Aspiring Middle Class: Mayoritas yang Tak Terlihat

Aspiring Middle Class

Aspiring Middle Class: Mayoritas yang Tak Terlihat – Indonesia adalah negara yang indah, dengan banyak cerita menarik. Berbagai kalangan tinggal di sini, dari mereka yang hidup sederhana sampai yang berkecukupan. Dengan jumlah populasi 267,7 juta jiwa yang tinggal di negeri ini, menurut catatan World Bank pada tahun 2018, mayoritas dari penduduk kita sebenarnya telah keluar dari kategori poor income, tetapi banyak di antara mereka belum mampu naik ke middle class. Pada tahun 2020, World Bank sendiri memberikan 5 kategori kalangan penduduk di Indonesia: Poor (miskin) adalah mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional atau dengan penghasilan Rp354.000,00 per orang setiap bulan; Vulnerable (rentan) adalah mereka yang tinggal di atas garis kemiskinan dengan resiko jatuh yang tidak dapat dibaikan ke jurang kemiskinan memiliki penghasilan Rp354.000,00 hingga Rp2.000.000,00 per orang setiap bulan; Aspiring middle class (calon kelas menengah) adalah mereka yang tidak miskin dan rentan, tetapi secara ekonomi belum aman, penghasilan mereka antara 2 hingga 4,8 juta rupiah per orang setiap bulan; Middle class (kelas menengah) memiliki penghasilan antara 4,8 hingga 15 juta rupiah per orang setiap bulan; dan Upper class (kelas atas) memiliki penghasilan diatas 15 juta rupiah per bulan. 

Middle class memiliki penghasilan di atas rata-rata kalangan memiliki pilihan lebih dan rasa aman untuk mengakses rumah yang layak, kendaraan pribadi, dan pendidikan tinggi. sampai saat ini, ada 20% dari jumlah penduduk di Indonesia yang masuk dalam kategori ini. Kelas menengah memiliki dampak baik pada perekonomian negara, misalnya mereka telah mencapai keamanan ekonomi dan standar hidup tinggi; pendorong utama pertumbuhan konsumsi; dan pertambahan jumlah kelas menengah dapat mengurangi ketimpangan sosial.

Baca juga: Privilege Bukan Syarat Mutlak Meraih Sukses

Contoh yang berada di middle class adalah Pito, seorang karyawan swasta di kota Jakarta yang bekerja sebagai tenaga marketing pada industri manufaktur otomotif. Pito memiliki seorang anak dan istri yang bekerja sebagai make up artis. Pengeluaran paling besar adalah kebutuhan pokok untuk keberlangsungan hidup keluarga. Pito sendiri memiliki asuransi kesehatan dari perusahaan. Berkat terlahir dari rahim orang tua tamatan pendidikan dasar (SD), melalui kerja keras, dan doa mereka, Pito dapat menempuh pendidikan Strata-1, sehingga ia memperoleh posisi yang bagus dalam perusahaan. Pito dengan optimis menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik serta pekerjaan yang lebih layak, sehingga Indonesia akan menjadi negara maju, memiliki transportasi, dan sarana publik yang baik agar generasi muda dapat kesempatan yang layak di masa depan.

Aspiring middle class ada sekitar 115 juta jiwa penduduk, hampir dari setengah jumlah penduduk Indonesia. Walaupun mereka berhasil naik kelas dari kelompok miskin, bukan berarti dapat bertahan di atas garis batas atasnya ataupun berlanjut pada kelompok middle class. Penghasilan mereka yang secukupnya (2-4,8 juta rupiah per bulan) menyebabkan pilihan dalam menentukan rumah, kendaraan, dan pendidikan menjadi terbatas untuk kehidupan sehari-hari. Apabila mereka mendapatkan kesempatan untuk naik kelas pada kelompok middle class, akan ada perubahan positif dan signifikan di negeri ini.

Siapa yang berada di kategori aspiring middle class? Beliau bernama Indro Kurniawan, berusia 41 tahun bekerja sebagai PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) yang sering disebut orang-orang tim orange dengan penghasilan UMR Jakarta (sekitar 4,3 juta rupiah) pengeluaran 2,5 hingga 3 juta rupiah, bahkan bisa lebih. Jika keluarga Pak Indro sakit, mereka akan memilih puskesmas dengan pelayanan yang cukup baik. Istri Pak Indro bekerja sebagai membantu bersih-bersih dan tukang cuci. Pak Indro dilahirkan oleh orang tua tamatan SMP sedangkan Pak Indro menempuh SMA.. Dengan kesungguhan, Pak Indro berharap anaknya menempuh pendidikan tinggi, seperti kuliah sehingga bisa bekerja sebagai pegawai negeri atau pekerja kantoran.

Sebelum menjadi PPSU, Pak Indro pernah menjadi sekuriti di Cikarang yang berjauhan dengan keluarga. Karena anaknya sakit, Pak Indro keluar dari pekerjaannya untuk merawat anak-istri dan menganggur selama 1 tahun. Pak Indro sempat mengalami kebingungan makan dari mana, harus pinjam uang kanan-kiri. Hingga akhirnya Pak Indro bertemu Ketua RT, yang kebetulan teman akrab, memberi informasi bahwa ada lowongan PPSU dan alhamdulillah diterima. Dengan bekerja sebagai PPSU, Pak Indro bersyukur bisa bertemu keluarga setiap hari, mengantarkan anak sekolah, dan waktu libur dimanfaatkan bersama keluarga tercinta.Aspiring middle class menjadi mayoritas yang sedang berjuang meraih masa depan yang lebih baik, serta menjadi tiang penyangga negara. Sebaiknya, perlu ditingkatkan sarana dan kesejahteraan mereka demi kemajuan bangsa. Sama halnya dengan Pito yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari segi pekerjaan, penghasilan, dan upaya memberikan lebih pada orang banyak, Pak Indro berharap penghasilan yang lebih baik dari yang sekarang. Sehingga anaknya berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, dapat mengejar cita-cita, serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Aulia Diar Rahman, seorang manusia biasa yang tinggal dipinggir kota Sidoarjo, pernah menempuh pendidikan disalah satu universitas negeri di Kota Pahlawan.

Artikel dari Penulis