Tuhan sebagai Seniman Agung: Sebuah Prosa Estetika Kosmik — Di antara kita, mungkin ada sebagian yang pernah membaca buku Tuhan Maha Asyik. Satu buku yang mengubah pola bacaan saya tentang Tuhan. Mengapa bisa? Karena sebelum membaca karya babon itu, saya masih menganggap Tuhan itu: seram dengan segala Ancamannya, menakutkan dengan segala konsekuensi yang dibuatnya. Tapi setelah membaca karya itu, saya semakin yakin bahwa Tuhan memang Asyik, bahkan sebelum kata “Asyik” itu mainstream di telinga kita.
Tuhan itu akan Asyik kalo kita memahaminya, seperti manusia yang sudah akrab dengan sesamanya, bahkan dengan makhluk lainnya. Namun kali ini, saya tidak akan membahas karya itu secara detail, hanya dijadikan sebagai bumbu pemanis dari goretan yang kasar ini.
Saya harus menyapu tulisan ini dari awal, agar pola pikir kalian tidak menjerumuskan kalian pada lubang kesesatan. Ada hal yang perlu diperhatikan ketika kita membaca buku dengan judul sedikit ekstrem, yaitu Premis Berpikirnya. Mekanisme ini kerap diabaikan, justru mekanisme ini lah yang memuluskan cara baca teman-teman sekalian. Barangkali di benak sebagian kita timbul ketertarikan, sementara yang lain mungkin menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran. Apakah ini kaga berlebihan Fiz? Atau lu lagi menyeret Tuhan ke ranah antroposentris? Salah? Owh tidak. Malahan bagus, karena pertanyaan semacam ini merupakan wahana dialektika dengan saya.
Seniman dalam konteks ini bukan dalam arti menyamakan Tuhan dengan sifat kemanusiaan. Diksi seniman yang saya gunakan bermaksud sebagai “Metafora Epistemologis”, bukan “Antropomorfisme Teologis”, sehingga Sang Seniman ini boleh saja direpresentasikan ke dalam prinsip-prinsip estetika, kreativitas, hingga intensi suatu ciptaan. Alam yang kita rasakan hari ini tidak hanya flat, adanya untuk kematian, tapi alam itu butuh dipahami. Dari jagat semesta ini timbul rasa takjub di benak kita, kemudian muncullah pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang Tuhan. Apakah Dia yang menciptakan semua ini? Kalo iya, seni model apa yang digunakan sehingga menjadi jagat semesta seestetik ini?
Dari sinilah kita dapat melihat relasinya secara jernih. Tuhan adalah Seniman Agung yang pernah ada. Dan manusia adalah salah satu proyeksi seni yang Ia ciptakan.
Seniman dalam pengertian Metafora Epistemologis
Sebagaimana kita tahu, Epistemologi merupakan salah satu dari tiga pilar Filsafat, yang berorientasi pada bagaimana kita memperoleh ilmu pengetahuan. Sedangkan metafora adalah teknik membandingkan dua hal yang berbeda secara langsung, tanpa adanya embel-embel pembanding. Si Jago Merah contohnya. Metafora Epistemologis ini menawarkan dua visi, yaitu Piramida dan Perahu. Piramida bertujuan untuk mengetahui sesuatu hingga dapat dikonseptualisasikan, didekonatruksi, serta bagaimana cara membangunnya kembali. Sedangkan Perahu bertujuan untuk membangun pondasi kokoh bagi umat manusia. Itulah mengapa Tuhan itu saya identikan dengan Seniman Agung.
Pada konsep dasarnya seniman memiliki ciri fundamental: Pertama, ia menciptakan sesuatu berdasarkan intensinya. Kedua, ia menghadirkan makna pada karya seni yang dibuat. Ketiga, karya seninya bisa ngebuka relasi kepada para penikmatnya. Sampai sini kita dapat memahami bahwa seni, berandai terjadinya dialog antara Seniman, Karya Seni, dan Penikmat Seni. Oleh karenanya, jika “Seniman” dipahami sebagai subyek yang mencipta dengan kehendak, kesadaran, dan intensi makna, maka sebutan ini menjadi inklusif (universal). Pijakan inilah yang menurut hemat saya, majaz “Seniman Agung” bagi Tuhan sudah menemukan kerangka logisnya.
