Biografi Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah dan Bangsa

Biografi Ki Bagus Hadikusumo

Biografi Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah dan Bangsa – Ki Bagus Hadikusumo, seorang tokoh Muhammadiyah yang juga berperan besar dalam berdirinya negara tercinta ini. Namanya tersohor ke seluruh negeri, bahkan meskipun ada yang tidak mengenal mendalam mengenai beliau, pasti masih pernah mendengar namanya di telinga. Untuk mengenal beliau lebih jauh, berikut biografi seorang Ki Bagus Hadikusumo.

Biografi Ki Bagus Hadikusumo

Kehidupan Awal

Ki Bagus Hadikusumo merupakan salah satu tokoh pergerakan di zaman perjuangan kemerdekaan. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 24 November 1890. Merupakan putra dari Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di keraton Yogyakarta.  Ki Bagus Hadikusumo merupakan putra ketiga dari lima bersaudara dan memiliki nama kecil Raden Hidayat.

Ki Bagus Hadikusumo menikah dalam usia yang terbilang cukup muda pada saat itu, yakni 20 tahun dengan putri Raden Haji Suhud yaitu Siti Fatmah. Dari pernikahannya dengan Siti Fatmah, beliau dikaruniai enam anak. Dan salah satu anak dari pernikahannnya dengan Siti Fatmah juga menjadi tokoh besar Muhammadiyah juga ketua Parmusi yaitu Djarnawi Hadikusumo.  

Saat beliau Kecil, selain mendapatkan Pendidikan dari orang tuanya, Ki Bagus Hadikusumo juga bersekolah di sekolah rakyat dan pondok pesantren tradisional Yogyakarta. Ki Bagus dari kecil menyukai dunia sastra. Kepiawaiannya dalam sastra beliau dapatkan dari berguru bersama Mas Ngabehi Sarsrasoeganda. Ki Bagus Hadikusumo menguasai tiga bahasa sastra yakni Jawa, Melayu, dan Belanda. Selain itu, beliau juga belajar Bahasa Inggris dengan tokoh Ahmadiyyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

Ki Bagus dan Muhammadiyah

Ki Bagus Hadikusumo sejak muda sudah berkecimpung di organisasi Muhammadiyah. Melalui Muhammadiyah, Ki Bagus memaksimalkan seluruh perjuangannnya untuk masyarakat dan bangsa. Karir kepemimpinannya dimulai pada tahun 1922 dengan menjadi Ketua Majelis Tabligh Hoofdbestuur Muhammadiyah. Kemudian tahun 1926 menjadi Ketua Majelis Tarjih dan Anggota Komisi MPM Hoofbestuur Muhammadiyah. Selain itu, Ki Bagus merupakan seorang yang suka dengan olahraga sepak bola. Beliau dan kawan-kawannya mendirikan sebuah klub yang diberi nama Kauman Voetbal Club yang sekarang kita kenal dengan Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan atau PSHW. 

Baca juga: Hizbul Wathan: Ortom Kepanduan Milik Muhammadiyah

Pada tahun 1937, Ki Bagus Hadikusumo menjadi Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang saat itu dipimpin oleh KH Mas Mansyur. Pada puncaknya, saat KH Mas Mansyur dipaksa menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat) oleh Jepang, Ki Bagus Hadikusumo menggantikan KH Mas Mansyur menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Ki Bagus menjabat menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah mulai dari tahun 1942 sampai 1953. Selain mengabdi untuk Muhammadiyah, Ki Bagus juga tak lupa dengan perjuangan untuk membantu bangsanya merdeka. Perjalannya ditempuh dengan pernah menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Dari sana banyak gagasan dan konsep yang Ki Bagus Hadikusumo sumbangkan untuk negara. 

Dari Muhammadiyah untuk Bangsa

Ki Bagus Hadikusumo berhasil merumuskan prinsip-prinsip pemikiran Ahmad Dahlan sehingga mampu mengokohkan dan merumuskan arah gerak dan perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, prinsip-prinsip tersebut menjadi Muqaddimah anggaran dasar Muhammadiyah. Muqaddimah tersebut yang menjadi pijakan ideologi Muhammadiyah dan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang lain. Ki Bagus juga sangat produktif dalam menulis. Melalui goresan pemikiran yang tertuang dalam beberapa buku-bukunya antara lain, Islam sebagai Dasar Negara dan Pemimpin Akhlaq, Risalah Katresna Djati, Poestaka Hadi, Poestaka Islam, Poestaka Ihsan, dan Poestaka Iman.

Buku-bukunya mencerminkan komitmennya terhadap etika dan hukum Islam. Berdasarkan komitmen tersebut, Ki Bagus merupakan sosok yang memiliki kecenderungan kuat untuk melembagakan Islam. Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam sangat penting karena alasan ideologis, politis, dan intelektual. Selain itu, Ki Bagus Hadikusumo adalah tokoh Islam yang sangat penting pada masa pembentukan konstitusi Indonesia. Banyak juga keterlibatan Ki bagus bersama tokoh-tokoh Islam yang lain sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Kerja Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI.

Ada usulan dari Ki Bagus yang banyak menjadi perdebatan beberapa tokoh lain, yaitu tentang “negara menurut ajaran Islam”. Ki Bagus menawarkan negara yang merepresentasikan nilai-nilai Islam bersama-sama dengan perwakilan Islam lainnya. Kedua, terkait penyusunan Piagam Jakarta dan Pancasila.

Perjuangan untuk konsep “negara menurut ajaran Islam” adalah upaya konstitusional pertama untuk menerapkan kebijakan Islam. Meski tidak bisa diwujudkan karena Ki Bagus Hadikusumo dan tokoh-tokoh ormas Islam dan Masyumi lainnya memahami pentingnya nilai kebhinnekaan, namun misi sebagai etika publik Islam yang toleran, moderat, dan inklusif tetap berhasil. Dalam kaitan ini, Ki Bagus Hadikusumo juga berperan penting dalam menentukan kisah sila pertama Pancasila.

Baca juga: Biografi Kiai A.R. Fachruddin dan Air Mata Keteladanan

Peran Ki Bagus Hadikusumo dalam proses perumusan Pancasila menjadi bukti partisipasi umat Islam dalam konsolidasi nasional periode pertama. Bagi Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo adalah contoh bagaimana mengamalkan kehidupan berbangsa. Beliau memberikan tuntunan tentang pengamalan Islam dalam kerangka kehidupan berbangsa dengan masyarakat yang majemuk. Ia juga meletakkan dasar pertama bagaimana Muhammadiyah masuk dan melayani kemerdekaan Indonesia.

4 November 1954 pada usia 64 tahun, Ki Bagus Wafat. Tokoh Muhammadiyah yang jasanya sangat luar biasa bagi Muhammadiyah dan bangsa. Ide dan karya yang selalu membumi tak pernah hilang. Menjadi cermin bagi anak muda zaman sekarang. Komitmen, konsisten, dan kebernian membela bangsanya melalui karya-karya besarnya.

Demikianlah biografi dari beliau Ki Bagus Hadikusumo, tokoh Muhammadiyah dan tokoh bangsa Indonesia.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Bagikan di:
Bukan seorang kutu buku yang pandai beretorika seperti kawan-kawan lain. Bukan juga aktivis yang gemar demo sana-sini. Hanya seorang yang tidak penting dan memiliki banyak keresahan dalam hidup. Seorang yang ingin mengalihkan keresahan tersebut menjadi sebuah karya yang ciamik. Fans Leo Messi sejak belum punya KTP yang katanya elektronik.

Artikel dari Penulis