Biografi Suhaib bin Sinan, Seorang Pedagang yang Amat Cinta dan Setia pada Rasulullah

Biografi Suhaib bin Sinan, Seorang Pedagang yang Amat Cinta dan Setia pada Rasulullah

Seorang anak asal Persia menjadi tawanan perang bangsa Romawi. Kemerdekaannya lenyap, sebab saat ini ia telah menjadi seorang budak. Ke sana ke mari ia ditawarkan, siapa tahu ada yang mau membeli dengan harga yang pantas. Tibalah ia pada seorang bangsa Arab yang kaya sekaligus pimpinan di Makkah. Nama majikannya tersebut adalah Ibnu Jud’an. Kehadiran budak itu telah memberikan keuntungan yang besar bagi majikannya, hingga akhirnya ia dimerdekakan.

Cahaya Islam memancar di Makkah. Anak muda yang bernama Suhaib bin Sinan ini bersama kawannya Ammar bin Yasir tanpa ragu-ragu langsung memeluk Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Demi Islam, Suhaib bin Sinan rela memberikan semua harta kekayaannya kepada musyrikin Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal.

Setelah masuk Islam, Suhaib bin Sinan mengabdi dengan penuh cinta kepada Rasulullah. Perhatiannya terhadap agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad tersebut tidak ada keraguan yang dalam hatinya lagi. Dia tak pernah beranjak dari sisi Nabi dalam setiap keadaan genting. Ia merupakan belahan jiwa Rasulullah Saw. Suhaib tidak rela jika Nabi sampai terluka apalagi sampai wafat oleh perbuatan musuh. Suhaib lebih mengkhawatirkan keselamatan Nabi daripada keselamatan dirinya sendiri.

Baca juga: Momen Maulid Nabi Cocok untuk Manusia Pelupa Seperti Saya

Allah menganugerahkan kepandaian memanah dan melempar lembing kepadanya. Ternyata kepandaian memanahnya tersebut ditujukan untuk melindungi Nabi dari musuh yang setiap saat mengintai kelangahan Rasulullah.

Kaum Quraisy sepakat akan menghabisi jiwa Nabi. Akan tetapi, Allah selalu menjaga utusannya yang ditugaskan untuk menyiarkan syiar Islam. Ketika para pemuda Quraisy hendak membunuh nabi, Allah mewahyukan kepada beliau agar segera hijrah ke Madinah. Maka selamatlah Nabi dari kematian. Suhaib bin Sinan pernah berkata mengenai hubungan antara dirinya dengan Rasulullah Saw. Ia mengatakan bahwa:

“Tidak ada peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah tanpa aku mendampinginya. Tiada perjanjian yang tidak aku ketahui. Tidak ada suatu kejadian penting yang tidak kusertai bersama Nabi. Jika perang berkecamuk dengan dahsyat, saya pasti berada di kanan atau ke kiri Nabi. Tidak pernah pasukan pertempuran yang akan dikirimkan tanpa aku berada di dalamnya. Pendek kata saya berada di tengah antara Rasul dan musuhnya.”

Penjelasan Suhaib bin Sinan tersebut merupakan penandasan bahwa dirinya selalu dekat dengan Rasulullah Saw. Nabi tidak akan berangkat ke medan perang atau ke tempat perjanjian tanpa disertai oleh Suhaib bin Sinan. Jika nabi harus berhadapan dengan bahaya, Suhaib bin Sinan akan langsung meloncat ke depan untuk melindunginya. Kalau bahaya berada di belakang Nabi, segera ia berbalik ke belakang untuk mempertahankan dan melindungi jiwa Rasulullah Saw.

Baca juga: Indikator Manusia Terbaik dalam Al-Qur’an dan Hadits

Suhaib ikut mengontribusikan seluruh pengetahuan dan tenaga yang dimiliknya kurang lebih selama 50 tahun. Api yang dinyalakan untuk penerangan dan kibarnya panji Islam cukup lama. Lembaran sejarah Islam menuliskan langkah kehidupannya dengan tinta emas.

Menurut riwayat dan penuturan para ahli sejarah, Suhaib bin Sinan wafat pada tahun ke-38 Hijrah. Tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Ali r.a. Jasadnya tersenyum penuh kebahagiaan. Pintu-pintu surga dibukakan untuk menyambut kedatangan Suhaib yang mulia. Wangi semerbak dari perkampungan surga menerpa kelembutan hati sahabat yang satu ini.

Hari-hari terakhir Suhaib bin Sinan dipenuhi dengan keindahan, kecakapan, keahlian, dan keberanian. Semua kesempurnaan seakan-akan menyatu dalam tubuh Suhaib bin Sinan untuk membuktikan bahwa ia benar-benar seorang muslim yang taat serta patuh kepada kitab Allah, Al Qur’an juga kepada Hadits Rasul-Nya, Muhammad Saw. Selamat jalan wahai pahlawan Islam yang setia dan cintanya ditujukan kepada Rasulullah SAW. Melebihi pada dirinya sendiri. Sosok pahlawan Islam yang patut kita teladani kecintaannya pada Rasulullah secara murni dan penuh keikhlasan. Semoga di bulan yang penuh berkah ini kita bisa meneladani sifat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya seperti kecintaan seorang Suhaib bin Sinan.

Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Halo, kenalkan namaku Evi Umi Azizah, aku berasal dari Kota Blitar. Saat ini, aku sedang melanjutkan studi di Universitas Nahdlatul Ulama Blitar jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Kenalan lebih dekat yuk, dengan mengunjungi akun twitter di @azizah1_evi dan akun instagramku di @eviaziizah.

Artikel dari Penulis