulis.

Gus Zakaria Anshori (putra sulung KH. Munir Hasan)

Ustadz Sarba’i (santri senior KH. Munir Hasan)

Bagikan di:

Artikel dari Penulis