Orang Pendiam Sekalinya Marah Nyakitin Hati, Bagaimana Kita Harus Menyikapinya?

Orang Pendiam Sekalinya Marah Nyakitin

Orang Pendiam Sekalinya Marah Nyakitin Hati, Bagaimana Kita Harus Menyikapinya?

Menurut psikologi sifat manusia terbagi menjadi tiga, ada manusia yang introvert (bersikap tertutup), ada manusia yang memiliki sifat ekstrovert (bersifat terbuka) dan ada juga sifat seseorang yang ambivert (bisa tertutup dan bisa terbuka kepada semua orang). Lalu bagaimana dengan orang pendiam? Mungkin kita tak jarang melihat seseorang di sekeliling kita yang pendiam, tak banyak berinteraksi denganmu tetapi disisi lain dia bisa berinteraksi dengan orang terdekatnya (keluarga/pasangan/sahabatnya) tanpa kita ketahui. 

Saat kita tahu bahwa seseorang tersebut pendiam kepada kita, secara tidak sadar kita mungkin pernah menyakiti hatinya dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Kita beranggapan padanya,ah ga mungkin marah sih dia, dia kan pendiem, baik orangnya“. Selepas terus-terusan bersamanya kita menemukan titik di mana dia menjadi seorang yang marah kepada kita, bahkan kemarahan tersebut tak pernah kita duga, kemarahannya membludak seperti seseorang yang mengamuk karena terlalu lelah menahan semua yang terjadi. 

Lalu ekspektasi kita jadi terpatahkan, ekspektasi kita terhadapnya yang kita anggap pendiam, yang kita anggap baik berujung jadi kecewa karena satu luapan kemarahan yang dia buat. Kita jadi berpikir “orang yang pendiem sekalinya marah-marah nyakitin hati, mending orang yang yang kasar sekalian”. Kita membuat pernyataan seperti itu dan menjadi tak mau lagi dekat dengan orang pendiam, padahal logikanya apakah memang benar orang pendiam salah dan mending orang yang berbicara kasar sekalian?

Baca juga: Tipe-Tipe Orang dalam Organisasi, Kamu yang Mana?

Orang yang pendiam sekalinya marah-marah menyakitkan hati, benar memang, karena ekspektasi kita tentang terlihat baiknya dia di patahkan dengan satu kemarahannya, ya, satu kemarahannya. Saat kamu menyakiti dia berkali-kali tapi dia diam saja itu dia lakukan karena dia mampu untuk menahan diri agar tidak menyakiti hati balik dirimu dengan lisannya, walaupun mungkin kemarahannya jadi meluap karena dia tak mampu lagi menahan emosi tersebut.

Dan bukan berarti jadi menyalahkan karakternya yang pendiam dan membandingkan dengan orang yang setiap harinya berbicara kasar tersebut. 

Jika di akumulasikan, orang yg pendiam mungkin pernah berbicara kasar sekali dua kali, tapi orang yang terlalu blak-blakan, jika di akumulasikan bisa lebih banyak berbicara toxic-nya. 

Orang pendiam sekali marah menyakitkan hati bukan berarti itu jadi salah jika orang tersebut pendiam, justru dua-duanya musti saling introspeksi diri. 

Bagi yang pendiam musti introspeksi untuk tidak terlalu berlebihan dalam sikap diamnya (terlalu pasrah padahal terus di sakiti). Orang yang mendengar jika orang pendiam tersebut marah dan berbicaranya lebih menyakitkan hati dari sebelumnya harus bisa mulai sadar diri. Ini menjadi alarm untuk kita, ada yang salah dari sikap kita dengan hal tersebut maka dia menjadi tidak seperti biasanya. 

Jika kita bertanya pada orang-orang terdekat si pendiam ini, mungkin penilaian mereka denganmu akan berbeda atau mungkin bertanya kepada orang terdekatnya bisa jadi kita mengetahui sifat aslinya dan akan lebih aware kepada orang pendiam tersebut agar tidak menyakiti hatinya. Sikap sadar diri dari kedua pembicara maupun pendengar sama-sama harus saling mengerti dan paham apalagi terkait dengan kondisi faktor internal dan eksternal yang menimpanya dengan begitu inilah kunci terjadinya harmonisasi antar kedua belah pihak.

Jadi, yuk sadar diri keduanya. Jangan sampai jadi salah perspektif yah! 

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Bachelor of Political Sicince yang Pengen Sans aja.

Artikel dari Penulis