Jangan Menggigit Tangan yang Memberimu Makan, Apakah Masih Relevan?

Jangan Menggigit Tangan yang Memberimu Makan

Jangan Menggigit Tangan yang Memberimu Makan, Apakah Masih Relevan? – Bapak saya berprofesi sebagai buruh pabrik pada salah satu perusahaan makanan yang cukup termasyhur di Indonesia. Saat masih muda, beliau sangat memegang teguh adagium yang bunyinya kira-kira begini: “Jangan Menggigit Tangan yang Memberimu Makan”. Oleh karena itu,  saat masih muda, beliau enggak pernah ikut-ikutan demo saat Hari Buruh Internasional yang diperingati pada 1 mei seperti rekan-rekan kerjanya yang lain. 

Menurut beliau, enggak ada satu pun hal yang sangat urgen untuk beliau proteskan kepada pihak pemberi kerja. Sistem pengupahan sudah sesuai, asuransi tenaga kerja dibayarkan, dan berbagai hak-hak buruh lainnya telah dipenuhi oleh perusahaan tempat Bapak saya bekerja. Akan tetapi, itu pemikiran Bapak saya pada zaman dulu.

Sekarang, setelah beragam informasi jadi lebih mudah diakses melalui internet, adagium “Jangan Menggigit Tangan yang Memberimu Makan” sudah ra mashok di pemikiran Bapak saya. Bahkan, beliau mendukung demo-demo buruh asal enggak ricuh dan enggak merugikan khalayak ramai.

Baca juga: Gaji UMK adalah Jackpot bagi Tenaga Pendidik (Guru)

Perubahan pola pikir Bapak saya ini bukan tanpa alasan. Kedua orang tua saya tinggal di Cikarang, daerah yang terkenal sebagai kawasan pusat industri di Indonesia. Jadi, kami sekeluarga bukan hanya keluarga buruh biasa saja, tapi keluarga buruh yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang pekerjaannya mayoritas adalah buruh.

Oleh karena itu, isu-isu terkait dunia buruh merupakan isu sensitif bagi keluarga kami. Salah satu isu sensitif terkait buruh yang cukup kami ikuti adalah mogok kerja yang dilakukan buruh PT Alpen Food Industry pada tahun 2017. Perusahaan yang membuat berbagai macam produk es krim dari merek Aice.

Isu mogok kerja buruh PT Alpen Food Industry menjadi begitu sensitif bukan hanya karena pembahasannya adalah tuntutan pemenuhan hak-hak buruh sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia, melainkan karena lokasi berdirinya PT Alpen Food Industry juga sangat dekat dengan rumah orang tua saya. Masih di sekitaran Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Mogok kerja buruh tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa permasalahan. Seperti upah buruh di bawah UMK saat itu,  buruh enggak diberikan jaminan kesehatan, kecelakaan kerja ditanggung oleh buruh sendiri, dan masih banyak lagi. Sungguh sebuah permasalahan yang sangat problematik.

Untungnya, di bulan desember 2017, direktur utama PT Alpen Food Industry mengabulkan segala macam tuntutan buruh yang melakukan aksi mogok kerja. Setelah perjuangan para buruh mendesak pemenuhan hak-haknya oleh pemberi kerja. Hasil perjuangan panjang para buruh tersebut perlu diacungi jempol dan dirayakan dengan riang gembira. 

Keberhasilan perjuangan para buruh PT. Alpen Food Industry membuktikan bahwa adagium “Jangan Menggigit Tangan yang Memberimu Makan” sudah tidak relevan lagi. Ketika pemberi makan telah melakukan perbuatan yang sewenang-wenang. Apakah kita tidak boleh melawan?

Seandainya perlawanan seseorang terhadap pemberi makan yang dzolim berakhir dengan sad ending, enggak seperti hasil perjuangan buruh PT Alpen Food Industry. Percayalah, yang memiliki makanan bukan hanya dia seorang di bumi ini. Masih banyak kok yang memiliki makanan selain orang dzolim tersebut.

Baca juga: Masih Perlukah Berjabat Tangan, Meminta Maaf, Mengucapkan Tolong dan Terima Kasih?

Jika perjuangan melawan orang yang melakukan tindakan semena-mena setelah memberikan kamu makan dapat mendorong seluruh dunia menyerangmu gara-gara kamu membela hak-hakmu sendiri yang telah ditindas oleh si pemberi makan, atau bahkan membuat enggak ada orang lain lagi yang mau memberi kamu makan, percayalah bahwa rejeki sudah ada yang ngatur dan enggak akan tertukar. Kalau enggak ada satu orang pun yang mau memberikan kamu makan, kamu bisa memproduksi makanan itu sendiri. Dengan cara-cara seperti bertani, menernak hewan, sampai berburu (ini hanya perumpamaan).

Tenang saja, yang memberikan seluruh makhluk hidup makan dan rezeki itu bukan manusia maupun makhluk lainnya. Yang sesungguhnya memberikan makan dan rezeki adalah Tuhan penguasa semesta alam. Hanya saja, rejeki dan makanan dari Tuhan dititipkan melalui makhluk-makhluk-Nya yang ada di muka Bumi.

Jangan takut enggak bisa makan lagi ketika kita menggigit (melawan) pemberi makan yang melakukan tindakan sewenang-wenang. Sebab Tuhan selalu bersama para buruh yang haknya dirampas oleh pemberi kerja.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Pencerita Negeri Sipil.

Artikel dari Penulis