Revolusi, Politik, dan Kekuasaan dalam Novel Animal Farm

Revolusi, Politik, dan Kekuasaan dalam Novel Animal Farm

Revolusi, Politik, dan Kekuasaan dalam Novel Animal Farm – Jika saya ditanya, rekomendasi buku apa yang layak di baca di tahun 2023, saya akan menjawab Animal Farm karya George Orwell. 

Ya, George Orwell selalu melahirkan karya-karya hebat, salah satunya Animal Farm. George Orwell adalah seorang sastrawan Inggris, yang lahir di Motihari, India, pada 25 Juni 1903. Sebagai seorang sastrawan yang lahir pada era perang dunia I dan II. Hal ini membuat dia sangat paham bagaimana rumitnya kehidupan saat itu, sehingga ia melahirkan karya-karya hebat yang mengarah kepada perang, revolusi, politik, hingga kekuasaan.

Belakangan ini saya membaca karya hebat beliau, yaitu Animal Farm. Sebuah novel yang terbit pada 17 Agustus 1945, pas banget pada saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Karya beliau tentu berbahasa Inggris, tetapi saya membaca karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yang diterjemahkan oleh Prof. Bakdi Soemanto. 

George Orwell membeberkan isu revolusi, politik, dan kekuasaan di novel Animal Farm. Namun, yang uniknya adalah, beliau menjadikan hewan sebagai simbolisasinya. Ya benar, beberapa hewanlah yang menjadi tokoh utama di dalam novelnya tersebut. Ada si Major (babi tua yang bijaksana), ada Boxer dan Clover (dua ekor kuda penarik kereta yang kuat), Napoleon (Babi hitam pemalas), Snowball (Babi putih yang cerdas dan terstruktur), dan masih banyak yang lain.

Diceritakan di sebuah peternakan Manor yang dimiliki oleh Pak Jones, hiduplah semua binatang-binatang ternak di sana. Suatu ketika, Major melakukan pidato kepada binatang lain dengan sangat lugas dan bijaksana. Berikut salah satu isi pidatonya: 

“Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji. Tak seekor binatang pun di Inggris tahu arti hidup bahagia atau waktu senggang sesudah ia berusia satu tahun. Tidak ada satu ekor binatang pun di Inggris ini yang bebas. Hidup seekor binatang supersengsara dan penuh perbudakan: ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya (George, 1945: 5).”

Itulah salah satu kutipan pidato Major yang menarik menurut saya, dari pidato tersebut timbullah semangat yang berapi-rapi dari hewan-hewan yang ingin merdeka dan melakukan revolusi. 

Berdasarkan definisi, revolusi merupakan upaya untuk merobohkan, menjebol, membangun, dan memperbarui sistem lama menjadi sistem baru. Agar bisa merubah sistem tersebut, perang menjadi solusi terbaik. Para hewan di peternakan Manor, memberontak kepada Pak Jones, yang hanya memeras sumber daya dan tidak adil kepada mereka.

Seiring berjalannya waktu, hewan-hewan di peternakan Manor melakukan pemberontakan dan perang kepada Pak Jones. Sebagai seorang pemilik, beliau tentu melawan pemberontakan tersebut. Namun, ia kalah dan harus menerima bahwa hewan-hewannya berhasil melakukan revolusi. Hal yang unik adalah ketika salah satu babi, yaitu Snowball, berinisiatif untuk membuat sebuah ideologi dari revolusi “Peternakan Binatang” mereka, yang dikenal dengan Tujuh Perintah. Snowball menulis pada sebuah tembok dengan huruf-huruf besar, isinya sebagai berikut.

  1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.
  2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman.
  3. Tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian.
  4. Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang.
  5. Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol.
  6. Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain.
  7. Semua binatang setara (George, 1945: 24).

Pada akhirnya, Napoleon dan Snowball menjadi pimpinan untuk hewan-hewan di Peternakan Binatang, Napoleon seorang eksekutor dan Snowball seorang konseptor. Lalu, Major tua di mana? Beliau sudah mati lebih dahulu, sebelum revolusi terjadi. 

George Orwell sangat hebat membangun sebuah alur dan narasi yang dibentuk di Animal Farm. Kemudian, cerita terus berlanjut yang penuh polemik dan intrik. Ideologi yang mereka buat dan sama-sama sepakati, lambat laun dilanggar oleh mereka sendiri.

Melihat gaya penulisan yang dibawa oleh George Orwell, beliau menggunakan kata-kata yang berbau komunis untuk menyampaikan kritikan dan sindirannya kepada pemerintah, karena kekejaman dan kasarnya kepada pemerintah. Selain itu, George juga menggunakan istilah komunis. Contohnya saja kosa-kata comrade yang diterjemahkan menjadi kamerad, sebuah kata yang merujuk pada kata kawan, sahabat, sobat, dan rekan yang memiliki paham komunis.

Animal Farm adalah novel yang penuh ironi, menceritakan kebiadaban seorang pemimpin kepada rakyatnya, lobi-lobi politik agar bisa melakukan revolusi, huru-hara karena kemenangan yang didapat, hingga melanggar ideologi yang mereka cetuskan sendiri karena kerakusan terhadap harta, jabatan, dan kekuasaan. Novel ini merupakan karya satire untuk pemimpin negara yang otoriter. Tirani terus terjadi, meskipun sudah terjadi revolusi dan berganti pemimpin. Sebenarnya, saya tidak bisa menceritakan secara keseluruhan isi novel, takutnya menjadi spoiler dan tidak asyik lagi jika dibaca oleh teman-teman yang belum membaca Animal Farm. Meskipun karya George Orwell ini sudah tua, tetapi tetap relate dengan dunia politik saat ini. Khazanah ilmu pengetahuan teman-teman menjadi bertambah setelah membaca Animal Farm, terutama dalam hal politik, ideologi komunis, dan kapitalis.

Editor: Widya Kartikasari
Visual Designer: Al Afghani

Bagikan di:
Warga Sipil Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang Kebetulan Hobi Nulis dan Pengen Jadi Dosen.

Artikel dari Penulis