Mengulik Nilai Religius dalam Novel “Cinta dalam 99 Nama-Mu” Karya Asma Nadia

Mengulik Nilai Religius dalam Novel Cinta dalam 99 Nama Mu karya Asma Nadia

Mengulik Nilai Religius dalam Novel “Cinta dalam 99 Nama-Mu” Karya Asma Nadia – Asma Nadia adalah seorang penulis yang memiliki karya-karya besar. Novel-novel yang ditulisnya pun hampir semua difilmkan, diantaranya: Assalamualaikum Beijing, Jilbab Traveler, Pesantren Impian, Surga yang Tak Dirindukan, dan masih banyak lainnya. Karya-karya beliau pun banyak sekali yang mengandung nilai-nilai religius, termasuk pada salah satu karyanya yang berjudul Cinta dalam 99 Nama-Mu. Novel yang mengisahkan kedua tokoh utama yang berbeda jalan kehidupannya, Arum yang hidup dengan keadaan sakit, tetapi selalu taat dengan Allah, sedangkan Alif adalah laki-laki bandel yang jauh dari Allah, tetapi lambat laun ia mulai mencintai 99 Nama Baik Allah SWT. Novel tersebut menghadirkan nilai-nilai religius yang wajib kita ketahui dan laksanakan di dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, apa saja sih nilai-nilai religius dalam novel tersebut? Pada artikel ini, penulis akan membahas 3 nilai religius tersebut, antara lain: hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, serta manusia dengan Tuhan.

Mari kita bahas satu per satu~

Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri

Manusia akan terus mencari jalannya sendiri demi kebaikan dirinya. Itulah yang dikatakan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Nilai religius tersebut tergambar pada tokoh Alif, Arum, serta Bapak Arum. Hal tersebut dapat dilihat pada penggalan-penggalan cerita berikut:

Beruntung, selama ini Alif cukup luwes bergaul dengan anak-anak pejabat, meski ia sendiri bukan jenis orang yang gampang mundur jika digertak. Malah ia sudah pintar pula menggunakan koneksi Bapak yang sempat menjadi anggota DPRD, untuk gangguang yang tidak bisa ia tangani sendiri (Asma Nadia. Cinta dalam 99 Nama-Mu…, 2018:h. 4).

Alif merupakan sosok laki-laki yang mempunyai pribadi pemberani serta mudah bergaul. Ketika bekerja di lahan parkir milik Bapaknya, banyak gangguan yang dialami oleh Alif. Akan tetapi, itu semua tidak membuat dirinya takut. Alif sangat berani dalam menghadapi gangguan pesaing kerjanya tersebut karena dirinya mempunyai banyak kenalan atau teman. Jika semua gangguan yang dihadapinya itu sudah melewati batas kemampuannya, dirinya tidak segan meminta bantuan kepada yang lebih tinggi darinya, seperti teman ayahnya saat masih menjadi DPRD. Selain itu, ia juga berteman dengan anak-anak pejabat. Memiliki pribadi pemberani dan mudah bergaul merupakan kebutuhan dirinya untuk melindungi tubuh dan diri sendiri dari serangan atau gangguan-gangguan yang secara tiba-tiba menghadangnya.

Selanjutnya, nilai religius “hubungan manusia dengan dirinya sendiri” juga tergambarkan pada diri Bapak Alif. Hal tersebut dapat terlihat pada penggalan cerita berikut:

Jam menunjukkan pukul empat sore. Alif yang bersiap-siap keluar rumah, mendengar teguran itu, balik bertanya, “ Hari gini masih baca koran, nggak salah?” (Asma Nadia. Cinta dalam 99 Nama-Mu…, 2018:h. 5).

“Baca koran itu penting buat mengasah pancaindra. Teknologi bisa saja semakin maju. Tapi, membaca koran dan buku sangat berguna untuk melatih kemampuan” …. ”(Asma Nadia. Cinta dalam 99 Nama-Mu…, 2018:h. 5).

Bapak Alif merupakan seorang bapak yang sangat menghormati sebuah ilmu. Ia tidak gampang terpengaruh oleh teknologi. Walaupun sekarang apapun bisa kita dapatkan melalui gadget, dirinya masih sangat suka membaca koran yang dianggapnya penting untuk melatih panca indra. Seiring dengan berkembangnya teknologi, banyak sekali manusia yang sudah tidak suka membaca.

