Prokrastinasi: Raksasa dalam Otakku yang Mengecil

Prokrastinasi: Raksasa dalam Otakku

Prokrastinasi: Raksasa dalam Otakku yang Mengecil

Barangkali hidup hanyalah sebuah paradigma menunggu mati, dengan hadiah otak yang mampu memecah beribu misteri, maka rugi sekali jika dalam perjalanan menunggu mati, otak tidak difungsikan sebagaimana mesti dan pasti. 

Belakangan ini, suguhan konten di media maya mampu meninabobokkan pecandunya, mulai dari hiburan, drama komedi sampai berita dan fakta yang dapat di akses dengan mudah. Tidak jarang berjam-jam waktu tergerus tanpa sadar. “Tiba-tiba sudah jam segini aja ya, padahal belum ngapa-ngapain.” Kalimat seperti itu berkali-kali terlontar dibarengi penyesalan yang kerap kembali terulang.

Rutinitas sebelum tidur selalu bertekad untuk bangun pagi dan segera melakukan aktivitas, tapi naas, insom sampai larut malam mengakibatkan paginya molor dan bangun kesiangan. Pas bangun ehh matahari sudah di ubun-ubun.  Sampai malas datang dan merenggut semangat, berdalih masih mengantuk hingga berujung rebahan. Tak terasa sore pun tiba, tetapi tenaga dan pikiran masih saja diistirahatkan. Malamnya menyesal dan berniat melakukan perubahan, tetapi kebiasaan buruk masih terus terulang.

Baca juga: Eksistensi “Kamu” dalam Refleksi

Raksasa itu semakin gemuk dan sebentar lagi mampu menguasai isi otak yang semakin mengecil, kebiasaan menunda-nunda (prokrastinasi) menjadi makanan sehari-hari. Konsumsi hiburan berjam-jam dengan aktivitas yang hanya rebahan mampu mencederai keaktifan otak. Mindset yang hanya mementingkan kesenangan mampu melumpuhkan semangat untuk belajar dan berkembang. Sajian konten yang ditonton secara berlebihan juga kerap memperburuk keadaan, mempengaruhi sikap, dan perilaku seseorang dalam menyikapi permasalahan.

Ada 5 tipe kebiasaan orang yang suka menunda, menurut Dr. Roy F. Baumister seorang psikolog-sosial. 

Tipe pertama adalah individu dengan tipe The Perfectionist. Orang dengan tipe ini cenderung menunggu mood atau waktu yang tepat untuk memeroleh hasil yang sempurna menurut dirinya. 

Tipe kedua yaitu The Ostrich, dimana individu ini terlalu banyak berpikir, ingin ini dan itu, selalu membayangkan hasil sesuai standar, tetapi enggan melakukan tindakan. 

Tipe yang ketiga ada Self Saboteur, dimana individu dengan tipe ini takut berbuat salah, berpikir apapun yang dikerjakan adalah suatu hal yang salah, dan berujung merugikan orang lain. 

Tipe ke empat adalah The Daredevil. Mereka mampunyai pemukiran yang keliru dalam mengerjakan sesuatu, di mana ia beranggapan bahwa akan lebih bersemangat mengerjakan sesuatu ketika mendekati deadline

Dan tipe yang terakhir yaitu The Chicken. individu dengan tipe seperti ini tidak memiliki kemampuan dalam melakukan pekerjaan dan hanya melakukan aktivitas yang ia senangi saja.

Baca juga: Mengenal Duck Syndrom, Si Pura-Pura Bahagia

Dari ke lima tipe penundaan diatas, masing-masing memiliki kelemahan yang berujung pada kemalasan. Ketika diri sudah dikendalikan rasa malas, tentu pekerjaan yang ringan maupun berat akan terbengkalai dan dapat memicu timbulnya stres karena merasa tidak berfungsi secara penuh, merasa tidak bisa mengontrol diri sehingga pikiran yang mengancam kerap menghantui. Dalam hal ini, promosi kesehatan mental semakin digencarkan, yang sayangnya tidak dibarengi dengan kesadaran mencegah daripada mengobati yang sudah terjadi.

Sadar akan pentingnya kesehatan mental memang perlu dimiliki pada jiwa setiap orang, tetapi sayangnya pengaruh dari luar sungguh kuat dan mampu melumpuhkan. Kendati kesadaran telah dipupuk, rasa percaya diri telah tertanam, tetapi lagi-lagi lagi faktor eksternal kerap menghambat perjalanan. Sampai saat ini, kehadiran media sosial diakui mempu meningkatkan kualitas hidup, walaupun tidak menutup kemungkinan juga semakin memperburuk keadaan, terutama bagi manusia-manusia yang tidak mampu menyesuaikan perubahan.

Raksasa itu semakin menghantui dan otakku tidak kuat lagi, berkali-kali aku coba mengubur kebiasaan buruk ini, mencoba bangkit dari keterpurukan akibat malas yang kian menguat, namun naas lagi-lagi aku kalah oleh raksasa itu, otakku rasanya ingin menyerah karena terlalu lama disenangkan hiburan media, hingga lupa waktu, menyepelekan tugas, tanggungjawab, sampai kesempatan yang datang mendekat. Mengesampingkan belajar, tidak mencoba hal baru dan hanya menjadi penikmat konten yang berkedok self-reward dan berdamai dengan diri sendiri. Ayo bangkit lagi, lawan raksasa itu agar tidak semakin kuat menguasai diri, aktifkan kembali fungsi otak dan kembali mengarungi kesempatan untuk bertumbuh dan bertahan. Tanamkan mindset bahwa aku tidak lagi dikuasai raksasa. Mindset yang salah itu sudah terkubur dan terbuang. Otakku sedik demi sedikit mulai kembali normal dan berfungsi dengan baik lagi. Semangat untuk perubahan perlu digencarkan, sedikit demi sedikit kebiasaan lama perlu diganti dengan kebiasaan baru yang positif dan lebih bernilai, agar dalam menjalani hidup tidak hanya sia-sia yang didapat, namun juga manfaat.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Made Mirah

Adelin Aprilia Sari adalah nama yang diberikan orangtuaku sejak 22 tahun yang lalu, menetap di kota industri dan memiliki tanggal lahir yang sama dengan peringatan hari Kartini, menjadi semangat tersendiri bahwa terlahir sebagai perempuan tidak menghentikan semangat bermimpi untuk terus mendapatkan pendidikan, karena perempuan adalah tiang perubahan. Berstatus sebagai mahasiswa di salah satu universitas swasta sang surya, yang meskipun masih bergelut dengan skripsi namun aku terus berusaha agar segera menjadi sarjana. Cukup yaa, kenalan lebih lanjut bisa kepoin medsos yang aku punya, kalau mau lewat ig bisa kunjungi @adelunaprilia_

Artikel dari Penulis