Menilik Timnas Indonesia pada Gelaran AFF 2020: Juara Enggan Kalah Tak Mau

Menilik Timnas Indonesia pada Gelaran AFF 2020: Juara Enggan Kalah Tak Mau – Perhelatan event sepak bola terbesar se-Asia Tenggara digelar kembali di tahun ini. Yang sebenarnya adalah edisi dari seri 2020 yang diundur tahun ini karena pandemi. 

Ya, AFF (Asean Football Federation) secara rutin menggelar event sepak bola se-Asia Tenggara ini tiap 2 tahun sekali. saya kira tak ada kompetisi zona sub kontinental yang lebih ramai, seru, dan fenomenal ketimbang AFF Cup. Meski di Asia Timur terdapat Jepang dan Korea Selatan yang kerap kali jadi langganan Piala Dunia. Atau, di Asia Tengah terdapat sepak bola Arab yang majunya bukan terkira. Saya kira AFF tetap jadi yang paling seru buat diikuti. 

Menyoal prestasi pada gelaran AFF, Selayaknya gelar Raja tanpa Mahkota adalah benar adanya. Lah wong 5 kali masuk final, 5 kali pula kita hanya mancep di runner up. Gagal juara. 

Dari era pelatih lokal sampai pakai pelatih impor, dari Benny Dollo hingga Luis Milla, tak ayal belum juga membuat timnas senior berprestasi dan berbicara lebih pada piala AFF. 

Meski sejujurnya, negara dengan 270 juta penduduk ini sudah sepatutnya tidak lagi menargetkan juara yang hanya sebatas pada regional tingkat Asean saja. Hal tersebut sebenarnya terlalu usang dan ecek-ecek. Sudah saatnya kita menatap Piala Asia atau bahkan Piala Dunia. 

Sebagai perbandingan, mari kita tengok tim nasional negara Asean lainnya. Kita jauh tertinggal dari Thailand, Vietnam, bahkan tetangga serumpun kita Malaysia. 

Setidaknya, ketiga negara tersebut jadi langganan kompetisi Asia di banyak jenjang usia. Ambil contoh, Piala Asia 2023 yang akan diselenggarakan di China.  Ketiga negara yang saya sebutkan tadi, sudah tercatat lolos dalam kualifikasi utama. 

Lantas bagaimana dengan timnas kita? Alih-alih ikut kualifikasi, justru malah harus ikut playoff kualifikasi. Sudah kualifikasi masih di kualifikasikan juga. Kualifikasinya kualifikasi, mbulet ora umum

Hanya ada 4 tim yang bermain di playoff kualifikasi Piala Asia. 4 tim tersebut adalah mereka yang mendapatkan poin paling rendah selama kualifikasi Piala Dunia 2022 berlangsung. Dan Indonesia, negara kita tercinta, dengan sedih saya sampaikan bahwa harus menjadi salah satu dari 4 negara terburuk bersama dengan Chinese Taipei, Kamboja, dan Guam. Bukan main. 

Hal lain yang tak kalah miris adalah soal peringkat FIFA. Negara kita per hari ini berada di urutan ke-166 dunia. Se-Asean, kita bertengger di posisi 7. Jauh di bawah Thailand apalagi Vietnam. Kita hanya di atas Kamboja, Laos, Brunei, dan Timor Leste. Jangan tanya soal ranking kita di Asia. Njebluk memalukan. 

Kembali pada AFF di edisi 2020, timnas kita berada satu grup dengan Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Hanya juara dan runner up grup saja yang akan lolos ke fase selanjutnya. 

Bermodalkan pemain pilihan yang beberapa di antaranya bermain di luar negeri, beserta juru taktik yang dinahkodai oleh Shin Tae Yong, eks pelatih Korsel di Piala Dunia 2018. Harusnya timnas kita mampu berbicara banyak, ya paling tidak mencapai final. Syukur-syukur juara. Secara persiapan timnas kita lebih baik, ditambah dengan dilaksanakannya training center di Turki beberapa waktu lalu.  

Namun, benar seenteng itu? Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa timnas kita tidak pernah sekalipun menyabet juara di pagelaran AFF tingkat senior? 

