Tidak Merokok di Lingkungan Perokok

Tidak Merokok di Lingkungan Perokok

Tidak Merokok di Lingkungan Perokok – Banyak orang percaya bahwa pergaulan akan memengaruhi perilaku, cara pandang, hingga gaya hidup seseorang. Tak bisa dimungkiri, merokok adalah sebuah kebiasaan yang mayoritas muncul karena faktor pergaulan. Saya pikir hampir tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi seorang perokok meskipun mungkin mereka memiliki kebiasaan tersebut. 

Saya sendiri bukan seorang perokok, padahal hampir seluruh lingkungan yang ada di sekitar saya berisi perokok aktif. Mulai dari orang terdekat, yaitu keluarga, bapak dan kakak saya yang keduanya seorang perokok. Kemudian, circle pertemanan dari bangku SMP hingga kuliah pun mayoritas diisi oleh perokok. Namun, anehnya, saya yang sudah terbiasa melihat orang lain merokok tidak tertarik untuk mengikuti jejak mereka. Walaupun data Yayasan Jantung Indonesia membeberkan bahwa 77% siswa mulai merokok karena ditawari oleh temannya sendiri.

Beberapa teman di sekitar saya tentu memberikan tawaran kepada saya untuk mencoba rokok. Pada suatu momen, saya mengiyakan tawaran tersebut dan mencobanya, saya tetap tidak merasa barang kecil ini worth untuk dibeli sebagai kebutuhan sehari-hari. Bagi saya, rokok hanya tembakau yang kalau dibakar dan dihisap memberikan rasa tipis di mulut. Paling kalau ada hal keren dari merokok adalah momen saat asap dihembuskan dari mulut yang menurut beberapa orang menimbulkan kesan badboy dan elegan. Mungkin kalau perokoknya Thomas Shelby akan terlihat cool, tapi nek awakmu kok njaluk digajul~

Saya paham bahwa beberapa orang menganggap rokok sebagai anti-depresan karena memang rokok memiliki kandungan yang mampu memengaruhi kinerja otak. Dengan efek ajaib tersebut, orang-orang akhirnya berpendapat bahwa saya hanya belum menemui waktu yang pas untuk memulai kebiasaan merokok. Kenyataannya, saya sendiri juga manusia biasa yang menghadapi berbagai permasalahan, tetapi saya bersyukur masih bisa meng-handle emosi yang saya miliki dan menemukan solusi lain tanpa menggunakan rokok.

Toh menurut saya, harga yang dikeluarkan untuk membeli rokok tidak sebanding dengan rasa dan efek yang ditimbulkan. Hal tersebut yang membuat saya tidak tertarik dengan rokok. Terlepas dari efek buruk rokok terhadap kesehatan yang membuat banyak orang membenci rokok, saya merasa memang tidak memerlukan barang ini. Kalaupun rokok tidak berefek buruk untuk kesehatan, saya sendiri tetap tidak akan mengonsumsinya karena memang tidak ada urgensi kuat untuk menggunakan produk ini. Sudah harganya melambung tinggi, eh ternyata setelah saya coba tidak ada pengaruhnya.

Tidak mengonsumsi rokok tak selamanya berpengaruh positif ke kehidupan saya karena realitanya rokok memang menjadi salah satu senjata kuat dalam mengarungi pergaulan duniawi ini. Pada beberapa momen, saya kerap kali ditawari rokok oleh orang yang baru dikenal. Akan tetapi, karena saya bukan perokok, obrolan yang mungkin bisa saja lancar apabila tawaran tersebut saya iyakan berakhir menjadi lumayan awkward. Selain itu, saat nongkrong bisa dibilang saya menjadi minoritas dan ketika obrolan menyambung ke pembahasan vape atau rokok, saya yang ngang ngong ini tidak bisa mengikuti obrolan tersebut.

Saya sendiri sama sekali tidak memiliki masalah kepada perokok karena perjalanan yang saya dapatkan membuat saya menerima dan menganggap perbedaan ini soal prinsip saja. Mereka yang merokok pasti memiliki alasannya sendiri dan paham akan konsekuensi atas keputusan yang dipilih, kemudian saya yang tidak merokok pun harus siap dengan konsekuensi bahwa merokok merupakan sebuah kultur yang tidak bisa lepas dari pergaulan di Indonesia. 

Saya yang justru menjadi minoritas harus menempatkan diri secara lebih cerdik agar tetap diterima di pergaulan tanpa harus menggurui. Sejauh yang saya tahu, teman-teman saya tetap menghormati saya yang bukan seorang peorkok dengan tidak memaksakan prinsip mereka kepada saya dan justru memahami keadaan ini dengan tidak sembarangan membuang asap rokok mereka.

Sebagai penutup, saya pribadi menilai bahwa merokok adalah aktivitas yang sia-sia karena lebih banyak menimbulkan efek buruk dibanding efek baik bagi diri saya. Namun, hal tersebut tidak membuat saya menjadi egois dan memaksa seluruh teman-teman saya mengikuti prinsip saya. Kalaupun teman-teman terganggu dengan rokok, ada baiknya untuk mencari tongkrongan yang bukan perokok. Semenyebalkan apapun rokok, saya tetap butuh orang-orang dibalik rokok tersebut.~

Editor: Firmansah Surya Khoir
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Sepertinya mahasiswa biasa aja.

Artikel dari Penulis