Pengadaan Drone Serang dan Peluang Pengembangan Industri Pertahanan Nasional

Pengadaan Drone Serang dan Peluang Pengembangan Industri Pertahanan Nasional

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai diperbincangkan bahwa pihak militer Indonesia akan mengakuisisi beberapa unit drone serang asal Turki. Hal tersebut seperti yang dilansir dalam situs janes.com, bahwa pihak Kementerian Pertahanan Indonesia menyetujui program pengadaan drone serang dari Turki yang ditaksir akan menggelontorkan anggaran dana sebesar 200 juta USD. Jumlah anggaran tersebut tentunya belum termasuk beragam amunisi dan kelengkapan pendukung drone tersebut yang diperkirakan akan menghabiskan dana lebih dari 38 juta USD.

Pengadaan drone serang tersebut tentunya mengingatkan kita dengan proyek nasional sebelumnya yakni Elang Hitam yang dihentikan pengembangannya oleh BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) pada pertengahan tahun 2022 silam. Padahal, proyek tersebut memang diperuntukan untuk kebutuhan TNI yang pada beberapa tahun sebelumnya memang cukup gencar dalam pengembangan drone untuk kebutuhan pertahanan. Sontak, rencana pengadaan drone serang dari Turki tersebut cukup menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap industri pertahanan nasional, khususnya dalam lini pengembangan kendaraan udara tanpa awak (UAV).

Penghentian Proyek Drone Serang Nasional karena Tidak Sesuai Perencanaan

Penghentian proyek drone ‘Elang Hitam’ di tahun 2022 silam memang sempat menimbulkan polemik di beberapa kalangan. Namun, pihak BRIN mengungkapkan bahwa proyek drone tersebut bukanlah dihentikan, tetapi digeser fokus pengembangannya untuk keperluan sipil. Dengan kata lain, proyek yang sejatinya diberi nama PUNA (Pesawat Udara Nirawak) tersebut tidak akan diperuntukan untuk kepentingan kombatan atau militer.

Baca juga: Berkaca pada Perang Modern dari Konflik Rusia-Ukraina

Melansir dari kanal berita Republika, sejatinya proyek drone Elang Hitam ini merupakan pengembangan bersama antara Kementerian Pertahanan Indonesia (Kemenhan), TNI-AU, PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang kemudian dilebur ke dalam BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), serta Institut Teknologi Bandung (ITB). Beberapa pihak juga menganggap penghentian proyek ini penuh dengan kepentingan politik segelintir orang atau kelompok.

Pengadaan Drone dari Turki Diharapkan Mampu Membantu Pengembangan Drone Nasional

Industri kemiliteran di Indonesia sejatinya sudah mampu memproduksi pesawat drone (UAV) secara lokal. Hal ini dikarenakan pengembangan teknologi drone yang juga ditopang dari sektor sipil dan swasta sehingga memudahkan dalam hal riset. Namun, sejauh ini Indonesia hanya mampu memproduksi drone tipe intai ataupun drone target untuk latihan militer, sedangkan untuk kemampuan pengembangan drone serang perlu diakui Indonesia memang belum mencapai teknologi tersebut karena keterbatasan industri penopang lainnya.

Baca juga: Menilik Kevalidan Situs Global Firepower (GFP) dalam Acuan Kekuatan Militer Dunia

Di sisi lain, pengadaan drone serang dari Turki yang dikenal sebagai salah satu produsen drone di dunia tersebut diharapkan dapat membantu dalam pengembangan drone serang nasional melalui program Transfer of Technology (TOT). Program TOT sendiri umumnya dapat tercapai jika ada kesepakatan pembelian unit alutsista atau sistem persenjataan dalam jumlah tertentu yang sesuai dengan kesepakatan pihak-pihak terkait. Jika melihat dari nominal anggaran yang akan dikeluarkan, diperkirakan Indonesia dapat membeli lebih dari 10 unit drone serang dari Turki.

Melansir dari situs airspace-review.com, drone serang dari negara Turki yang diminati Indonesia adalah Bayraktar TB2 dan Anka-B yang merupakan drone serang yang memiliki predikat “battle proven” atau telah teruji di medan pertempuran. Sebelum mengarah ke program TOT, tentu perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana terlebih dahulu dalam pengembangan drone nasional tersebut. Pengembangan alutsista dengan sistem TOT memang lebih memungkinkan baik dari segi pendanaan dan waktu bagi negara yang belum ada pengalaman sama sekali dalam membuat alutsista strategis sebelumnya.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Mahasiswa Yang Hobi Jalan-Jalan Dan Menulis Agar Tidak Hilang Dari Roda Zaman.

Artikel dari Penulis