Fenomena “Gang Sign”: Tren TikTok dan Arti Dibaliknya — Pesatnya perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi saat ini tentunya memberikan dampak bagi generasi muda. Hal tersebut dapat diibaratkan sebagai pedang bermata dua: jika dimanfaatkan dengan baik, akan membawa keuntungan; tetapi jika tidak pandai memilah, justru dapat menyebabkan kemerosotan.
Banyak dari kita, generasi muda, berlomba-lomba mengikuti tren terbaru, atau yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Dikutip dari laman Halodoc, FOMO adalah kondisi seseorang yang merasa khawatir melewatkan pengalaman atau aktivitas yang sedang terjadi di sekitarnya, biasanya karena terpapar media sosial.
Biasanya, mereka yang mengalami FOMO akan mengikuti tren tanpa mengetahui makna di baliknya. Mereka tidak melakukan riset mendalam dan hanya meniru begitu saja. Dalam hal ini, contohnya adalah tren gang sign yang berasal dari aplikasi TikTok. Tren ini memadukan gerakan tangan dan jari yang terlihat luwes dan estetik, dengan backsound khas ala TikTok. Tak jarang pula para pengikut tren ini mengenakan pakaian ala penyanyi hip-hop atau rapper. Sekilas gerakan ini tampak menarik untuk dicoba, namun arti di balik tren ini bisa sangat berbahaya jika dilakukan sembarangan.
Apa Itu Gang Sign?
Gang sign sendiri merupakan bentuk komunikasi khusus yang digunakan oleh kelompok geng di Amerika Serikat. Cara komunikasi ini menggunakan simbol-simbol tangan yang cukup efektif untuk mengelabui aparat penegak hukum. Gerakannya hampir mirip dengan bahasa isyarat yang digunakan oleh penyandang tunarungu. Budaya gang sign di Amerika diperkenalkan oleh komunitas Afrika-Amerika pada tahun 1970-an, tepatnya di Los Angeles, California. Namun, akarnya dapat ditelusuri hingga abad ke-18 oleh geng Triad dari Tiongkok.
Baca juga: Konten Aksi Kebaikan di TikTok, Pansoskah?
Seiring berjalannya waktu, gang sign mulai populer di Amerika bersamaan dengan meningkatnya konflik antara geng Blood dan Crip. Masing-masing geng memiliki pola gang sign-nya sendiri yang digunakan untuk berkomunikasi, mengidentifikasi sesama anggota, mengintimidasi lawan, bahkan sebagai ajakan untuk berperang. Lambat laun, budaya ini juga diadopsi oleh geng-geng lain, seperti geng Hispanik. Hingga kini, masih sering terjadi kesalahpahaman akibat ketidaktahuan orang terhadap arti gerakan tangan tersebut, yang bahkan bisa berakibat fatal.
Ketika Budaya Geng Jadi Tren TikTok
Di negara asalnya, gang sign tidak dianjurkan untuk digunakan di ruang publik maupun media sosial karena besarnya risiko yang akan ditimbulkan. Akan tetapi, berbeda halnya di TikTok Indonesia. Tren ini dipandang hanya sebagai gerakan tangan biasa, tanpa pemahaman mendalam mengenai makna aslinya. Bahkan, banyak content creator yang secara sengaja membuat tutorial atau tantangan tentang gerakan ini. Fenomena ini pun memunculkan pro dan kontra di kalangan pengguna media sosial. Beberapa pihak khawatir tren ini dapat menyinggung kelompok tertentu. Namun di sisi lain, ada yang menganggapnya sebagai bentuk ekspresi yang tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.
Fenomena ini menjadi contoh pentingnya menyaring budaya luar. Meskipun niat awalnya hanya sebagai bentuk hiburan, memahami latar belakang dan arti dari gerakan yang digunakan dapat mencegah kesalahpahaman. Literasi digital saat ini tidak cukup hanya memahami cara membuat konten—tetapi juga memahami konteks budaya, sejarah, dan dampak sosial dari apa yang kita tampilkan.
Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial, sangat penting bagi kita untuk kritis dan bijak dalam mengikuti tren agar tidak menyinggung hal-hal yang sensitif. Jadilah kreator dan konsumen konten yang sadar dan bertanggung jawab, agar tak terjebak dalam euforia viral yang bisa berujung fatal.
Referensi
- Halodoc. (2024, 16 Desember). Apa Itu FOMO? Ini Pengertian, Gejala, dan Dampaknya. https://www.halodoc.com/artikel/apa-itu-fomo-ini-pengertian-gejala-dan-dampaknya
- Ellmer, M. (2024, 13 April). Gang Signs: A Lexicon of Violence. Grey Dynamics. https://greydynamics.com/gang-signs-a-lexicon-of-violence/















