Jangan Bebani Seseorang dengan Ekspektasi

Jangan Bebani Seseorang dengan Ekspektasi

Apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Apa yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Fakta ini harus kita sadari mulai sejak saat ini. Kondisi perbedaan faktor internal dan faktor eksternal seseorang menciptakan karakter yang membuatnya jadi seperti saat ini.  

Seringkali kita beranggapan bahwa dengan mengungkapkan kata-kata yang dianggap positif akan membantu seseorang untuk tumbuh dan membuat dirinya lebih percaya diri. Tapi kita perlu tahu semua yang berlebihan sifatnya itu tidak baik, termasuk kata-kata yang kita anggap positif.  Jika ungkapan kata-kata yang berlebihan apalagi tidak didasarkan pada niat yang baik, penilaian yang terlalu positif bisa jadi akan menjadi beban untuk mereka yang menanggung dan menerimanya. Apa itu?  Ya itu adalah beban ekspektasi yang kita ungkapkan pada mereka. 

Saat kamu ber-ekspektasi dengan hal yang berlebihan terhadap seseorang, kamu menganggap dia bisa melalukan segalanya, dia bisa mengerjakan segala sesuatunya, kamu terlalu percaya pada apa yang kamu ungkapkan padanya. Tapi di waktu yang lain ternyata dia tidak bisa melakukan segalanya, dia tidak bisa mengerjakan segalanya, dia tidak bisa melakukan apa yang kamu ekspektasikan. Akhirnya kita pun beranggapan bahwa dia sudah mengecewakan kita. 

Contoh pernyataan penilaian positif yang berlebihan biasanya seperti ini,“Ga mungkin sih kalo kamu ga bisa”, “Masa sih lulusan universitas bikin beginian aja gak becus”, atau “kamu kan lulusan akuntansi ga mungkin kalo ngerjain jurnal ga teliti, aku yakin kamu nih pasti yang paling teliti”, saat menyebutkan kata-kata seperti itu, pernahkah kita memikirkan perasaan orang yang menerima pernyataan tersebut? Menurut kita mungkin itu adalah hal biasa, yang dianggap sebagai bentuk support kita terhadapnya, tapi di satu sisi dia juga pasti  terbebani dengan ekspektasi orang-orang tersebut. Dia merasa punya tanggung jawab terhadap ekspektasi orang-orang terlebih bila yang dibebani ekspektasi itu memiliki sifat yang enggak enakan, dia pasti akan overthinking dengan penilaian mereka terhadapnya.

Baca juga: Siapa yang Patut Disalahkan dalam Sebuah Keputusan?

Saat orang-orang kecewa terhadapnya karena ternyata penilaian tentang dia tak seperti apa yang kita pikirkan, tentu orang yang belum bisa mengendalikan dirinya akan merasa bahwa dia memang tidak pantas dan mengecewakan. Akibat dari kita berlebihan berekspektasi padanya menjadikan dirinya mengurungkan diri untuk tidak mau melanjutkan apapun di hidupnya karena memiliki perasaan inferior (rendah diri) tersebut. 

Jadi, yuk mulai stop untuk berekspektasi lebih terhadap seseorang. Jangan bebani mereka dengan pernyataan “masa sih gini aja ga bisa” atau “masa sih kamu ga bisa”, tapi ubahlah pernyataan tersebut dengan kalimat yang dapat membangunkan semangatnya, seperti “Insya Allah kamu bisa kalau kamu mau terus belajar dan enggak menyerah meski pernah salah, tapi kalau kamu ga bisa, mulai sulit dengan pekerjaanmu, jangan sungkan untuk minta bantuan yah, oke!” 

Bila menggunakan kata-kata tersebut, mungkin saja dapat membangunkan jiwanya untuk terus belajar, tidak menyerah dan saat ada kesalahan, justru akan menjadi pembelajaran untuk dia renungkan agar lebih berhati-hati dan lebih teliti dalam memulai segala sesuatu. Jika kita menganjurkan ataupun menawarkan bantuan pada mereka yang dianggap memiliki beban ekspektasi dari keluarga dan orang-orang terdekatnya, justru itu adalah bukti bahwa kita peduli padanya. Dan tidak ikut-ikutan membebankan ekspektasi kita terhadap mereka yang di bebani. 

Jadi, mulai yuk pelan-pelan kita coba ubah kata yang kita gunakan untuk bisa memberikan kebermanfaatan bagi sesama. Karena lisanmu adalah bukti cerminan dirimu. 

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Made Mirah

Bachelor of Political Sicince yang Pengen Sans aja.

Artikel dari Penulis