Biografi Elizabeth Barrett Browning, Penyair Wanita dari Inggris

Biografi Elizabeth Barrett Browning, Penyair Wanita dari Inggris – Elizabeth Barrett Browning adalah seorang penyair dari Inggris pada masa Victoria. Di antara penyair wanita yang jarang disorot, penyair yang lahir pada 6 Maret 1806 ini berhasil mendapatkan reputasi yang cukup tersohor atas karyanya.

Masa Kecil

Lahir di County Durham sebagai anak sulung dari 11 bersaudara, Elizabeth Barrett sudah mulai menulis puisi sejak usia 11 tahun. Ketertarikannya akan puisi ini dipengaruhi oleh koleksi karya sastra sang ibunda dan didukung oleh lingkungan masa kecil dan keluarga yang cukup berada. Selain ibunya yang cukup berpendidikan, ayah Browning, Edward Barrett Moulton adalah seorang pemilik perkebunan gula di Jamaika dan estate di daerah Herefordshire, dekat dengan tempat keluarga Barrett tinggal, yaitu Bukit Malvern. Ketika ia baru berusia 14 tahun, ayahnya telah membantu menerbitkan tulisan Elizabeth yang berjudul The Battle of Marathon untuk dibagikan pada keluarga dan relasi dan disimpan oleh ibunya. Sebagai anak pertama, Ba–nama panggilan Browning–mengemban cukup banyak tanggung jawab selain bersekolah. Ia harus mengurus kuda poninya, menemani saudara dan saudarinya berjalan-jalan, mengunjungi sanak keluarga atau kenalan orang tuanya di desa lain, menyambut tamu, dan banyak lagi. Elizabeth pun tumbuh menjadi perempuan yang cerdas dan beretiket tinggi.

Berkarya Sembari Melawan Penyakit

Sayangnya, sosok tangguh Elizabeth muda jatuh karena penyakit misterius yang menyebabkan rasa sakit yang hebat pada kepala dan punggung untuk sepanjang hidupnya sejak ia menginjak usia 15 tahun. Beberapa tahun kemudian, Elizabeth juga mengidap penyakit paru-paru, kemungkinan tuberkulosis. Di tengah sakitnya, ia akhirnya menerbitkan kumpulan puisi pertamanya yang berjudul An Essay on Mind with Other Poems (1826). Sayangnya, tak berhenti di kondisi tubuhnya yang kian melemah, dua saudara laki-laki Elizabeth meninggal pada tahun 1840. Hal ini pun mendorong Elizabeth jatuh dalam depresi berat.

Namun, kehidupan Elizabeth tidak berhenti di situ. Pada tahun 1832, keluarga Barrett pindah dari pedesaan Malvern ke Devon dan berpindah lagi untuk akhirnya menetap di London pada tahun 1838. Di London, Elizabeth banyak berkontribusi untuk berbagai majalah. Pada tahun 1840-an, ia diperkenalkan oleh sepupunya John Kenyon kepada komunitas sastra. Melalui komunitas ini, Elizabeth bangkit dari depresi dan berusaha melawan penyakitnya dengan kembali ke ‘rumah’-nya saat muda: buku dan menulis. Ia gencar menulis banyak karya berupa puisi, terjemahan, dan prosa di antara tahun 1840 hingga 1844. Di sela-sela kesibukan menulis, Elizabeth juga aktif dalam kampanye anti perbudakan dan menggunakan karyanya untuk menyuarakan isu pekerja anak, salah satunya berjudul “The Cry of the Children” dan “The Runaway Slave at Pilgrim’s Point“. Karya-karyanya yang berani dan menggugah ini membuat reputasi sang penyair meroket di antara kalangan sastrawan yang didominasi oleh pria.

Baca juga: Biografi William Shakespeare, Penulis Asal Inggris Paling Terkenal Sepanjang Sejarah

Pada tahun 1844, Elizabeth menerbitkan antologi puisinya yang kedua, berjudul Poems. Buku kedua ini sukses besar,  dan menarik perhatian seorang penulis bernama Robert Browning. Bermula pada Januari 1845, Browning mulai mengirimi Elizabeth surat yang berisikan kekagumannya terhadap larik-larik yang ditulis Elizabeth. Keduanya pun lanjut berkorespondensi sepanjang musim dingin dan semi.

Romansa

Di awal musim panas, Robert dan Elizabeth akhirnya dipertemukan oleh John Kenyon. Manis dan penuh rayuan di antara surat-surat mereka, romansa Elizabeth dan Robert sayangnya dirahasiakan rapat-rapat terutama dari ayah Elizabeth, karena beliau tidak akan menyetujui hubungan Elizabeth dengan seorang laki-laki yang berusia enam tahun lebih muda darinya. Meskipun begitu, Elizabeth dan Robert tetap melangkah ke pelaminan pada tanggal 12 September 1846. Ketika ayahnya mengetahui tentang pernikahan ini, Elizabeth segera dicoret dari daftar pewaris. Lika-liku hubungan ini menginspirasi banyak soneta dalam antologi Soneta From the Portuguese yang terbit pada tahun 1850 dan salah satu karyanya yang paling terkenal, Sonnet 43. Soneta andalan para kekasih ini diawali dengan kalimat yang kini sering dikutip, “How do I love Thee? Let me count the ways.” dan dilanjutkan dengan baris-baris berisi betapa besarnya cinta seseorang pada sang kekasih.

Setelah drama keluarga dan pernikahan, pasangan Browning pindah ke Italia pada tahun 1846, di mana Elizabeth menghabiskan sisa hidupnya. Tiga tahun kemudian, pasangan Browning dikaruniai seorang anak laki-laki yang dinamai Robert Wiedemann Barrett, yang nantinya tumbuh menjadi seorang seniman yang amat berdedikasi hingga merusak penglihatannya sendiri.

Kehidupan Akhir

Meski tak bisa dipungkiri bahwa karya Elizabeth belakangan semakin banyak bernuansa romansa, ia masih menulis karya-karya reflektif berkisar topik filosofis, feminisme, dan politik. Pada tahun 1856 contohnnya, Elizabeth menerbitkan sebuah puisi naratif panjang berjudul ‘Aurora Leigh’ yang menggambarkan kisah hidup wanita dan banyak mencerminkan isu-isu yang dihadapi Elizabeth sebagai seorang wanita serta wanita pada umumnya.

Pada tahun 1860, kesehatan Elizabeth memburuk. Penyakit yang dideritanya sejak usia 15 tahun kian menggerogoti tubuhnya. Ia pun akhirnya meninggal pada 29 Juni 1961 di pelukan suaminya, Robert.

Dengan bergantinya era Victoria dan Romantis, karya-karya Elizabeth sudah tidak lagi memenuhi tren sastra di masyarakat. Namun, karya-karyanya terus mempengaruhi banyak penulis-penulis besar di masa berikutnya, termasuk para penyair Amerika seperti Edgar Allan Poe dan Emily Dickinson. Hingga kini, Elizabeth Barrett Browning adalah salah satu nama paling tenar dalam daftar penyair wanita Inggris.

Illustrator: Umi Kulzum Pratiwi Nora Putri

Pembaca akut yang masih belajar menulis sementara berkutat dengan Shakespeare dan kawan-kawan di kampus. Goodreads: usagii.

Artikel dari Penulis