Biografi Helen Keller, Pejuang Hak-Hak Kaum Difabel

Biografi Helen Keller

Biografi Helen Keller, Pejuang Hak-Hak Kaum Difabel – Helen Keller adalah seorang pendidik dan pejuang hak-hak bagi kaum difabel, terutama tunanetra dan tunarungu di Amerika. Keterbatasan yang dialaminya sejak usia dua tidak lantas menghalangi Helen dalam belajar dan berkarya.

Kehidupan Awal

Lahir di Alabama pada 27 Juni 1880, Helen merupakan anak sulung dari dua bersaudara perempuan. Ayahnya, Arthur H. Keller, adalah seorang veteran dari Tentara Konfederasi saat Perang Saudara. Ibunya, Katherine Adams Keller, adalah ibu rumah tangga. Dengan kondisi Arthur sebagai pensiunan, keluarga Keller hidup dengan sederhana dari penghasilan perkebunan kapas mereka.

Saat lahir, Helen lahir dengan kelima inderanya lengkap tanpa cacat. Sayangnya, ketika ia berusia 19 bulan, Helen menderita sakit demam tinggi yang menyebabkan ia kehilangan penglihatan dan pendengarannya. Dokter pada masa itu menyebut penyakit tersebut ‘demam otak’, yang kemudian dispekulasi lebih lanjut oleh dokter modern sebagai demam skarlet atau meningitis.

Masa kecil Helen banyak ditemani oleh Martha Washington, putri dari koki keluarga Keller. Mereka mengembangkan bahasa tersendiri untuk berkomunikasi. Tentu saja, awal dari perubahan pada Helen ini tidak mudah. Ia menjadi anak yang liar dan sulit diatur, hingga kerabatnya menyarankan pada Arthur dan Katherine agar mencari bantuan profesional untuk Helen.

Baca juga: Biografi Marilyn Monroe, Aktris Papan Atas Lambang Sensualitas Internasional

Saat menginjak usia 6, ia diperiksa oleh Alexander Graham Bell, yang kemudian mempertemukannya dengan seorang guru muda berusia 20 tahun bernama Anne Sullivan dari Institusi Perkins di Boston. Anne Sullivan mendampingi Helen hingga 49 tahun lamanya, sejak 1887 sampai Sullivan meninggal pada tahun 1936.

Kata Pertama dan Adaptasi

Didampingi Anne, Helen mempelajari cara berkomunikasi yang lebih umum agar bisa dipahami oleh orang-orang selain dirinya dan Martha. Ia mengalihkan pusat inderanya pada sentuhan dengan merasakan barang-barang dan mengasosiasikan sentuhan tersebut dengan kata-kata yang dieja menggunakan jemari di telapak tangannya.

Tepatnya pada tanggal 5 April 1887, Helen mempelajari kata pertamanya bersama Anne. Saat itu, Anne sedang kebingungan mencari cara untuk membedakan beberapa kosakata seperti ‘gelas’, ‘susu’, dan ‘minum’. Ia pun mengajak Helen ke halaman dan menyalakan air keran di atas telapak tangan Helen. Dengan adanya aliran air dari keran, Anne mengeja kata “a-i-r” di telapak tangan Helen, perlahan, kemudian semakin cepat. Dengan cara itu, Helen pun paham bahwa “air” adalah benda atau cairan yang sedang membasahi tangannya. Setelah itu, Helen langsung menarik tangannya dari air dan menyentuh segala sesuatu di sekitarnya, meminta Anne untuk mengeja nama tiap benda. Menjelang malam, Helen sudah mempelajari sekitar 30 kata baru.

Pada tahun 1888-1890, ia mempelajari huruf Braille di Institusi Perkins, kemudian kemampuan berbicara di bawah asuhan Sarah Fuller dari Sekolah Horace Mann untuk Orang Buta di Boston. Selain ejaan sentuhan dan Braille, Helen juga belajar membaca gerak bibir dengan menyentuh bibir dan tenggorokan lawan bicaranya.

Pendidikan

Setelah lulus dari Institusi Perkins, Helen melanjutkan pendidikan di Sekolah Wright-Humason untuk Orang Tuli di New York saat menginjak usia 14 dan Sekolah Cambridge untuk Perempuan di Massachusetts pada usia 16.

Cerita Helen dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Helen mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh terkenal, salah satunya Mark Twain. Sang penulis kemudian memperkenalkan Helen kepada kawannya, Henry H. Rogers, seorang bos eksektif perminyakan. Terpesona akan bakat dan kecerdasan Helen, Henry pun memutuskan untuk membiayai pendidikan Helen di Radcliffe College pada tahun 1900 dan ia pun lulus dengan gelar cum laude pada 1904, usia 24 tahun.

Di tahun berikutnya, dengan bantuan Anne, Helen menulis buku pertamanya yang berupa memoir, yaitu The Story of My Life. Memoiri ini mencakup kisah hidupnya sejak masa kecil hingga usia 21 tahun.

Aktivisme Sosial

Keterbatasan Helen tidak lantas membatasinya untuk berkarya. Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, Helen aktif terlibat dalam bidang politik dan sosial, terutama pemberdayaan perempuan, perdamaian, akses bagi difabel, dan sosialisme. Ia menjadi perwakilan bagi orang buta di hadapan Kongres untuk mengajukan peningkatan kesejahteraan dan masyarakat yang inklusif.

Pada tahun 1915, bersama George Kessler, Helen mendirikan Organisasi Helen Keller Internasional (Helen Keller International) yang berfokus pada mengurangi penyebab kebutaan dan malnutrisi. Pada tahun 1920, ia ikut mendirikan American Civil Liberties Union (ACLU) bersama aktivis HAM Roger Nash Baldwin dan lain-lain. Salah satu hasil perjuangan Helen adalah berhentinya perawatan bagi penyandang disabilitas di rumah sakit jiwa.

Meskipun begitu, perjalanan Helen tidak selalu mulus. Setelah lulus dari Radcliffe College, Helen bergabung dengan partai sosialis dan menulis banyak artikel atau esai mengenai sosialisme. Pandangan politiknya ini kerap dikecam. Banyak orang yang menghinanya dan menyangkut pautkan pandangan politiknya dengan keterbatasannya. Namun, Helen tetap teguh dengan pendiriannya saat itu.

Pada tahun 1946, Helen dinobatkan sebagai konselor hubungan internasional bagi American Foundation of Overseas Blind, atau organisasi tunanetra internasional Amerika. Selama 11 tahun, sejak 1946 hingga 1957, Helen mengunjungi 35 negara di lima benua untuk pekerjaannya tersebut. Melalui pidato-pidatonya, Helen telah menginspirasi jutaan orang.

Menginjak usia senja, Helen mulai menderita penyakit stroke dan terpaksa beristirahat di rumahnya di Connecticut. Helen meninggal dalam tidurnya pada tanggal 1 Juni 1968 dan dimakamkan di Kapel St. Joseph Katedral Washington berdampingan dengan gurunya, Anne Sullivan.

Referensi:

https://www.afb.org/about-afb/history/helen-keller/biography-and-chronology/biography

Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Pembaca akut yang masih belajar menulis sementara berkutat dengan Shakespeare dan kawan-kawan di kampus. Goodreads: usagii.

Artikel dari Penulis