Menata Ulang Makna Cinta dan Konflik — Kamu pernah melihat dua pasangan yang hampir tiap hari bertengkar? Atau kamu juga sedang mengalami hal serupa?
Bisa jadi, pertengkaran dalam rumah tangga terjadi karena satu sama lain belum memahami makna cinta dan konflik itu sendiri. Dua hal ini bisa kita pahami melalui konsep mawaddah dan warahmah — dua kata yang sering kita dengar dan ucapkan kepada pasangan yang baru menikah. Tapi, apakah kamu tahu makna mawaddah dan warahmah dalam konteks rumah tangga?
Fase mawaddah dan warahmah dalam hubungan rumah tangga merupakan tahapan penting yang membutuhkan proses dan pemahaman mendalam. Berikut penjelasannya.
Mawaddah: Cinta yang Timbal Balik
Pada tahap ini, cinta diwujudkan dalam bentuk saling memahami dan saling memenuhi kebutuhan pasangan. Pemahaman ini menjadi semakin kompleks ketika terdapat perbedaan budaya, seperti cara melayani, menyayangi, berkomunikasi, serta kebiasaan lainnya.
Mawaddah menekankan bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga tindakan nyata yang didasarkan pada sifat dan kebutuhan masing-masing pasangan.
Sebagai contoh, ketika seseorang bertanya mengapa makanan belum tersedia, penting untuk memahami proses yang terjadi sebelumnya — apakah pasangan sedang sibuk dengan pekerjaan lain atau memiliki prioritas tertentu yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Pemahaman seperti ini membantu pasangan untuk saling menghargai usaha satu sama lain, bukan hanya menuntut.
Warahmah: Proses Mengalah dan Memahami
Tahap warahmah adalah saat seseorang mulai mengubah cara berdialektika dalam mawaddah. Di fase ini, pasangan memahami bahwa kesalahan yang terjadi dalam rumah tangga tidak berdiri sendiri, melainkan ada kontribusi dari masing-masing individu terhadap kesalahan tersebut.
Oleh karena itu, warahmah tidak berfokus pada mencari siapa yang salah, melainkan menyadari bahwa setiap individu memiliki peran dalam setiap kejadian rumah tangga.
Kuncinya pada fase ini adalah saling meminta maaf dan memaafkan. Meminta maaf bukan sekadar pengakuan bahwa kita bersalah. Terkadang, meminta maaf diperlukan meski bukan kita yang salah — sebagai bentuk kepedulian terhadap hubungan.
Baca juga: Setelah 2 Tahun Menikah, Ini Nasihatku untuk Kalian yang Belum Menikah
Begitu juga dengan memaafkan. Ini bukan berarti kita melupakan atau mengabaikan kesalahan pasangan, tetapi memahami bahwa setiap orang bisa berbuat salah. Kesalahan adalah bagian dari perjalanan bersama. Memaafkan memungkinkan kita belajar dari kesalahan tanpa terus terjebak dalam konflik.
Tahapan ini tidak dapat terjadi secara instan. Harus diawali dengan mawaddah terlebih dahulu. Jika tidak ada pihak yang memulai proses ini, maka hubungan bisa mengalami ketidakseimbangan yang membahayakan keberlangsungan keluarga.
Kesimpulan
Mawaddah mencerminkan aspek psikologis, di mana perasaan cinta dibuktikan melalui tindakan nyata seperti kepedulian, bantuan, empati, dan simpati. Namun, meskipun mawaddah telah terbentuk, konflik tetap bisa muncul. Di sinilah warahmah berperan: membantu pasangan menyikapi konflik dengan kesadaran bahwa setiap peristiwa melibatkan kedua belah pihak.
Kesadaran seperti ini tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi juga memperkuat ikatan emosional dan spiritual dalam kehidupan rumah tangga.
Dengan memahami dan menerapkan kedua fase ini secara berurutan, hubungan dapat berkembang secara lebih harmonis dan berkelanjutan.
Rumah tangga bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tumbuh bersama. Dengan memahami bahwa cinta sejati membutuhkan usaha dan kesadaran untuk saling mengalah, kita bisa menjadikan setiap konflik sebagai peluang untuk saling mengenal lebih dalam dan memperkuat ikatan batin.
Tulisan di atas merupakan rangkuman dari kelas online pernikahan bertema “Kenapa Kita Sering Bertengkar” yang disampaikan oleh A.M. Safwan, diselenggarakan oleh Rumah Bertumbuh pada Sabtu, 24 Mei 2025.












