Ketika Masa Depan Mencuri Hari Ini — Ada sesuatu yang ironis dari cara kita menjalani hidup. Kita menghabiskan sebagian besar waktu untuk mempersiapkan kehidupan, tetapi lupa untuk benar-benar menghidupinya. Seolah-olah kita sedang berada di ruang tunggu yang panjang, menunggu sebuah peristiwa besar yang diyakini akan mengubah segalanya. Kita berpikir bahwa kebahagiaan akan datang ketika tujuan tertentu tercapai.
Ketika pekerjaan impian didapatkan, ketika rumah berhasil dibeli, ketika anak-anak tumbuh dewasa, ketika utang lunas, atau ketika keadaan menjadi lebih ideal. Masalahnya, peristiwa besar yang kita tunggu itu sering kali tidak pernah benar-benar tiba. Atau, jika pun datang, kebahagiaan yang menyertainya hanya bertahan sebentar sebelum pikiran kita kembali berlari menuju tujuan berikutnya.
Kita menjadi manusia yang hidup di masa depan, tetapi kehilangan masa kini. Inilah salah satu kesalahan berpikir paling mendasar dalam kehidupan modern: keyakinan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang akan dimulai nanti. Padahal, kehidupan tidak pernah berlangsung di masa depan. Kehidupan selalu terjadi sekarang.
Kata “sekarang” tampaknya menjadi sesuatu yang paling sulit untuk dijalani manusia. Kita duduk bersama keluarga, tetapi pikiran kita berada di kantor. Kita sedang bekerja, tetapi membayangkan liburan. Saat liburan tiba, kita malah memikirkan pekerjaan yang menunggu. Kita berjalan di taman sambil menggenggam telepon genggam. Makan sambil menonton video. Berbicara dengan orang lain sambil diam-diam memeriksa notifikasi.
Baca juga: Ruang Ketiga: Bagaimana Imajinasi Menuntun Kita Mengambil Keputusan
Tubuh kita berada di satu tempat, tetapi pikiran kita berada di tempat lain. Akibatnya, kita tidak pernah benar-benar hadir. Mungkin itulah sebabnya begitu banyak orang merasa waktu berjalan sangat cepat. Hari Senin tiba, lalu tanpa terasa sudah hari Jumat. Tahun baru dirayakan dengan penuh semangat, lalu tiba-tiba kalender menunjukkan bulan Oktober. Semakin bertambah usia, semakin kuat pula perasaan bahwa hidup berlalu begitu saja.
Kita sering menganggap bahwa usia yang bertambah adalah penyebabnya. Sebagian memang benar. Tetapi ada alasan lain yang lebih mendasar. Kita tidak benar-benar mengalami hidup itu sendiri. Hanya merenungkannya. Kita menghabiskan terlalu banyak energi untuk memikirkan apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi, sehingga kehilangan kesempatan untuk mengalami apa yang sedang terjadi.
Padahal, kehidupan bukanlah sebuah konsep yang harus dipikirkan terus-menerus. Kehidupan adalah pengalaman yang harus dijalani. Anthony de Mello, seorang imam Yesuit sekaligus psikoterapis yang dikenal karena memadukan spiritualitas Timur dan Barat, pernah mengemukakan gagasan yang sangat menggugah dalam bukunya Rediscovering Life: Awaken to Reality.
Ia mengatakan bahwa kebanyakan manusia sebenarnya sedang tertidur. Mereka bergerak, bekerja, berbicara, dan menjalani rutinitas, tetapi tidak sungguh-sungguh sadar. Mereka hidup secara otomatis. Pernyataan ini terdengar keras, tetapi sulit untuk dibantah. Lihatlah keseharian kita. Alarm berbunyi. Kita bangun. Menyiapkan diri. Pergi bekerja. Menyelesaikan tugas. Pulang. Menonton sesuatu. Bermain media sosial. Tidur. Mengulang semuanya keesokan harinya.
Baca juga: Cermin Tanpa Wajah: Mencari Jiwa Dibalik Logika Mesin
Hari-hari bergulir seperti mesin yang bekerja tanpa henti. Tidak ada yang salah dengan rutinitas. Justru rutinitas diperlukan agar kehidupan berjalan dengan teratur. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjalani rutinitas tanpa kesadaran. Kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar hidup, atau hanya sekadar bertahan?
Anthony de Mello juga menyampaikan gagasan yang cukup menampar. Menurutnya, kebanyakan orang tidak menginginkan kesembuhan. Mereka hanya menginginkan keringanan. Kita tidak benar-benar ingin berubah. Hanya ingin rasa sakitnya berkurang. Kita mengeluhkan pekerjaan yang melelahkan, tetapi tidak berani mengubah pola hidup. Mengeluhkan hubungan yang toksik, tetapi takut mengambil keputusan. Kita mengeluhkan kecanduan terhadap media sosial, tetapi terus menggenggam telepon setiap beberapa menit sekali.
Mungkin kita tidak mencari transformasi. Kita mencari kenyamanan sementara. Ingin merasa lebih baik tanpa harus menghadapi akar persoalan. Barangkali karena perubahan yang sesungguhnya memang tidak nyaman. Menjadi sadar bukanlah proses yang menyenangkan. Kesadaran memaksa kita melihat kenyataan yang selama ini kita hindari. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar kecemasan kita lahir dari pikiran sendiri.