Lalu yang terakhir, nilai religius “hubungan manusia dengan dirinya sendiri” juga tergambarkan pada diri Arum. Dapat terlihat pada penggalan cerita berikut:

“Mana si Item? Tumben nggak kelihatan!” Mama memandangi punggung anak-anak yang berlalu. 

“Namanya Ical, Ma!” 

“Iya ical, yang item, kan?” 

Arum menghembuskan napas. Malas melanjutkan pertengkaran. Ia hanya menjawab singkat. 

“Sudah tidak di sini lagi sejak kemarin, mungkin pulang kampung.” 

“Yakin itu alasannya?” Arum mengiyakan 

“Kamu sudah periksa? Tidak ada barang yang hilang?” Mama menatap tajam.

Astagfirullah.

Gadis itu menggeleng. (Asma Nadia. Cinta dalam 99 Nama-Mu…, 2018:h. 45).

Arum merupakan sosok wanita yang selalu berprasangka baik (husnudzon) kepada orang lain. Walaupun Mamanya menuduh anak asuhnya mencuri barang-barang Arum, Arum tetap tidak berprasangka jelek kepada anak asuhnya tersebut. Dirinya tidak pernah berprasangka jelek sekali pun walaupun Mamanya selalu suudzon (berprasangka buruk) kepada anak-anak asuhnya. Selalu husnudzon (berprasangka baik) merupakan hal baik yang selalu tertanam dalam diri Arum.

Hubungan Manusia dengan Manusia Lain 

Manusia memanglah makhluk sosial. Kita tidak pernah meninggalkan sebuah interaksi. Agar kehidupan harmonis, manusia pun harus saling peduli serta membantu satu dengan yang lainnya. Nilai religius kedua dalam novel Cinta dalam 99 Nama-Mu meliputi: kepedulian serta tolong menolong kepada sesama. Hal tersebut dapat kita lihat pada penggalan cerita berikut:

…Perlengkapan shalat Arum pun, Bik Nah, pembantu mereka yang membelikan. Ia juga yang mengajarkan Arum shalat sejak mendapat haid pertama (Asma Nadia. Cinta dalam 99 Nama-Mu…, 2018:h. 26).

Penggalan pertama membuktikan bahwa sosok Bik Nah sangat senang sekali menolong Arum. Ia mengajarkan Arum kebaikan, yaitu salat. 

Hubungan Manusia dengan Tuhan 

Nilai religius terakhir ini ialah bagaimana seorang manusia menjalankan perintah-perintah Tuhannya serta menjauhi semua larangan Tuhannya. Isi novel Asma Nadia ini memiliki nilai religius hubungan manusia dengan Tuhan, antara lain: ketabahan serta menunaikan ibadah shalat.

Adapun nilai religius ketiga ini, dalam novel “Cinta dalam 99 Nama-Mu” dapat kita lihat pada penggalan cerita berikut:

“Allah mengingatkan kita dengan berbagai cara termasuk melalui mimpi. Yang buruk, baiknya kamu simpan, yang baik lihat sisi positifnya.” Si orang tua menggeser sedikit duduknya hingga berhadapan dengan Alif (Asma Nadia. Cinta dalam 99 Nama-Mu…, 2018: h. 101).

“Aku senang kamu rajin shalat bahkan ikut menjadi pengurus masjid di dalam sini. Tapi sebetulnya kamu mampu berbuat lebih dari itu.” (Asma Nadia. Cinta dalam 99 Nama-Mu…, 2018: h. 101).

Penggalan cerita di atas membuktikan bahwa sosok Alif tidak meninggalkan salatnya ketika ia di dalam tahanan. Lalu, ia bertemu sosok Pak Dahlan yang bijak serta selalu melibatkan Allah dalam segala hal.

Banyak sekali nilai religius yang dihadirkan Asma Nadia dalam novelnya yang berjudul Cinta dalam 99 Nama-mu. Semoga kita semua dapat mengambil serta melaksanakan nilai-nilai baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Semangat membaca novel untuk menggali nilai-nilai baik di dalamnya yaa~

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Aghani

Bagikan di:
Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Si pecinta es batu.

Artikel dari Penulis