Kosmik adalah Karya Seni Estetik Tuhan
Dalam horizon modernitas, kosmos sering dipahami sebagai sistem mekanistik yang tunduk sepenuhnya pada hukum fisika dan kalkulasi matematis sekaligus. Galaksi direduksi menjadi sirkuit semesta, dan jagat raya diperhimpit sebagai rangkaian kausalitas tanpa makna intrinsik. Lensa semacam ini berhasil menjelaskan bagaimana Medan kehidupan ini bekerja. Namun agak-agaknya, gagal menemukan jawaban mengapa dan bagaimana keteraturan, harmoni, dan keindahan justru menjadi muka paling dominan dari realitas kosmik. Sehingga muncul pertanyaan filosofis terkait hal itu, “apakah kosmos hanya diciptakan sebagai sistem netral, ataukah ia juga memiliki dimensi intensi makna estetika?
Kosmos sebagai tatanan bermakna
Pada dasarnya, secara etimologi kata “kosmos” dalam tradisi Yunani tidak berarti “alam semesta” secara netral, melainkan tatanan yang teratur nan indah. Secara terminologi kata “kosmos” merupakan cabang dari filsafat epistemologi, sebagai ilmu yang menganalisis kosmos (alam semesta) yang umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu selain Tuhan. Sejak awal kosmos memiliki unsur normatif dan estetis, sebagaimana yang dituliskan Plato. Dalam filsafat estetika tidak direduksi pada euforia inderawi semata. Kita pinjam saja istilah Purposiveness without purpose—konsep keselarasan yang seolah-olah bertujuan, bukan tujuan utilitarian. Saya tidak akan menjabarkan, apa itu estetika menurut filsuf atau bagaimana cara kerja estetika dalam berseni? Karena saya percaya bahwa teman-teman sudah mengetahui.
Istilah “karya” yang saya utarakan di lembar sebelumnya perlu dipahami secara analogis, bukan secara hakikat maknawi. Tuhan sebagai Sang Seniman tidak berkarya layaknya manusia. Dia tidak butuh guru untuk memahami konsep seni. Dia tidak perlu kuas untuk mengaplikasikan cat. Dan Dia tidak butuh penghapus untuk menghilangkan sesuatu yang Dia tidak suka. Mengapa? Karena penciptaan yang dalam hal ini adalah “Karya Seni” dipahami sebagai emanasi kehendak dan hikmah Tuhan. Sebab itu, memandang kosmos sebagai karya estetik Tuhan adalah manifestasi keteraturan dan kebijaksanaan Ilahi.
Selanjutnya, Aristoteles menegaskan bahwa realitas bergerak menuju tujuan (telos). Pada horizon kosmos, tujuan ini tampak pada keteraturan hukum alam secara konsisten dan universal. Tak hanya Plato yang berpandangan demikian, Albert Einstein yang kita kenal sebagai Saintis abis, mengakui bahwa aspek paling tak terjangkau dari semesta adalah kenyataan bahwa ia dapat dipahami secara rasional. Menurut hematku, keteraturan dan rasionalitas kosmik ini bukan dalil paten, ia dapat menjadi wadah dialogis intelektual yang tetap mempertahankan prinsip dasar realitas.
Baca juga: Kapitalisme Ketuhanan: Pemerasan Keringat dengan Dalih Pahala
Kosmos juga memperlihatkan pluralisme ekstrem, yang berangkat dari partikel menuju galaksi raksasa. Namun tetap berada dalam satu relasi yang saling menopang satu sama lain. Plotinus menyebutnya sebagai The One yang menyebar ke berbagai penjuru tanpa kehilangan rumah asalnya. Ada satu tokoh yang cukup membuat saya tercengang, Hans Urs von Balthasar, namanya. Jika saya menyebut “Kosmik adalah karya seni estetik”, maka Balthasar menyebutnya sebagai “estetika teologis”. Ia berusaha menggabungkan dua pisau bedah yang berbeda, satu estetika (filsafat), dua teologis (agama). Lucunya, ia menekankan bahwa keindahan memiliki daya epifani yang menyingkap suatu makna tanpa pemaksaan.
