Gegar Budaya Saat Orang Cikarang Kulineran di Semarang

Gegar Budaya Saat Orang Cikarang Kulineran di Semarang

Gegar Budaya Saat Orang Cikarang Kulineran di Semarang – Setelah lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), saya terpaksa keluar dari tempat di mana saya lahir dan besar, yaitu Cikarang. Hal itu disebabkan karena saya ingin melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan. Maklum di Cikarang enggak ada Perguruan Tinggi Negeri (PTN), mau lanjut ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tapi kemampuan ekonomi orang tua enggak mencukupi untuk kuliah di PTS.

Setelah melalui beberapa seleksi masuk kampus, akhirnya saya bisa masuk pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Semarang. Sebelum kuliah, sebenarnya saya enggak pernah menginjakkan kaki di Semarang. Hal itu menyebabkan saya harus banyak beradaptasi di Kota Semarang, apalagi daerah asal saya memiliki adat istiadat yang cukup jauh berbeda dengan Semarang.

Gegar budaya sudah pasti kerap saya rasakan tapi ada satu gegar budaya yang cukup membekas yaitu ketika mencicipi berbagai kuliner khas dari Kota Atlas. Gimana enggak terjadi gegar budaya? Lha wong, bahasa di Cikarang dengan Semarang saja sangat beda jauh apalagi perihal urusan kuliner. Berikut akan saya jabarkan beberapa gegar budaya yang saya rasakan ketika kulineran di Semarang sebagai mahasiswa.

  1. Nasi dan Soto Dijadikan Satu

Saat saya pertama kali mencicipi soto bangkong di Kota Semarang. Saya cukup kaget karena semua orang yang makan hanya dihadapkan pada satu mangkuk saja. Sebab biasanya di penjual soto betawi atau soto bogor di Cikarang, minimal ada dua wadah dihadapan pembeli yang sedang makan, satu mangkuk untuk tempat soto dan satu piring digunakan sebagai tempat nasi. Tapi pembeli soto di Semarang, semuanya hanya menggunakan satu mangkuk saja tanpa piring.

Ternyata cara penyajian soto betawi atau soto bogor berbeda sangat jauh dengan soto bangkong Semarang. Bagaimana enggak? Soto betawi atau soto bogor itu soto dengan nasinya dipisah dalam wadahnya masing-masing. Sedangkan soto bangkong, soto dan nasinya dijadikan satu dalam sebuah mangkuk. Mungkin yang menciptakan soto bangkong sangat suka persatuan jadi soto dan nasinya dijadikan satu mangkuk, pikir saya kala itu.

  1. Soto Diwadahi Mangkok yang Sangat Kecil

Cara penyajian soto bangkong, yang nasi dan sotonya dijadikan satu dalam mangkuk kecil. Membuat soto bangkong memiliki porsi yang agak sedikit bagi saya, orang yang biasa makan soto betawi atau soto bogor. Mungkin hal dikarenakan orang-orang Semarang biasanya menjadikan soto sebagai menu sarapan. Sedangkan kalau di Cikarang, soto betawi atau soto bogor dijadikan menu santap siang.

Tapi tenang saja, jika kamu kurang puas dengan porsi yang disajikan pada soto bangkong. Kamu bisa menambahkan beberapa makanan pendamping soto seperti tempe goreng, sate usus, perkedel dan lain sebagainya, yang telah disediakan oleh sang penjual pada meja makan.

  1. Petis

Awal saya mengenal petis ketika teman-teman kuliah saya kerap membeli tahu petis di tukang gorengan sekitar kampus. Ketika pertama kali melihat tahu petis, saya cukup ragu untuk mencicipinya karena warna dari petis yang begitu hitam pekat (maaf) seperti oli bekas. Tapi setelah melihat teman-teman saya begitu lahap menyantap tahu petis, saya memberanikan diri untuk mencicipinya. Ternyata kenikmatan dari tahu petis melebihi ekspektasi saya, yang awalnya skeptis karena warna dari petis.

Kejadian tersebut membuat saya mulai menyukai petis, bukan hanya yang ada di tahu saja. Tapi di beberapa makanan seperti rujak petis. Sayangnya kalau di Cikarang cukup sulit untuk mencari makanan baik tahu maupun rujak yang menggunakan petis.

  1. Roti Ganjel Rel

Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk mencoba roti ganjel rel, yang pertama adalah namanya yang sangat-sangat unik. Kedua, karena roti ini merupakan salah satu makanan khas dari Kota Semarang yang cukup mudah ditemui pada beberapa toko roti di sana.

Beberapa hal yang membuat saya kaget ketika nyobain roti ganjel rel untuk pertama kalinya adalah rotinya lebih padat dan sedikit lebih keras dibandingkan roti-roti atau bolu pada umumnya. Selain itu, roti ganjel rel dapat memberikan sensasi rempah ketika kita menikmatinya, enggak kaya roti-roti kekinian yang rasanya itu-itu saja (manis atau asin dari keju). Roti ganjel rel juga dikenal dengan nama roti gambang.Begitu sekiranya culture shock yang pernah saya alami ketika menjadi mahasiswa di Semarang dan kulineran di sana.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Pencerita Negeri Sipil.

Artikel dari Penulis