Kaum Miskin Dipelihara Youtuber

Kaum Miskin Dipelihara Youtuber

Kaum Miskin Dipelihara Youtuber – Negara hari ini yang seharusnya bertanggung jawab memelihara dan memberi jaminan kehidupan yang layak bagi seluruh masyarakat seperti yang tertuang di sila kelima Pancasila “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Sepertinya hal ini hanya slogan dan simbolis belaka yang mana wajah sesungguhnya negara hari ini melayani kepentingan kaum pemilik modal/pengusaha hal ini bisa kita lihat juga dari disahkannya UU Omnibus Law/Cipta Kerja.

Eits, sepertinya emang bukan negara deh coba kita buka medsos kita akan kita jumpai ternyata hari ini kaum miskin udah mulai diperhatikan oleh orang-orang yang baik hati, sungguh luar biasa bukan?

Kemiskinan sudah menjadi realita kehidupan bagi mayoritas masyarakat kita hari ini, mereka tinggal dirumah yang tidak layak, akses pendidikan mahal, biaya kesehatan apalagi, gaji tak seberapa pula lengkap lah sudah. 

Padahal kalau kita lihat sebenarnya mereka gak malas-malas juga sih seperti kata orang kaya atau setengah kaya, bahkan tak jarang mereka bekerja dari pagi hingga sore bahkan ada yang sampe malam. Jadi kalau bisa dibilang argumen yang kek gitu dangkal sih. 

Tapi pasti kita bertanya gitu kan kenapa sih mereka miskin? Apa karena malas? bodoh? Tidak punya semangat hidup?

Sebenarnya sih kita harus jujur dan jernih untuk menjawab pertanyaan ini.

Udah banyak contoh orang-orang yang kalau cerita kesuksesan nya itu karena kerja. Kita sebut saja Chairul Tanjung, mas nadiem dll. Kita ambil contoh misal pak Chairul Tanjung yang banyak digadang-gadang dia merintis dari bawah seperti jual singkong hingga menjadi pemilik salah satu stasiun TV. Tapi kita pasti mikir deh setelah mendengar celotehan mutiara begitu, banyak juga sih hari ini mereka yang jual singkong tapi kok gak seperti pak Chairul Tanjung ya atau minimal mendekati lah ya, lantas mengapa?

Baca juga: Cobalah Renungkan, Negara Ini Sebenarnya Sudah Sangat Adil

Ya, sebenarnya sih kita harus paham dulu sih dunia kita ini, yang sekarang ini sebenarnya kita hidup di masyarakat kelas, ada kelas pengusaha, ada kelas buruh, ada kelas petani, ada kelas tuan tanah. 

Mungkin kita bisa lihat deh emak atau bapak kita nih masuk ke kelas mana, yang sebenarnya sih mayoritas rakyat Indonesia itu ya kalo gak buruh pasti petani. Berangkat dari sini lah mulai ada ketimpangan, seorang pengusaha misalnya mereka hidup dari akumulasi keuntungan yang dihasilkan dari usaha miliknya seperti pabrik kopi, dan komoditas lain. Paling parah sih sebenarnya seperti yang dikatakan mbah Marx keuntungan si pengusaha itu ya dari nilai lebih yang dihasilkan oleh si buruh. 

Jadi ya yang disebut kapitalis keuntungannya itu sebenarnya hasil kerja buruh. Ironisnya lagi nih si buruh yang udah diperas 8 atau 12 jam cuma dikasih gaji yang gak sebanding dengan yang dikerjakannya (gaji dibawah UMR atau Pas UMR deh). Sementara mereka harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti menyekolahkan anak-anak mereka.

Dari analisa ini saja lah sebenarnya udah timpang banget gitu. Satu makin kaya karena meras keringat buruh terus, sementara yang satu dipaksa harus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari ketimpangan ini lah kadang akan memunculkan kejahatan. Si buruh yang bergantung dengan upahnya yang tidak layak harus memenuhi kebutuhan. Di sisi ini lah kadang tidak terelakkan untuk mereka mencuri, menipu atau bahkan cari muka ke atasan biar naik jabatan.

Situasi- situasi di atas mungkin mendorong yang katanya “orang-orang baik” untuk memberi, bersedekah, berderma atau berbagi kepada orang-orang miskin. Tapi ironisnya tak jarang “orang-orang baik” ini yang juga seorang pengusaha (seperti sudah kita jelaskan di atas) sebenarnya mereka sedari awal yang juga berperan melanggengkan kemiskinan dan ketimpangan. 

Jadi ini seperti sebuah lelucon sebenarnya, di satu sisi menampilkan citra yang positif sementara di sisi yang lain mereka juga yang mengeksploitasi dan melanggengkan kemiskinan. Bahkan kalau kita telusuri dan analisis dari apa yang dilakukan “orang-orang baik” ini sebenarnya juga menjadikan “kemiskinan atau orang miskin” sebagai komoditas baru yang menghasilkan profit bagi mereka.  

Video-video saat mereka memberi kepada orang miskin dapat menghasilkan lebih banyak uang dari pada yang mereka berikan ke “orang miskin” tadi. Sungguh niat yang mulai dan baik sekali!

Kita bisa saksikan bahwa kemiskinan hanya tontonan bagi orang-orang kaya.  Seharusnya tugas tersebut dilakukan oleh negara, tapi tidak pernah menjadi prioritasnya. 

Lihat saja pejabat-pejabat kita sibuk mengurusi satu proyek ke proyek lainnya. Katanya untuk kebaikan rakyat? Lantas kita balik bertanya kepada tuan dan nyonya, rakyat manakah yang dimaksud? Tidakkah tuan dan nyonya menyaksikan bahwa rakyat sedang susah akibat pandemi ini. Sedangkan dari laporan harta kekayaan tuan dan nyonya malah meningkat sejak pandemi? Masih pantaskah dikatakan berbuat untuk rakyat?

Editor: Firmansah Surya Khoir
Designer: Design by Ghani

Seorang Mahasiswa Psikologi USU semester akhir yang belum kunjung tamat.

Artikel dari Penulis