Keindahan kosmik tidak menuntut manusia untuk beriman, tetapi mengundang Mereka bahwa masih ada sesuatu yang di angan batas kemampuan mereka, yaitu Kesenian Tuhan. Sama halnya seperti Beragama, Tuhan tidak memaksakan kita untuk beriman kepadanya, tapi Dia menunjukkan segala sesuatu yang tidak bisa manusia lakukan, sehingga implikasi itu menyebabkan manusia beriman. Alam semesta ini contohnya. Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa saya menyajikan Tuhan sebagai Seniman Agung bukan berarti memproyeksikan-Nya ke dalam sifat-sifat manusia, atau memproyeksikan sifat manusia ke dalam Tuhan. Bukan seperti itu. Saya menggunakan pisau tanzih—yang menegaskan ketakterbandingan Tuhan dengan segala ciptaan-Nya.
Baca juga: Sudah Saatnya Relasi Kuasa Kiai-Santri Diintip dari Luar: Budayanya Sama, tapi Nilainya Sudah Mulai Ambruk
Dengan demikian, estetika kosmik yang saya maksudkan di sini bukan merepresentasikan Tuhan “menyukai keindahan” secara psikologis atau biologis, tetapi bahwa karya Seni Tuhan adalah modus keteraturan hikmah ilahi yang bisa ditangkap oleh akal, rasa, dan panca indera Manusia.
Pada tahap ini lah, saya akan mengarahkan kalian ke pembahasan memandang kosmos dengan lensa seni kontemporer. Kosmologi modern telah menemukan fenomena fine-tuning, konstanta-konstanta alam semesta berada pada nilai yang amat sangat presisi sehingga memungkinkan keberadaan struktur yang kompleks. Nilai-nilai yang presisi ini menunjukkan bukti keberadaan Tuhan. Karena sudah pasti akan adanya kehidupan di dalamnya. Ketika nilai-nilai yang presisi tadi sedikit saja berubah, maka dapat dipastikan kosmos tidak lagi stabil. Contoh sederhana, tahun lalu ada Pondok pesantren yang roboh di Sidoarjo yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa, hipotesis pertama yang bisa saya duga adalah cacatnya konstruksi ketika membangun pondasi.
Karena itu “kosmos” merupakan salah satu karya seni yang sempurna, sebab mempunyai karakter keteraturan yang sangat tepat, sehingga minim adanya kecacatan di dalamnya. Meskipun di sisi lain, ada pendapat yang menyatakan bahwa alam semesta yang kita tinggali sekarang adalah salah satu dari sekian banyak alam semesta yang kemudian dikenal dengan “Multiverse”. Istilah inilah yang menjadi implikasi Ateis bahwa Tuhan sudah digantikan oleh Multiverse.
Tuhan dan Keindahan
Di sinilah pertemuan antara estetika dan teologis. Islam memandang Tuhan sebagai al-Khaliq (Maha Pencipta), al-Musawwir (Maha Pembentuk), al-Badi’ (Maha Pencipta tanpa Contoh). Ini bukanlah predikat semata, ini melibatkan penciptaan Tuhan dengan kehendak dan keterbaruan. Memahami kosmos sebagai karya seni estetika Tuhan bukanlah upaya saya untuk meromantisasi alam, tapi usaha membaca realitas secara utuh. Usaha mentadabburi alam yang diciptakannya.
Dengan demikian, estetika kosmik bukan sekadar wahana keindahan, melainkan jalan kontemplatif-reaktif, sebuah reaksi secara sadar kalo di balik hukum, angka, dan struktur terdapat keteraturan yang pantas direnungkan sebagai keahlian Ilahi menjadi Tuhan. Maka saya sudahi bagian ini dengan quotes yang saya comot dari satu hadits:
“Realitas Tertinggi itu adalah Keindahan yang sempurna. Dan segala bentuk keindahan: dalam wujud; tindakan; makna; dan keteraturan—dapat bernilai karena dicintai oleh-Nya.”














