Mengenal Butterfly Effect – Pernahkah kamu mendengar tentang Butterfly Effect atau efek kupu-kupu?
Istilah ini sudah tidak asing lagi dalam dunia psikologi. Secara sadar atau tidak, fenomena ini telah terjadi di kehidupan sehari-hari. Dilansir dari APA Dictionary of Psychology, Butterfly Effect atau efek kupu-kupu adalah suatu kecenderungan sistem yang kompleks dan dinamis terhadap suatu kondisi yang kemudian berubah karena hal-hal kecil. Butterfly Effect terjadi ketika tindakan atau hal kecil dilakukan memberikan pengaruh terhadap sesuatu hal hingga menimbulkan efek besar dalam jangka waktu panjang.
Istilah Butterfly Effect sendiri dicetuskan oleh ahli meteorologi dan matematikawan bernama Edward Norton Lorenz. Berawal dari kepakan sayap kupu-kupu yang ringan, tapi memiliki pengaruh besar terhadap wilayah lain yang bisa mengakibatkan tornado. Kepakan sayap ini terkesan ringan dan tidak memberi pengaruh pada sekitar, tetapi terjadi badai tornado akibat kepakan sayap kupu-kupu tersebut. Fenomena Butterfly Effect bisa memiliki dampak besar. Apabila tindakan atau hal kecil tersebut bernilai positif,, akan menghasilkan dampak besar yang semakin baik, begitu juga sebaliknya. Bisa disimpulkan bahwa sekecil apapun hal atau tindakan yang terjadi di suatu sistem, dapat memberi pengaruh besar terhadap sistem itu sendiri.
Karena teori ini, konsep Butterfly Effect diadopsi dalam psikologi dan digunakan sebagai konsep untuk memahami kehidupan. Sama seperti aspek kehidupan, langkah kecil yang dilakukan oleh seseorang bisa berdampak baik maupun buruk yang bisa memberikan efek besar di dalam hidup.
Beberapa contoh fenomena Butterfly Effect di dunia nyata, dilansir dari detik.com tentang kasus Adolf Hitler. Di perang dunia II, dia terkenal karena pembantaian massal warga Yahudi di benua Eropa. Sosoknya ditakuti dan dianggap terkuat di militer. Memiliki image seperti itu, banyak orang mengira Adolf Hitler menempuh jalan yang berbeda. Setelah diselidiki, ternyata Adolf Hitler pernah ditolak dua kali oleh Akademi seni rupa di Wina, Austria. Saat itu juga dia menyerah lalu memutuskan masuk di militer. Penolakan yang diterimanya pun karena alasan kecil. Namun, di masa depan, penolakan tersebut mengakibatkan peristiwa besar berupa pembantaian massal. Dampak besar di belakang ini adalah Perang Dunia II.
Contoh lainnya tentang seorang penulis yang seperti biasa menulis naskahnya. Namun tanpa disadari, penulis melakukan kesalahan kecil seperti salah ejaan atau salah ketik. Kesalahan ini pun menimbulkan reaksi negatif dari pembaca sehingga mereka melakukan protes. Akibat protes tersebut, masalah ini kemudian merambat sampai ke jalur hukum. Peristiwa ini terjadi karena kesalahan kecil, tetapi memiliki imbas besar.
Contoh lainnya lagi dari pengalaman saya sendiri. Pernah saya mengupload sebuah gambar di suatu platform online, dengan selipan kata-kata bijak dari penulis idola. Hal tersebut saya lakukan dengan tujuan ingin membagikan kata-kata positif yang baik. Saya hanya melakukan hal yang sederhana. Namun, saya tidak menyangka akan mendapat banyak respon positif dari netizen.
Dari banyaknya komentar positif, ada satu komentar yang bikin saya terenyuh. Karena gambar dan caption singkat yang saya bagikan, seseorang menjadi semangat dalam menjalani hidupnya. Membuat dia memiliki sudut pandang baru tentang hidup, di mana dia sedang mengalami fase berat yaitu membenci hidup dan dirinya sendiri. Karena hal kecil yang saya lakukan, pikiran seseorang pun menjadi terbuka. Dia menjadi lebih sadar akan dirinya dan memiliki semangat lagi meniti hidupnya.
Ada lagi contoh kasus seorang pengusaha muda bernama Adam Braun. Dia bertemu seorang pengemis kecil di jalanan saat akan menuju India. Adam menanyakan padanya apa yang paling diinginkan di dunia. Sang pengemis kecil menjawab bahwa dia hanya menginginkan sebuah pensil saja. Kalimat sederhana itu mampu membawa perubahan besar bagi Adam. Ia berhenti dari pekerjaannya dan memulai bisnis Pencil of Promise. Dengan investasi awal 25 dolar mereka akhirnya mengumpulkan 50.000.000 dolar. Seiring waktu, Adam berhasil mendirikan 450 sekolah serta menyediakan pendidikan berkualitas bagi 75.000 anak. Seorang anak yang menginginkan sebuah pensil mampu membukakan jalan bagi 75.000 anak untuk mendapatkan pendidikan.
Butterfly Effect ini memang menarik jika dikaitkan dengan perilaku manusia. Apalagi dalam keseharian dan lingkup sosial. Efeknya pun bisa berdampak positif maupun negatif.
Butterfly Effect bisa digunakan sebagai acuan. Bahwa menjaga setiap tindakan kecil atau keputusan yang diambil memerlukan pertimbangan secara matang. Langkah yang diambil harus dipikir benar-benar agar suatu tindakan tersebut tidak membawa kekacauan atau melukai orang lain. Jika hal tersebut terjadi, memungkinkan adanya efek besar yang berdampak negatif bagi hidup orang lain maupun diri sendiri.
Cara pandang ini tentunya bisa digunakan untuk mencegah adanya kekacauan atau kerusuhan di masa mendatang. Dampak dari Butterfly Effect sendiri memang tidak bisa diremehkan. Karena bisa berpengaruh terhadap lingkungan sekitar, bahkan dunia. Seperti yang terjadi dalam sejarah Perang Dunia II. Dari penjelasan yang saya jabarkan, bisa diambil pelajaran betapa pentingnya memiliki rasa hati-hati dalam melangkah atau mengambil keputusan di dalam hidup. Langkah atau tindakan kecil yang dilakukan tentu memiliki konsekuensi ke depannya. Bisa menimbulkan efek yang tidak terkira dan dampak besar entah dalam keadaan positif maupun negatif. Efek ini datangnya tidak diduga-duga dan tidak bisa diprediksi kapan waktunya.
Editor: Widya Kartikasari














