Biografi Nurtanio Pringgoadisuryo, Bapak Dirgantara Indonesia

Biografi Nurtanio Pringgoadisuryo

Biografi Nurtanio Pringgoadisuryo, Bapak Dirgantara Indonesia – Nurtanio Pringgoadisuryo merupakan salah satu nama besar dalam sejarah industri Dirgantara Indonesia. Beliau merupakan perwira tinggi di TNI Angkatan Udara atau yang dulunya dikenal dengan nama AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Berpangkat sebagai Marsekal Muda, beliau juga merupakan perintis dari industri penerbangan di Indonesia, yang kini dikenal dengan nama PT. Dirgantara Indonesia atau yang biasa disingkat PTDI. Dengan kata lain, beliau merupakan satu dari sekian banyak orang yang berjasa dalam perkembangan penerbangan di Indonesia. Berikut biodata dan biografi dari Nurtanio Pringgoadisuryo.

Biodata Nurtanio Pringgoadisuryo

Nama LengkapNurtanio Pringgoadisuryo
PangkatMarsekal Muda TNI
DinasTNI Angkatan Udara
Tempat, Tanggal LahirKandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923
MeninggalBandung, 21 Maret 1966
Pendidikan TerakhirFEATI University (Far Eatern Aero Technical Insitute)

Biografi Nurtanio Pringgoadisuryo

Kehidupan Pribadi dan Ketertarikan Terhadap Penerbangan

Nurtanio Pringgoadisuryo lahir di Kandangan (kini masuk wilayah Kalimantan Selatan) pada tanggal 3 Desember 1923. Sejak kecil Nurtanio memang sudah memiliki ketertarikan dengan dunia penerbangan. Pada periode 1930-an dia seringkali menonton dan mengamati pesawat terbang di sekitar Semarang yang pada saat itu kegiatan penerbangan dilakukan di lapangan udara Kalibanteng (Kini Bandara Achmad Yani).

Baca juga: Biografi Manfred “Red Baron” von Richthofen, Pilot Muda yang Menjadi Momok Sekutu pada Perang Dunia I

Ketertarikannya terhadap dunia penerbangan semakin tinggi saat masih menempuh pendidikan di sekolah menengah tinggi teknik (Kogyo Senmon Gakko) yang pada saat itu negara Indonesia masih dalam masa pendudukan Jepang. Di sekolah tersebut Nurtanio mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Junior Aero Club (JAC) yang berfokus dalam teknik-teknik pendirian pesawat terbang dan pembelajaran mengenai sistem aerodinamikanya.

Pada masa ini Nurtanio juga berkenalan dengan R. J. Salatun yang juga memiliki minat terhadap dunia penerbangan yang kelak menjadi tiga serangkai bersama Nurtanio dan Wiwiek Soepono dalam perintisan kedirgantaraan Indonesia. Dia juga bertemu dengan R Iswahjoedi yang pada saat itu masih menjadi seorang guru olahraga, namun dia juga memiliki pengalaman dalam dunia penerbangan karena sempat mengikuti pelatihan di negeri Belanda. Berkat kawan-kawan dan mentornya tersebut Nurtanio semakin bersemangat dalam menekuni dunia penerbangan khususnya rancang bangun pesawat.

Pada masa kemerdekaan, Nurtanio kemudian bergabung dengan AURI dan kemudian dia diberikan jabatan sebagai Sub Bagian Rencana di bagian Kepala Bagian Rencana dan Penerangan. Pada masa ini Nurtanio bersama kedua kawannya yakni Wiwiek Soepono dan R. J. 

Salatun mendapatkan tugas untuk mendesain sistem kepangkatan Angkatan Udara Republik Indonesia yang dibantu oleh Halim Perdanakusuma yang sempat berdinas di Angkatan udara Britania Raya (Royal Air Force). Di masa ini Nurtanio juga kian mematangkan konsep mengenai penerbangan dan pesawatnya yang kelak akan menghasilkan beberapa pesawat buatan lokal.