Kesadaran menunjukkan bahwa kita terlalu sibuk mengejar pengakuan orang lain. Menunjukkan bahwa banyak ambisi yang kita kejar sebenarnya bukan keinginan pribadi, melainkan standar yang dipinjam dari lingkungan sekitar. Kesadaran menyingkap topeng-topeng yang selama ini kita gunakan. Dan tidak semua orang siap melihat dirinya sendiri. Budaya modern juga tidak membantu.
Baca juga: Mengisi Cangkir Kehidupan: Menemukan Kekuatan dalam Perubahan Sikap
Kita hidup di zaman yang terus-menerus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat. Produktivitas dipuja. Kesibukan dianggap sebagai simbol keberhasilan. Istirahat kadang-kadang dianggap sebagai kemalasan. Kita dipaksa percaya bahwa semakin sibuk seseorang, semakin berhargalah dirinya. Padahal, kesibukan tidak selalu berarti kehidupan yang bermakna. Seseorang bisa mengisi seluruh jadwalnya dengan aktivitas, tetapi tetap merasa kosong di dalam dirinya.
Seseorang bisa memiliki karier yang gemilang, tetapi kehilangan hubungan dengan orang-orang yang dicintainya. Seseorang bisa terlihat sukses dari luar, tetapi merasa terasing dari dirinya sendiri. Kesibukan sering kali menjadi cara yang elegan untuk menghindari keheningan. Sebab dalam keheningan, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri. Dan itu tidak mudah. Tidak mudah duduk diam tanpa gangguan. Tidak mudah makan tanpa membuka telepon genggam. Tidak mudah berjalan tanpa mendengarkan sesuatu. Tidak mudah sekadar hadir.
Justru di sanalah kehidupan berada. Kehidupan tidak selalu muncul dalam momen-momen besar yang spektakuler. Kehidupan sering kali bersembunyi dalam hal-hal sederhana yang kita abaikan. Dalam secangkir kopi yang diminum perlahan. Dalam tawa kecil bersama keluarga. Dalam percakapan singkat dengan sahabat. Dalam hembusan angin sore. Dalam rasa syukur yang muncul tanpa alasan tertentu.
Sayangnya, kita terlalu sibuk menunggu kebahagiaan yang besar sehingga kehilangan kebahagiaan yang kecil. Kita berkata, “Aku akan bahagia nanti.” Padahal, “nanti” adalah kata yang sangat berbahaya. “Nanti” dapat berubah menjadi penundaan yang tidak pernah berakhir. Nanti ketika aku punya cukup uang. Nanti ketika pekerjaanku stabil. Nanti ketika semua masalah selesai.
Baca juga: Jangan Lakukan! 10 Kebiasaan Negatif Ini Bisa Merusak Masa Depan
Padahal hidup tidak pernah benar-benar bebas dari masalah. Selalu ada tantangan baru yang akan muncul. Jika kebahagiaan terus ditunda sampai semua keadaan sempurna, kita mungkin tidak akan pernah merasakannya. Karena kesempurnaan bukanlah tempat yang nyata. Kesempurnaan hanyalah ilusi yang diciptakan oleh pikiran kita. Mungkin, yang kita perlukan bukanlah hidup yang sempurna, melainkan kesadaran yang lebih utuh.
Kesadaran untuk menyadari bahwa detik ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki. Masa lalu sudah berlalu. Masa depan belum tentu tiba. Yang ada hanyalah saat ini. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi konsekuensinya sangat besar. Jika kita benar-benar memahami hal itu, cara kita menjalani hidup akan berubah. Kita akan lebih mendengarkan daripada tergesa-gesa menjawab. Kita akan lebih menghargai orang-orang di sekitar kita.
Kita akan lebih mudah bersyukur atas hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa. Kita tidak lagi hidup sebagai penonton dari kehidupan sendiri. Kita menjadi pelakunya. Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah seberapa panjang hidup yang kita miliki, melainkan seberapa sadar kita menjalaninya. Sebab hidup yang panjang belum tentu berarti hidup yang penuh. Sebaliknya, hidup yang sederhana dapat terasa sangat kaya ketika dijalani dengan kehadiran yang utuh.
Waktu akan terus bergerak. Jam tidak akan melambat demi menunggu kita. Kalender akan terus berganti. Rambut akan mulai memutih. Usia akan terus bertambah. Yang bisa kita pilih hanyalah bagaimana cara kita hadir di dalamnya. Jangan habiskan hidup dengan terus menunggu “hal berikutnya”, karena ada kemungkinan besar bahwa saat kita terus menunggunya, kehidupan yang sesungguhnya sedang berlalu di depan mata.
Dan suatu hari nanti, kita mungkin akan menoleh ke belakang dengan sebuah penyesalan yang sederhana tetapi menyakitkan: selama ini, ternyata kita tidak pernah benar-benar hidup. Kita hanya sibuk bersiap untuk hidup.















