Hal-Hal yang Normal, tapi Dianggap Asing

Hal-Hal yang Normal

Hal-Hal yang Normal, tapi Dianggap Asing

Sering kali kita selalu enggak sadar kalau ada hal-hal yang seharusnya biasa saja, tapi dianggap hal yang enggak biasa oleh kebanyakan orang. Mereka menganggap hal “tak biasa” tersebut terasa asing, aneh, atau bahkan dipandang jelek. Hal-hal apa saja sih yang seharusnya normal kita jalankan, tapi dianggap enggak biasa oleh banyak orang? Berikut keterangannya.

1. Rajin Beribadah

Sebagai seorang umat beragama, beribadah merupakan suatu kebutuhan dan kewajiban yang harus dijalankan sebagai tanda syukur kepada Tuhan Sang Pencipta. Contohnya adalah seseorang yang beragama Muslim. Ketika sedang berkumpul lalu hendak melaksanakan salat karena sudah pada waktunya, pasti banyak orang yang berkomentar “wah alim banget”, “Duh sholehahnya Ukhty”, atau komentar lainnya yang menjelekkan, seperti “Dih so alim banget pake Sholat segala…” Padahal, normalnya seorang Muslim ya salat, karena itu adalah kewajiban untuk semua muslim. Seharusnya, beribadah saat waktunya itu adalah hal yang normal bagi umat beragama. Justru yang tidak beribadah, padahal beragama dan masih memiliki akal pikiran, sehat jasmani dan rohani, itulah yang seharusnya kita katakan tidak normal, karena kebutuhan dan kewajiban seorang yang beragama ya pasti tentu saja beribadah, inilah normalnya. 

2. Pelajar yang Belajar

Kewajiban seorang pelajar adalah belajar. Walaupun sebenarnya belajar tidak hanya dikhususkan bagi pelajar, karena selama manusia masih hidup berarti kita memang perlu untuk belajar. Bahkan ada peribahasa yang mengatakan “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Itu artinya belajar tidak berbatas waktu. Kita semua, baik yang berstatus pelajar maupun bukan pelajar, adalah seorang pembelajar. 

Biasanya saat pembelajaran di kelas, orang yang mengutamakan atau memprioritaskan belajar selalu dikatakan berbeda dari yang lainnya, selalu disebut pintar, atau mencari celah dengan menilai orang tersebut memiliki privilege, dll. Padahal, mungkin saja dia dianggap pintar ya karena dia belajar, ada kemauan untuk belajar, dan dia sadar bahwa kewajiban seorang pelajar itu belajar. Seharusnya itulah normalnya seorang pelajar, tapi kita selalu menganggap orang yang dianggap pintar tersebut berbeda, padahal itulah normalnya. Yang berbeda dan aneh justru ketika dia mengikrarkan statusnya untuk menjadi pelajar, tapi dia malah tidak belajar sama sekali. 

3. Ngasih Contekan Ke Temen

Well, hal ini pernah dibahas oleh Jerome Polin dalam story Instagramnya. Penulis mencoba untuk menerangkan kembali bahwa memang kita terbiasa menilai seseorang berdasarkan kesuksesan yang dibuat oleh standar manusia, seperti pertanyaan “Orang yang dulu ga ngasih contekan ke gue hidupnya apa kabar ya sekarang? Apa dia sukses? Apa jangan-jangan suksesan gue yang dulu sering nyontek?“. Loh, mengapa standar kesuksesan seseorang malah dilihat dari masa lalunya yang merugikan dia, hanya karena enggak ngasih contekan, yak? Padahal kan enggak gitu… Orang yang enggak ngasih contekan saat sekolah sebenarnya bukan karena dia pelit, tapi karena dia sadar kalau hal tersebut enggak baik. Bukan hanya karena ngerugiin diri sendiri, tapi ngerugiin orang lain yang minta contekan juga. Misal orang tersebut punya nilai yang sama seperti orang yang dicontek, lantas bagaimana pertanggungjawabannya nanti ketika orang yang diberikan contekan ditanya oleh guru, dari mana dia mendapatkan hasilnya? Apalagi jika bentuk pertanggungjawaban di akhirat kelak…

Jadi, yuk stop untuk menyebut orang yang enggak ngasih contekan itu pelit, dll. Bisa jadi dia bukan pelit, tapi dia secara enggak langsung sedang menjagamu dari bahaya terlena akibat tindakan mencontek. Kita sering membenci dan merendahkan mereka para pembohong negara ini, tapi nyatanya tanpa sadar kita pun sifatnya sama seperti mereka, pembohong, dapat jawaban hasil nyontek. Bedanya, aib mereka para pembohong negara ada yang terbongkar dan aib kita masih ditutupi oleh Tuhan, itu saja bedanya. Ingat, jangan berlindung dibalik kata karena belum ketahuan berbohong, padahal kita punya Tuhan Yang Maha Melihat. Sebusuk-busuknya bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Sama seperti apapun kebobrokan kita yang kita tutup-tutupi akan terbuka juga nantinya, jadi mari perbaiki diri dan bertaubat meminta ridho dan ampunan-Nya. Dalam KBBI, definisi normal adalah menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa hal yang normal adalah hal yang sesuai dan tidak menyimpang dari kaidah. Kalau kamu beribadah dibanding teman-temanmu yang tidak beribadah, selamat, berarti kamu normal. Kalau kamu belajar dari teman-temanmu yang tidak belajar, selamat, berarti kamu normal. Kalau kamu enggak ngasih contekan ke temanmu, selamat, berarti kamu normal karena sudah menjalani hidup sesuai dengan suatu norma dan kaidah yang berlaku. Jadi, mulai sekarang yuk perbaiki mindset kita menjalani hidup normal sesuai dengan norma yang berlaku.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Bachelor of Political Sicince yang Pengen Sans aja.

Artikel dari Penulis