Pesawat Hasil Karya Nurtanio Bersama Kawan-Kawannya

Nurtanio dengan Wiwiek Soepono sukses membuat beberapa Glider yang diberi nama NWG-1 (Nurtanio Wiwiek Glider). Pesawat berjenis Glider ini dibuat dengan banyak bahan atau bahkan bisa dibilang 100% buatan lokal. Pesawat yang terbuat dari kayu dan kain ini digunakan untuk melatih para calon penerbang sebelum nantinya akan dikirim ke India untuk mengikuti pendidikan penerbang lebih lanjut. Kemudian pada tahun 1948, Nurtanio berangkat ke Filipina untuk mengikuti pendidikan kedirgantaraan lanjutan.

Baca juga: Biografi Nikola Tesla, Perancang Sistem Listrik AC

Setelah kembali ke Indonesia, Nurtanio kemudian pada periode 1950-an merancang pesawat yang lebih modern dari sebelumnya. Pesawat ini berjenis anti-gerilya bermesin baling-baling, berbahan metal dan diberi nama “Si Kumbang”. Pesawat ini sukses uji terbang di sekitar Bandung meski sempat mengalami pendaratan darurat karena kesalahan teknis pada mesin. 

Pada saat itu AURI juga sedang disibukkan dengan kemungkinan adanya pergolakan gerilya di daerah-daerah karena imbas adanya ketidakpuasaan dengan pemerintah pusat. Hal ini membuat pengembangan lanjut pesawat ini terhenti. Meskipun demikian Nurtanio sukses membuat beberapa pesawat lainnya seperti pesawat latih “Belalang”, Pesawat olahraga “Kunang”, Pesawat penyemprot “Kinjeng” dan beberapa mesin terbang lainnya.

Masa Perintisan Perindustrian Penerbangan dan Akhir Hayat Nurtanio

Pada saat Menteri Keamanan Nasional dijabat oleh Jendral A.H. Nasution. Nurtanio kemudian mendirikan Lapip (Lembaga Persiapan Industri Penerbangan). Pada masa awal ini Nurtanio mendapatkan alih teknologi produksi dengan perakitan pesawat pertanian berjensi PZL-104 Wilga yang kemudian diberi nama “Gelatik”. Meskipun sempat tersendat masalah perekonomian namun para teknisi yang ikut dalam program pesawat “Gelatik” tersebut tercatat juga turut andil ketika Lapip berganti nama menjadi LIPNUR (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio). 

Para teknisi Lapip juga turut andil dalam memantau kesiapan armada udara AURI yang pada periode 1960-an dibanjiri pesawat-pesawat dari Uni Soviet dan negara blok timur lainnya. Meskipun dalam perkembangannya juga dipengaruhi oleh kebijakan politik Indonesia pada saat itu.

Nurtanio tutup usia pada tahun 1966 pada saat usia 42 tahun. Beliau mengalami kecelakaan ketika menerbangkan pesawat Aero 45 atau Arev yang merupakan pesawat buatan Cekoslowakia. Pesawat ini sebelumnya telah dimodifikasi dan akan digunakan untuk penerbangan keliling dunia. Namun takdir berkata lain, karena pesawat tersebut mengalami gagal mesin yang menyebabkannya jatuh dan menabrak sebuah toko. 

Pasca kematiannya Nurtanio sempat dilanda isu yang mengakibatkan LIPNUR berubah nama menjadi IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) dan menghilangkan nama Nurtanio. Meski demikian, dia tetap dinobatkan sebagai Bapak Dirgantara Indonesia bersama dengan B. J. Habibie. Penobatan tersebut dilakukan dalam acara “Resepsi HUT TNI AU ke-73” di Halim Perdanakusuma, Selasa 9 April 2019.

Demikianlah biodata dan biografi dari Nurtanio Pringgoadisuryo, bapak dirgantara Indonesia.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Mahasiswa Yang Hobi Jalan-Jalan Dan Menulis Agar Tidak Hilang Dari Roda Zaman.

Artikel dari Penulis