Kalau ditanya Siapa yang kudu bertanggung jawab, maka jelas federasi harus jadi garda paling depan dalam pembangunan sepakbola nasional. Termasuk di antaranya prestasi tim nasional kita. Yang kalau bicara soal antusias suporter, saya yakin kita sudah jadi yang paling top, bahkan di antara suporter negara lain. 

Semangat tersebut setidaknya masihlah membara meski tim nasional kita nihil akan prestasi. Ambil contoh, apabila ada gelaran voting virtual dilaksanakan secara terbuka, maka hampir dipastikan pemenangnya adalah yang ada embel-embel Indonesianya. The power of netizen, ngab

Seperti yang dirilis AFC beberapa waktu lalu, yang membuat voting terbuka berjudul AFC International Player of The Week. Yang mana, voting tersebut tertuju pada pemain Asia yang saat ini berkiprah untuk klub di luar negaranya masing-masing. Untuk pertama kalinya, Indonesia memiliki wakil pada voting tersebut. Yakni Egy Maulana Vikri, yang saat ini tengah memperkuat tim kasta tertinggi liga Slovakia, FK Senica. 

Melawan kandidat lain dari berbagai negara top Asia seperti Takehiro Tomiyasu (Jepang), Musa Al Tamaari (Jordan), dan beberapa nominasi pemain terbaik lainnya, Mas Egy berhasil meraih nilai telak dengan 97,1% menang geden. Urusan online, netizen kita masih nomor wahid ketimbang negara lain di belahan dunia manapun. 

Lantas, hanya sebatas itukah? 

Prestasi nyata timnas sesungguhnya sebatas ekspektasi yang tak kunjung direalisasi. Revolusi federasi sudah berkali-kali digaungkan, namun di esok dengan mudah dilupakan. 

Jangankan prestasi timnas, mengurus hal yang paling fundamental seperti kompetisi lokal saja kadang masih angin-anginan. Mafia dan jual beli skor kerapkali menguap ke permukaan media kita. 

Mbak Nana bersama Narasi Tv yang tiap tahunnya menggelar diskusi hingga berjilid-jilid pun tak cukup kuat untuk mengetuk hati pimpinan federasi. Alih-alih melakukan evaluasi, justru melapor balik acara tersebut dengan dalih pencemaran nama baik. 

Tak ubahnya jadi federasi rasa parlemen. Strukturalnya saat ini banyak diisi oleh pejabat politisi. Yang kalau prestasi, mukanya akan dipampang lebih gede ketimbang atletnya. Dari petinggi hingga exco sama saja. 

Yang barangkali federasi ini digunakan sebagai loncatan dalam meraup dukungan suara bila kelak nyalon jadi pemimpin daerah. Memanfaatkan dengan betul spirit bola yang sangat menggelora dari masyarakat kita. 

Lumayan, setelah dari federasi bisa buat nyalon lurah, camat, bupati, atau bahkan gubernur. Oleh karenanya tak aneh bila sepak bola kita, utamanya timnas dikelola dengan standar jual beli. Duit meluncur deras dari banyak sumber, mulai sponsor liga, hak siar pertandingan, dan tentu saja pemasok terbesarnya dari tiket suporter. Tak lebih, sebatas pada mental bakulan

Untaian janji juara sudah berkali-kali bergema di media massa. Target demi target di paparkan, namun tak ada satupun yang berbuah manis. Menariknya, statement dari pelatih Shin Tae Yong pada pagelaran ini lebih realistis dan dapat diterima oleh nurani saya sebagai pecinta sepak bola nasional. 

“Disini sekarang, saya tidak bisa berjanji bahwa kita akan memenangkan piala AFF. Tetapi jika kita melakukan yang terbaik di setiap pertandingan demi pertandingan, saya percaya hasil yang baik akan membantu jalan kita. Itulah yang bisa saya janjikan untuk Indonesia”, ujar pelatih berusia 52 tahun tersebut. 

Demi apapun, hal tersebut tetaplah masuk akal. Meski pahit untuk diterima. Bahwa di hari ini, timnas kita masih kalang kabut sekalipun untuk bertaruh di tingkat Asean. 

Semoga kedepannya lebih baik. Tetap dukung tim nasional kita. Semangat menolak menyerah. AFF 2020, optimis juara!

Seorang wibu yang paripurna. Sedikit gerak, banyak ngayalnya.

Artikel dari Penulis