Biografi Matt Haig, Penulis Asal Inggris yang Punya Julukan “The King of Emphathy”

Biografi Matt Haig

Biografi Matt Haig, Penulis Asal Inggris yang Punya Julukan “The King of Emphathy” – Matt Haig adalah seorang penulis buku fiksi dan non-fiksi untuk anak dan dewasa asal Inggris. Ia lahir di Sheffield, Inggris pada 3 Juli 1975. Sekarang ini, ia tinggal bersama pasangannya (Andrea Semple) serta kedua anaknya (Lucas dan Pearl) di Brighton.

Matt Haig dikenal sebagai penulis buku kesehatan mental. Hal ini disebabkan karena beberapa karya utamanya mengangkat tema mengenai isu kesehatan mental dan telah mengantarkannya memperoleh berbagai prestasi bergengsi.

Awal karir

Sebelum memulai karirnya sebagai penulis buku, Matt Haig te;lah memulai karir menulisnya sebagai jurnalis di berbagai majalah terkenal, seperti The Guardian, The Sunday Times, dan The Independent.

Buku-buku yang ditulis Matt Haig di awal karir sebagai penulis buku di antaranya adalah The Last Family in England dan The Dead Fathers Club untuk kategori novel serta Runaway Troll untuk kategori buku anak. Buku-buku tersebut diterbitkan oleh penerbit mitra lamanya, yakni penerbit Jonathan Cape.

Keterpurukan saat berusia 24 tahun

Pada usia 24 tahun, Matt Haig mengalami depresi dan gangguan kecemasan hingga mendorongnya berkali-kali melakukan bunuh diri. Masa keterpurukannya tersebut disebabkan oleh banyak faktor, seperti kebiasaannya mengonsumsi alkohol, karya novelnya yang ditolak oleh penerbit Jonathan Cape (yang kemudian diterbitkan dengan judul The Radleys oleh penerbit mitra barunya, Canongate), keraguan diri sebagai penulis, serta ketidakamanan finansial.

Baca juga: Santo Valentine, Pelopor Hari Kasih Sayang [Valentine Day]

Beruntung, Matt Haig memilih untuk terus bertahan hidup dan berhasil keluar dari kubangan keterpurukannya tersebut. Pengalaman dan perjuangan Matt Haig menghadapi depresi dan gangguan kecemasan tersebut kemudian dituangkannya ke dalam buku memoarnya yang berjudul Reasons to Stay Alive.

Puncak kesuksesan

Puncak kesuksesan Matt Haig dapat dihubungkan dengan terbitnya buku non-fiksi Reasons to Stay Alive pada 2015. Di dalam buku tersebut, Matt Haig memberikan gambaran akan pikiran dan perasaan kompleks yang dialaminya ketika mengalami depresi. Buku memoar tersebut membuka wawasan terkait depresi, dimulai dari penjabaran gejala-gejala depresi, tantangan yang dialami penderita depresi, hingga berbagai usaha dan kiat yang dapat dilakukan para penderita depresi untuk dapat bangkit dari depresi. Keterkaitan buku ini dengan pengalaman para penderita depresi dapat dibuktikan dari pengalaman Matt Haig yang kewalahan karena sering dihubungi oleh banyak penderita depresi yang meminta bantuan.

Buku Reasons to Stay Alive tidak hanya laris di pasaran, melainkan juga mendulang banyak prestasi. Prestasi tersebut diantaranya adalah pernah menduduki posisi sebagai buku terlaris nomor satu Sunday Times, menduduki posisi 10 besar dalam penjualan buku Inggris selama 49 minggu, memenangkan Books Are My Bag Readers’ Awards pada 2016, serta telah diterbitkan oleh 29 penerbit di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Gramedia dengan judul Alasan untuk Tetap Hidup  pada November 2020.

Karya Lainnya

Selain Reasons to Stay Alive, banyak karya lain yang menyokong Matt Haig sebagai penulis yang layak diperhitungkan. Terhitung hingga sekarang, Matt Haig telah menulis 7 buku fiksi, 7 buku non-fiksi, serta 11 buku anak.

Buku fiksi terbarunya yang berjudul The Midnight Library telah mengulang kesuksesan buku Reasons to Stay Alive sebelumnya. The Midnight Library telah memenangkan Goodreads Choice Award sebagai karya fiksi terbaik tahun 2020 serta menduduki posisi bestseller di The New York Times dan Sunday Times. Meski tergolong buku fiksi, The Midnight Library juga dapat dikategorikan sebagai buku self-help. Hal ini disebabkan karena buku tersebut memiliki pesan mendalam terkait penerimaan diri. Buku ini juga telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Gramedia dengan judul Perpustakaan Tengah Malam.

Buku paling terbarunya, yakni buku non-fiksi berjudul The Comfort Book berisikan berbagai kata-kata mutiara serta kisah-kisah inspiratif singkat tentang pengalaman Matt Haig melawan rintangan hidup dan menemukan harapan dalam hidup keseharian. Buku ini ditulis Matt Haig selama masa lockdown pertama Inggris ketika menghadapi COVID sehingga dapat dikatakan bahwa buku ini sendiri ditulis Matt Haig untuk dirinya sendiri saat menghadapi ketidaknyamanan. Buku ini juga telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Gramedia dengan judul Buku yang Membuat Kita Nyaman.

Buku lainnya dari Matt Haig yang juga memperoleh berbagai prestasi di antaranya adalah buku fiksi How to Stop Time yang dinominasikan pada Books Are My Bag Readers’ Award pada 2017 dan buku fiksi The Humans yang dinominasikan pada Edgar Award. Bahkan, buku anak karyanya yang berjudul A Boy Called Christmas telah diadaptasi menjadi film layar lebar bertabur bintang ternama.

Bertahan sebagai penulis

Meski sering digadang-gadang sebagai penulis kesehatan mental, karya Matt Haig juga tidak jarang menuai berbagai kritik. Kritik tersebut datang karena pemikiran Matt Haig dipandang dangkal, depresif, dan tidak relevan. Gangguan kecemasan yang masih sering dihadapi Matt Haig juga sering menjadi sumber kritik bagi Matt Haig dalam menempati posisi penulis kesehatan mental.

Namun, terlepas dari berbagai kritik dalam karyanya, Matt Haig telah memperoleh berbagai pujian, di antaranya “pengamat kehidupan kontemporer yang jeli” (The Guardian), “penulis paling populer dan inspiratif tentang kesehatan mental” (The Independent), serta “The King of Emphaty” (Jameela Jamil). Karya-karyanya juga masih dibaca oleh banyak orang hingga sekarang.

Referensi:

https://www.fimela.com/fashion/read/3810585/review-buku-reasons-to-stay-alive-kisah-nyata-melawan-depresi-matt-haig

https://www.theguardian.com/books/2021/jul/01/matt-haig-i-have-never-written-a-book-that-will-be-more-spoofed-or-hated

https://www.waterstones.com/book/the-comfort-book/matt-haig/9781786898296

Hanya pecandu aksara yang baru belajar menulis.

Artikel dari Penulis