Kalau Ada Kehidupan Lain di Luar Bumi, Mengapa Kita Belum Menemukannya?

Kalau Ada Kehidupan Lain di Luar Bumi, Mengapa Kita Belum Menemukannya? — Pada 1950 Enrico Fermi makan siang di Los Alamos bersama sesama fisikawan. Obrolannya ngalor ngidul sampai ke piring terbang, semua tertawa, lalu mendadak Fermi bertanya, “Lha semuanya itu di mana?” Pertanyaan yang kelihatannya sepele, tetapi sampai hari ini belum ada yang menjawabnya dengan tuntas. Bayangkan kalian tinggal di sebuah kampung dengan seratus miliar rumah, dan kalian berdiri di teras menunggu satu saja lampu tetangga menyala. Tidak ada. Tidak ada radio, tidak ada anak kecil menangis. Padahal rumahnya begitu banyak dan kampung itu sudah berumur belasan miliar tahun.

Nah, sekarang kita lihat deretan angkanya. Galaksi kita berisi seratus sampai empat ratus miliar bintang, dan galaksi seperti ini jumlahnya ratusan miliar. Teleskop Kepler dan TESS sudah memperlihatkan bahwa planet itu barang biasa, hampir setiap bintang punya, dan sebagian planet berbatu berada pada jarak yang pas untuk air cair. Di Bumi sendiri kehidupan muncul cepat sekali, tidak lama setelah planet ini cukup dingin untuk ditinggali. Kalau di sini semudah itu, masa di tempat lain tidak? Frank Drake pada 1961 menuliskan nalar semacam ini dalam satu persamaan, dan bila angkanya diisi dengan optimis, hasilnya ribuan peradaban di galaksi kita saja. Lagi pula, peradaban yang berjalan lambat pun bisa menyebar ke seluruh galaksi dalam beberapa puluh juta tahun, yang bagi galaksi berumur lebih dari sepuluh miliar tahun hanya sekejap. Jadi sepinya langit ini bukan cuma aneh. Ia mirip tamu yang katanya pasti datang, tetapi tak kunjung mengetuk pintu.

Baca juga: Spoiler Alert: Takdir dalam Genggaman Karakter Menurut Pemikiran Aristoteles

Dari situlah Robin Hanson, seorang ekonom, pada 1996 melempar gagasan yang namanya agak seram, Great Filter, Saringan Agung. Kurang lebih begini. Antara benda mati dan peradaban yang terlihat terang dari jauh, pasti ada satu anak tangga yang amat licin, sehingga hampir semua calon peradaban terpeleset di situ. Seperti ratusan miliar benih disebar, tetapi sampai sekarang belum ada yang melihat satu pohon pun menjulang. Maka pertanyaan yang sebenarnya menentukan nasib kita ada dua. Apakah saringan itu ada, dan kalau ada, di mana letaknya? Di belakang kita, atau justru di depan kita?

Kalau di belakang, kita beruntung sekali. Bisa jadi munculnya kehidupan dari benda mati sudah merupakan peristiwa yang nyaris mustahil. Bisa jadi lompatan dari sel sederhana ke sel kompleks, yang di Bumi tampaknya hanya terjadi sekali ketika sebuah sel menelan bakteri lalu bakteri itu betah dan menjadi mitokondria, adalah kebetulan yang tidak gampang diulang. Setelah itu kita masih menunggu hampir dua miliar tahun sampai muncul hewan, dan sekitar tiga ratus ribu tahun sejak Homo sapiens ada sampai bisa membuat teleskop. Peter Ward dan Donald Brownlee menambahkan bahwa Bumi memang kebanjiran bonus, yaitu Bulan besar yang menjaga kemiringan sumbu, lempeng tektonik, Jupiter yang menyedot komet nakal, dan letak yang tidak terlalu ramai di galaksi. Kalau begitu keadaannya, kita ini bukan sekadar penghuni. Kita pemenang undian yang tidak ingat pernah membeli kupon.

Baca juga: Umat Manusia Berjalan Menuju Kepunahan

Tetapi bagaimana kalau saringan itu ada di depan? Kehidupan dan kecerdasan ternyata biasa saja, namun hampir setiap makhluk yang pandai membuat teknologi akhirnya membakar rumahnya sendiri, entah lewat senjata nuklir, rekayasa biologi yang bocor, kecerdasan buatan yang lepas kendali, atau iklim yang tak bisa dikembalikan lagi. Di titik ini Nick Bostrom mengatakan sesuatu yang terdengar aneh. Seandainya suatu hari ada yang menemukan fosil kehidupan di Mars, itu justru kabar buruk. Lha wong kalau hidup itu gampang muncul, berarti saringannya tidak di awal, dan itu artinya tinggal bagian kita yang belum diuji. Jadi mohon maaf, tidak semua penemuan itu pesta. Ada penemuan yang lebih mirip amplop hasil laboratorium yang kita belum berani membukanya.

Sekarang, supaya adil kepada ilmu, kita jujur dulu. Sampai hari ini tidak ada bukti ilmiah terverifikasi bahwa makhluk luar angkasa itu ada, apalagi bahwa mereka sudah mampir ke Bumi dan ngobrol dengan seseorang di pinggir sawah. Sinyal “Wow!” tahun 1977 tidak pernah muncul lagi. SETI sudah mendengarkan langit lebih dari enam dekade dan belum menangkap apa pun yang meyakinkan. Klaim tentang molekul penanda hayati di planet K2-18b masih diperdebatkan para ahli dan belum boleh dipegang sebagai bukti. Ilmu memang pelit begitu. Klaim besar butuh bukti besar, dan itu bukan kekejaman, melainkan cara supaya kita tidak ditipu oleh harapan kita sendiri.

Baca juga: Membumikan Filsafat sebagai Jalan hidup

Hanya saja, tidak ada bukti belum tentu berarti tidak ada. Kita baru mendengarkan sebagian kecil frekuensi, ke sebagian kecil langit, selama beberapa puluh tahun dari sejarah kosmos yang miliaran tahun. Itu kurang lebih seperti orang menimba segelas air laut, tidak menemukan paus di gelasnya, lalu menyimpulkan lautan tidak berpaus. Pada 2018 Anders Sandberg, Eric Drexler, dan Toby Ord menghitung ulang persamaan Drake dengan memasukkan ketidakpastian secara jujur, tidak dengan satu angka tebakan, dan hasilnya cukup mengejutkan. Peluang bahwa kita sendirian di galaksi ini ternyata lumayan besar. Barangkali sepi itu memang bukan paradoks. Barangkali ia hanya wajah dari ketidaktahuan kita sendiri.

Jadi ada atau tidak? Untuk kehidupan mikroba, ilmu cenderung menjawab ya, sangat mungkin, apalagi ada lautan di bawah es Europa dan Enceladus. Untuk kehidupan cerdas yang bisa membuat radio, jawabannya masih menggantung, bisa melimpah, bisa juga cuma kita. Pengambilan sampel Mars, penjelajahan bulan es, dan teleskop yang mengintip atmosfer planet jauh akan mempersempit gantungan itu dalam beberapa dekade. Saya sendiri belum tahu mana yang benar, dan sampai ada yang tahu, saya memilih menjaga rumah sendiri dulu sambil tetap menyalakan lampu teras, siapa tahu ada yang lewat.

Rujukan utama dalam esai ini adalah Fermi (1950), Drake (1961), Hanson (1996), Ward dan Brownlee (2000), Bostrom (2008), serta Sandberg, Drexler, dan Ord (2018).

Bagikan di:

Artikel dari Penulis