Jangan Ngeyel, Ini yang Bisa Kita Pelajari dari Kecerobohan Mengikuti Challenge Add Yours

Jangan Ngeyel, Ini yang Bisa Kita Pelajari dari Kecerobohan Mengikuti Challenge Add Yours – Masih segar diingatan kita, bahwa dunia per-Instagram-an beberapa waktu lalu, sempat geger. Itu karena salah satu pengguna Instagram mengalami kejahatan berbasis rekayasa sosial (social engineering crime) setelah ia mengikuti challenge add yours

Alih-alih menyalahkan korban karena kecerobohannya, sebagai warga negara +62 yang sebenarnya enggak bijak-bijak banget, alangkah baiknya: mari kita bersepakat untuk memetik hikmahnya saja. Jangan menambah lagi beban psikologisnya. 

Masa orang udah jatuh, mau ditimpa lagi pake tangga? Enggak sekalian aja abis itu dia kejatuhan genteng/asbes, terus dibawa ke rumah sakit, eh pihak rumah sakitnya malah enggak nerima pasien BPJS. “Walah. Asu tenan,” tutur korban mungkin. 

Kerugian materiil yang dialami korban dalam kasus ini, ditaksir sampai 35 juta rupiah. Kabar ini awalnya muncul dari akun Twitter (23/11/2021) bernama @ditamoechtar_. Narasi dalam cuitan tersebut tertulis bahwa penipu memanfaatkan rasa percaya korban. Mengaku sebagai kerabat dekatnya (menghubungi korban dengan panggilan akrab: “Pim”), dan pada akhirnya, meminta sejumlah uang untuk alasan tertentu.

Kejahatan dengan seperti cara ini bukanlah hal baru. Sudah banyak orang yang mengalami hal serupa. Hanya saja, ada masing-masing strategi yang digunakan oleh penipu terhadap korbannya, yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman (misal: SMS, mengaku sebagai otoritas dari instansi/lembaga tertentu untuk meminta data pribadi, atau mengiming-imingi korban dengan hadiah tertentu, dll). 

Persoalannya, mengapa kejahatan ini (masih) sering terjadi dan memakan korban? Yo Ndak Tau Kok Tanya Saya (YNTKTS).

Baca juga: Ngerinya Media Sosial Hari ini!

Kalo kata Duanaiko, dkk. dalam risetnya loh, ya. Rasa percaya korban itu menjadi salah satu faktor kunci di balik kesuksesan penipuan berbasis rekayasa sosial. Para penipu, sebelum melancarkan aksinya, akan banyak menghabiskan waktu untuk membangun hubungan dengan korban, guna mendapatkan kepercayaan yang diharapkan. Setelah kepercayaan itu didapatkan, penipu akan sangat mudah melancarkan aksi kejahatannya.

Jadi, kalau saya tafsirkan dengan bahasa sehari-hari, antara kasus di atas dengan analisis Duanaiko, dkk., “Wis, pokok’e tenang aja. Masa kamu ora percaya denganku? Aku enggak akan macem-macem sama kamu/data pribadimu. Apalagi ninggalin kamu secara tiba-tiba.” 

Hematnya, selagi kita masih gampang percaya dengan orang lain, apalagi sama orang yang baru kenal sehari dua hari, tapi udah ngajak pacaran, kejahatan ini bisa semakin tumbuh subur, selain ditopang oleh perangkat teknologi-informasi-komunikasi (information and communications technology/ICT) yang canggih, juga akal bulus (para penipu) untuk mencari fulus (uang).

Akan tetapi, sebelum rasa percaya itu terbangun, bukankah ada kalanya kita merasa khawatir dan curiga terhadap tindak-tanduk (interaksi) orang yang tidak kita kenal (penipu)? Secara normatif, mungkin iya. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa penipu akan selalu punya 1001 cara untuk mencaplok mangsanya. 

Apalagi perkembangan ICT yang serba cepat seperti sekarang. Ia akan mempersiapkan rencana yang begitu matang, sebelum mengeksekusi rencana tersebut. Ia juga akan mencari cara supaya jejaknya tidak mudah dideteksi. Kalau dianalogikan: kaya nangkep belut di sawahlah pokoknya—licin-licin gimana gitu.

Oke, kembali ke topik utama. Untuk menjawab pertanyaan tentang rasa khawatir dan curiga yang muncul saat kita berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal (penipu), saya jadi teringat pada ucapan Kevin Mitnick, Konsultan Keamanan Komputer asal Amerika, bahwa penipu selalu mengantisipasi kecurigaan dan kekhawatiran, juga memiliki strategi tersendiri untuk mengubah “ketidakpercayaan” menjadi “kepercayaan”. 

Penipu selalu merencanakan serangannya seperti halnya permainan catur—mengantisipasi pertanyaan yang mungkin diajukan oleh targetnya (korban), sehingga dia (penipu) bisa siap menjawab dengan jawaban yang tepat. 

Jadi, kalau kata Mitnik, rasa khawatir dan curiga saja tidak cukup. Diperlukan fondasi dasar yang kokoh untuk menangkal kejahatan tersebut bagi setiap pengguna platform digital. Dan fondasi dasar yang saya maksud, adalah sikap mawas diri. 

Maksud sikap wawas diri di sini, kita harus menanamkan sikap waspada dan selalu menyadari bahwa penipu, di mana pun dan kapan pun, akan selalu mengintai kita, karena ia ingin mendapatkan mangsa selanjutnya. 

Bisa saja pengguna platform digital lain, yang selama ini tidak kita kenal, tetapi ia mengikuti akun media sosial kita adalah orang yang selama ini melakukan penggalian data (data mining) tanpa pernah kita sadari sebelumnya. 

Ketika kita lengah (menyebar data pribadi secara tidak sadar), penipu akan mengumpulkan kepingan-kepingan tersebut. Lalu, setelahnya ia akan menganalisis dan menarik kesimpulan serta menetapkan strategi yang akan digunakan. Dan terakhir, ialah proses eksekusi.

Kalau sudah begitu, siapa bisa menjamin, kalau hal ini sebenarnya hanyalah ilusi atau ketakutan yang berlebihan semata? Toh kalau dipikir-pikir, bukankah pola dan substansi dari persiapan-pelaksanaannya, cukup logis?

Sekali lagi, fondasi dasar ini (sikap mawas diri) cukup krusial sekaligus esensial karena jika pertahanan kita (baik secara digital maupun psikologis) begitu mudah dibaca dan dapat dilumpuhkan sewaktu-waktu. Wah, kalau kata penipunya: “apik tenan (bodho) wong iki. Aku wong bodho, mestine gampang banget.”

Maka, Jemaah Kapitoiyah rahimakumullah, marilah kita menanamkan sikap mawas diri dan berpikir berkali-kali jika ingin mengikuti suatu tren yang sedang berkembang di masyarakat. Terlebih jika tren tersebut berpotensi menyinggung data pribadi. 

Namun, ini bukan berarti saya melarang kalian untuk mengikuti semua tren lo, ya. Hanya saja, untuk belajar, masa kita harus jadi korban dulu? Kan kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Akan tetapi, sekiranya masih mau coba-coba—kalo pake bahasanya orang Betawi, “Serah lu dah. Udah dibilangin masih nekat aja. Dasar tambeng lu!” [*]

Editor: Widya Kartikasari
Ilustrator: Salman Al Farisi

Mahasiswa tingkat akhir yang enggak selow-selow banget sama kerjaan skripsinya. Pengasuh Toko Buku Nyala Api. Dapat ditemui melalui dunia maya (Instagram): @aanafriangga11.

Artikel dari Penulis