Zaman Sekarang Masih Baca Buku Bajakan? Kebacut!

Baca Buku Bajakan

Zaman sekarang masih baca buku bajakan? Kebacut! – Bicara soal pembajakan buku, hal ini tentu bukan topik kemarin sore yang baru muncul ke permukaan. Permasalahan pembajakan buku tak ubahnya cerita lama yang tak pernah selesai. Rasanya hampir semua yang terlibat di industri literasi pernah membahas tentang masalah ini, terutama penulis. Meskipun faktanya tidak hanya penulis yang dirugikan, tapi juga penerbit dan semua tim yang terlibat dalam penerbitan suatu buku.

Terlepas dari berbagai faktor maraknya pembajakan buku, konsumen tentu memiliki peran besar atas laku atau tidaknya buku-buku bajakan tersebut. Seperti apa yang diucapkan Emma Watson,

As consumers, we have so much power to change the world by just being careful in what we buy

Dengan menolak membeli buku bajakan, kita sudah ikut andil dalam melawan pembajakan buku. Bayangkan saja jika semua orang tidak tertarik lagi dengan buku bajakan, maka lambat laun pembajakan buku pun akan musnah dari muka bumi.

Maka edukasi tentang pembajakan buku dan kesadaran membeli buku asli juga penting bagi pembaca agar tidak merasa terjebak atau lalai ketika tidak sengaja membeli buku bajakan. Walaupun bukan hal baru, tapi tidak menutup kemungkinan adanya ketidaktahuan pada masyarakat perihal buku bajakan.

Macam saya dulu..

Lahir dan tumbuh di kota kecil, tak banyak yang bisa dieksplorasi perihal buku bacaan. Tanpa tahu Gramedia atau Togamas ada di muka bumi ini, variasi buku bacaan hanya bergantung pada koleksi perpustakaan atau paling mentok pinjam teman yang kebetulan saudaranya punya buku atau novel bagus.

Ketika tahun 2015 kuliah di Surabaya, saya berkenalan dengan pasar buku di Jalan Semarang. Surga buku murah, mulai dari buku bajakan, buku bekas, hingga buku orisinil baru yang murah dan tentu saja kalau mencarinya macam mencari jarum di tumpukan jerami. Saya masih ingat rasa kebahagiaan setiap datang ke sana di awal masa kuliah. Iya dong, banyak buku bertuliskan best seller dengan harga sangaaaaatt miring. Boleh percaya atau tidak, patokan saya setiap ke sana harga untuk 3 novel hanya Rp50.000,00. Gila kan?

Dulu saya mengira buku-buku itu “sengaja” dijual murah oleh penerbit karena dicetak di kertas buram. Ingat! Saat itu saya masih anak kampung yang baru tahu kota besar. Sampai akhirnya salah satu teman berkata bahwa itu buku bajakan. Saya kaget.

“Hah? Bajakan? Emang bisa? Kok kayak kaset, ada bajakannya?”

Dari situ saya mulai banyak cari tau fakta-fakta soal buku bajakan. Belajar bagaimana sebuah buku harus melewati proses panjang dan melibatkan banyak pihak.

Mulai dari sini saya sadar pentingnya edukasi. Bukan hanya sekedar edukasi tentang isi buku, penyebaran ilmu pengetahuan, atau hanya perkara minat baca, tapi juga soal bagaimana proses pembuatan sebuah buku itu sungguh tidak mudah dan tidak murah. Dari ide awal, proses penulisan, tembus ke penerbit, editing, pencetakan, hingga promosi. That’s a long process.

Dengan semakin majunya peradaban, akses menuju buku makin melimpah. Semakin banyak pilihan bacaan dan media untuk dibaca. Berbeda dengan sepuluh tahun lalu, apalagi di daerah, toko buku (online maupun offline) tidak sebanyak sekarang, ekspedisi tidak semarak sekarang, dan internet tidak segencar sekarang. Tentu alasan-alasan untuk mengonsumsi buku bajakan tidak lagi masuk akal.

Jika harga buku yang mahal menjadi alasan utama kamu beli buku bajakan, berikut ini beberapa cara alternatif agar kamu bisa tetap membaca buku.

Perpustakaan

Sekecil-kecilnya daerah pasti ada perpustakaan dong? Minimal perpustakaan daerah. Tak bisa dipungkiri memang, terkadang koleksi perpustakaan, apalagi di daerah tidak selengkap toko buku. Mungkin buku yang kamu cari tidak tersedia, tapi bukan berarti buku lain juga jelek. You don’t know how good the book is, before you read it.

Pinjam teman

Coba tanya dulu kepada teman kalian apakah mereka punya buku yang ingin kalian baca, siapa tahu ada yang punya dan bisa kalian pinjam. Tapi jangan maksa ya kalau enggak dibolehin pinjam. Kalau pun diberi pinjaman jangan lupa dijaga baik-baik, jangan sampai kotor, robek atau rusak. Kalau tidak, kalian tidak dibolehin pinjam lagi. Jangan maksa juga kalau enggak dikasi pinjaman.

Buku bekas

Cara mendapat buku asli dengan harga lebih murah adalah dengan membeli buku bekas. Kalau beruntung kalian bisa mendapat buku dengan kondisi masih bagus atau bahkan bertanda tangan penulis. Selain bisa mengurangi potensi buku menjadi sampah, kalian bisa juga menjual ulang buku itu setelah selesai dibaca. Kalau termasuk buku langka, bisa banget tuh ambil untung dengan harga yang lebih mahal. Itung-itung investasi yekan. Cuan cuan cuaan~

iPusnas

Kalau perpustakaan nasional terlalu jauh untuk digapai (eh, dikunjungi). Coba saja pinjam di iPusnas. Perpustakaan nasional digital. Cukup download dulu aplikasinya, cari buku yang kalian mau baca, trus pinjem deh tuh.

Ebook

Bagi penerbit, ebook adalah salah satu cara untuk menjangkau tempat yang mungkin tidak bisa dijangkau oleh buku fisik. Buku bisa menjangkau pelosok dan bahkan ke berbagai negara di dunia. Selama ada gadget dan internet, ebook bisa hadir di manapun. Harganya pun tidak semahal buku fisik.

Situs baca buku online

Bagi para pembaca yang tidak memiliki masalah dalam membaca buku di gadget, bacaan di situs-situs macam wattpad bisa menjadi pilihan alternatif untuk kalian. Memang ada beberapa yang berbayar, tetapi yang gratis juga tidak sedikit. Tentu saja di situs ini kamu enggak akan bertemu buku yang biasa dijual di toko buku. Tapi ada juga buku-buku yang layak untuk dibaca dan worth it kok. Yaaaaa walaupun kemungkinan ketemu yang cocok sesuai selera kalian sama seperti mencari jarum di antara jerami. Untung-untungan. Saya sendiri sebenarnya akan memaklumi jika pembajakan terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu dimana akses menuju buku belum melimpah seperti sekarang. Walaupun pada dasarnya hal ini tidak bisa dibenarkan. Dengan membludaknya akses bacaan baik fisik maupun digital seperti sekarang. Rasanya tidak salah kalau saya bilang “kebacut” jika masih ada yang membeli buku-buku bajakan. Jadi, mulai sekarang jangan ada lagi alasan untuk membeli buku bajakan ya.

Penulis suka-suka.

Artikel dari Penulis