Mengenal Sindrom Nice Guy

Sindrom Nice Guy

Pernahkah kalian mendengar istilah sindrom Nice Guy? Sindrom ini dipopulerkan oleh seorang psikolog bernama Dr. Robert A Glover. Istilah sindrom Nice Guy tertulis dalam bukunya berjudul No More Mr. Nice Guy. Nice guy sendiri memiliki arti laki-laki yang baik. Jika dijabarkan secara luas, bisa diartikan bahwa sindrom nice guy adalah pria atau sekelompok pria yang ingin selalu tampil baik di depan orang lain. Mereka berusaha terlihat baik, dengan selalu menunjukkan perhatian kepada orang lain. Karakter sindrom nice guy sendiri sangat menonjol. Berikut beberapa ciri-ciri atau karakter dari pengidap nice guy ini.

Karakter atau Ciri-Ciri Sindrom Nice Guy

1. Looking for Approval

Ciri-cirinya, pertama looking for approval (setiap hal yang dilakukan bertujuan untuk mendapat sebuah penerimaan atau validasi dari orang lain). Seseorang yang terkena sindrom Nice Guy ketika melakukan hal baik, cenderung mengharapkan imbalan. Jika mereka tidak mendapatkannya, mereka akan sangat menderita. Contohnya, memberikan perhatian dengan berharap mendapat balasan. Memperhatikan seseorang dengan harapan akan mendapatkan perhatian sebagai balasannya.

2. Sulit Menyampaikan Keinginan

Selanjutnya, karakter yang kedua adalah mereka sulit menyampaikan keinginannya. Pria dengan sindrom Nice Guy lebih mengutamakan keinginan orang lain daripada keinginannya sendiri. Mereka mengabaikan apa yang ada di dalam hatinya. Sikap ini ia lakukan secara terus menerus dan berulang. Mengenali dan memahami diri sendiri itu penting. Sebelum mengenali dan memahami orang lain, sudahkah kamu melakukan hal itu pada diri sendiri?

Baca juga: Mengenal Duck Syndrom, Si Pura-Pura Bahagia

3. Tertarik Memperbaiki Masalah Orang Lain

Karakter yang ketiga adalah tertarik untuk memperbaiki masalah orang lain. Jika orang lain sedang berada dalam masalah, pria dengan sindrom Nice Guy tidak segan untuk membantu. Saat menolong orang lain, mereka berharap mendapat pujian dan hal itu terus mereka lakukan demi mendapatkan pengakuan.

4. Menekan Emosi dan Menghindari Konflik

Karakter yang keempat yaitu mereka cenderung menekan emosi dan menghindari konflik. Mereka tidak suka konflik. Salahkah dengan menghadapi konflik? Terkadang dari sebuah konflik kita bisa belajar bagaimana menghadapi suatu masalah dengan bijak. Dari konflik, kita bisa belajar untuk bertumbuh dan menyelesaikan masalah dengan tepat dan benar. Saat konflik membuat seseorang menjadi kesal, tertekan bahkan mengalami rasa sakit, emosi di dalam diri jangan ditekan. Ketika hal itu dipendam dan ditekan dalam jangka panjang, emosi itu akan menumpuk dan seiring waktu bisa meledak. Tindakan ini bisa menyebabkan mental illness dalam diri seseorang. Cobalah untuk meregulasi dengan cara sederhana seperti curhat dengan orang yang dipercaya. Jalan-jalan sejenak atau melakukan aktivitas dan hobi yang disuka.

Baca juga: Sindrom Cinderella Complex, Apakah Kamu Salah Satunya?

5. Berpotensi Manipulatif

Pria dengan sindrom Nice Guy berpotensi menjadi orang yang manipulatif. Kenapa? Karena di setiap keadaan mereka selalu memprioritaskan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri. Mereka berusaha terlihat baik meskipun harus mengabaikan perasaannya sendiri. Biasanya mereka tidak jujur dengan diri sendiri serta menganggap bersikap jujur akan menyebabkan penolakan bahkan mendapat perasaan tidak disukai di lingkungan sosial. Jangan takut untuk menjadi diri sendiri, ya sobat. Be the best version of you. Just you not the others.

Faktor Penyebab Sindrom Nice Guy

Sindrom nice guy bisa terbentuk karena beberapa faktor seperti :

  1. Trauma masa lalu akibat penolakan
  2. Terjadi karena memiliki Ayah over-kritik yang selalu menuntut anaknya sesuai keinginannya tanpa memahami perasaan si anak.
  3. Ketidakhadiran sosok ayah (tidak pernah mendapat didikan dari sosok Ayah)
  4. Hubungan monogamous (hubungan kurang sehat antara Ibu dan anak laki-laki). Ketika seorang Ibu tunggal yang membesarkan anak laki-lakinya sendirian, sang anak akan menyerap advice dan didikan hanya dari ibunya saja. Jika si anak mendapat masalah, hanya mendapatkan perspektif dari sisi Ibu saja dan tidak mendapatkan advice khas seorang anak laki-laki pada umumnya.

Saya pernah membaca quotes, “kindness makes the most beautiful person in the world no matter what you look like.” Saya sangat setuju dengan pernyaaan ini. Berbuat baik bisa menjadikan hidup seseorang lebih berkualitas dan bermakna. Karena pada dasarnya, kebaikan seharusnya kita lakukan atas dasar ketulusan, bukan atas dasar penerimaan, pengakuan, atau berharap mendapatkan imbalan.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Salman Al Farisi

Gadis pluviophile yang berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Tergabung dalam komunitas Literasi Competer Indonesia, Kepul dan Tirastimes. Penikmat musik klasik dan penyuka pantai. Paling suka makanan pedas. Penulis bisa disapa melalui ig @indranys345.

Artikel dari Penulis