Sindrom Cinderella Complex, Apakah Kamu Salah Satunya?

Sindrom Cinderella Complex

Sindrom Cinderella Complex, Apakah Kamu Salah Satunya? – Mendengar kata Cinderella Complex apa yang terlintas di benak kalian? Kata Cinderella sendiri memang sudah tidak asing lagi. Kisah tentang seorang gadis cantik baik hati yang tertindas oleh ibu dan saudara tirinya dan di akhir cerita sang gadis menemukan cinta sejatinya. Ia bertemu seorang pangeran. Mereka hidup bahagia selamanya. Berbagai versi telah dimunculkan yang kemudian diadaptasi menjadi film. Berbagai versi cetak juga diterbitkan dalam bentuk buku. Kisah klasik ini merupakan dongeng sepanjang zaman yang memikat hati banyak orang. 

Cinderella Complex

Kembali lagi ke topik, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan Cinderella Complex? Cinderella Complex merupakan istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Colette Dowling, seorang terapis asal New York sekaligus penulis buku The Cinderella Complex: Woman’s Hidden Fear of Independence. Istilah ini tercetus setelah peneliti menemukan konflik mendalam yang terjadi pada seorang wanita dan berhubungan dengan kemandirian. Cinderella Complex merupakan istilah yang menggambarkan tentang kondisi psikologis seorang wanita yang memiliki rasa takut untuk menjadi mandiri baik secara disadari maupun tidak disadari. 

Dalam paradigma masyarakat Indonesia, wanita umumnya identik dengan kelembutan. Ada juga pandangan lain yang mengatakan bahwa wanita itu lemah. Sedangkan di sisi lain, laki-laki dianggap sebagai sosok kuat yang identik dengan kepemimpinan. Dari pengertian di atas bisa dilihat bahwa wanita dan laki-laki mempunyai perbedaan besar dalam hal peran dan sifat.

Baca juga: Mengapa Harus Ada Tampan dan Cantik?

Secara garis besar wanita dan lelaki memiliki perbedaan cukup signifikan. Karena hal itu, wanita rentan terkena sindrom ini yang bisa mempengaruhi kondisi psikisnya terutama dalam hal kemandirian. Cinderella Complex terbentuk berawal dari perbedaan perlakuan yang diterima oleh anak perempuan dan laki-laki sejak kecil. Anak perempuan mendapatkan dispensasi secara tidak langsung mengenai kemandirian. Pria dididik untuk mandiri sejak mereka dilahirkan, sedang wanita diajarkan untuk tidak dikhawatirkan pada permasalahan besar, dan pria dituntut untuk bisa melakukan berbagai macam hal. Cara  pandang tersebut dipengaruhi oleh bagaimana budaya mempengaruhi stereotipe dalam membedakan laki-laki dan perempuan. 

Seorang wanita dan laki-laki yang dibesarkan di dalam keluarga memiliki pola asuh yang berbeda. Mayoritas masyarakat sekitar mendidik laki-laki harus bisa menjadi sosok yang kuat dan tidak boleh lemah. Bahkan saya pernah mendengar menjadi seorang laki-laki, tidak boleh menangis. Sedangkan, di sisi lain pada umumnya semenjak lahir wanita tidak di didik untuk menghadapi ketakutannya dan tidak diajarkan untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Hal ini, merupakan pola asuh yang kurang tepat karena bisa berpengaruh di masa depan nanti.  Dari paradigma ini dan perbedaan pola asuh yang kurang tepat terhadap wanita mengenai kemandirian, bisa menyebabkan wanita memiliki ketergantungan yang berlebih pada seseorang baik di dalam keluarganya maupun kepada pasangannya. Akibatnya,  wanita bisa mengalami masalah kemandirian di dalam hidupnya.

Ciri-Ciri Pengidap Cinderella Complex

Berikut adalah beberapa ciri jika seorang wanita mengidap sindrom Cinderella Complex:

1. Ia akan sulit mengambil keputusan besar dalam hidupnya

Jika seorang wanita dihadapkan pada sebuah masalah yang cukup menantang, ia bisa menjadi kebingungan untuk mencari solusi dan memutuskan apa yang harus dilakukan. 

2. Takut meninggalkan zona nyaman

Seperti namanya, zona nyaman bisa melenakan. Untuk tumbuh kadang kita harus keluar dari zona nyaman. Tapi, tidak untuk wanita yang memiliki sindrom ini. Mereka takut mengambil resiko untuk bisa keluar dari zona nyaman. Mereka takut menemui hambatan-hambatan yang bisa membuatnya berada dalam masalah.

Baca juga: Pemaknaan Sederhana Motto “Hidup Seperti Larry”

3. Merasa dirinya lemah dan tidak berdaya 

Sering kali karena ketidakberdayaan menjadi sebuah alasan untuk tidak bertindak. Hanya pasrah dengan keadaan. Padahal hidup adalah sebuah pilihan. Kita bisa berusaha dan melakukan action semaksimal mungkin untuk bisa menjadi lebih baik dan maju secara perlahan. 

4. Merasa cemas untuk hidup mandiri

Bagi wanita yang menderita sindrom ini, menjadi mandiri adalah momok dan masalah besar. Mereka memiliki ketakutan bahwa jika mereka hidup mandiri, akan ada banyak masalah atau hambatan yang datang. Mereka merasa bahwa dirinya harus selalu dilindungi dan dirawat. 

5. Kepercayaan diri yang rendah

Seorang wanita yang mengidap sindrom ini, mereka cenderung tidak percaya diri dengan apa yang mereka punya. Padahal, rasa percaya diri adalah modal awal untuk bisa mengenali dan memahami kemampuan sendiri. Dengan rasa percaya diri menjadikan kita memiliki rasa syukur atas apa yang Tuhan kasih dalam hidup ini. 

6. Selalu ingin bergantung pada orang lain

Wanita yang memiliki sindrom ini memiliki sifat ketergantungan pada orang lain secara berlebih. Padahal sifat seperti ini juga tidak dianjurkan di dalam agama Islam. Pernah mendengar quotes dari Ali bin Abi Thalib, siapa yang berharap pada manusia maka hal itu adalah patah hati yang paling disengaja. Jangankan bergantung, berharap saja bisa menimbulkan rasa kecewa. Ada kalanya dalam hidup ini kita harus berani berdiri di atas kaki sendiri. Kalau bukan diri kita yang bisa diandalkan lalu siapa lagi?

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Gadis pluviophile yang berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Tergabung dalam komunitas Literasi Competer Indonesia, Kepul dan Tirastimes. Penikmat musik klasik dan penyuka pantai. Paling suka makanan pedas. Penulis bisa disapa melalui ig @indranys345.

Artikel dari Penulis